Kontroversi Dokter Terawan

Kompas.com - 07/04/2018, 14:23 WIB
Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto enggan menanggapi  perihal keputusan  pemberhentian sementara dari keanggotan IDI yang dikeluarkan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Persatuan Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) terhadap dirinya, Rabu (4/4/2018). KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBAKepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto enggan menanggapi perihal keputusan pemberhentian sementara dari keanggotan IDI yang dikeluarkan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Persatuan Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) terhadap dirinya, Rabu (4/4/2018).

Kesalahan memberikan informasi bahkan juga disampaikan oleh dokter yang hanya berdasarkan informasi dari "mbah Google" yang dianggap pasti benar. Akibatnya, masyarakat meneruskan informasi itu bahkan menerapkan dalam kehidupannya.

Oleh karena itulah tetap diperlukan adanya institusi yang harus siap mengingatkan agar dokter tidak merasa diri sebagai manusia setengah dewa, apalagi dengan menyeret nama pejabat. Di pihak lain, dokter jangan merasa masukan atau kritik yang disampaikan oleh sejawatnya langsung dilawan dengan cara yang tidak ilmiah dan profesional. Lambat atau cepat cara seperti ini pada akhirnya akan menjatuhkan nama baiknya sendiri.

Hal yang mutlak penting juga, dokter harus memahami bahwa apa yang dilakukan dalam prakteknya benar harus berdasarkan temuan ilmiah terkini yang diakui secara internasional, yang dikenal dengan sebut Evidence-based Medicine (EBM). Kalau tidak, maka dokter akan jatuh menjadi sekualitas dengan para penjual produk abal-abal seperti yang marak diiklankan di TV.
    
Iklan bohong

Ketika dokter tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Kedokteran terkini, maka dia akan menjadi dokter tak berkualitas, bahkan bisa menjadi dokter abal-abal. Oleh karena itulah dokter jangan terseret menjadi "Jeng Anu" atau "Jeng ahli kanker", atau yang lain seperti yang sering ditayangkan di iklan jualan TV. Siapa bilang produk abal-abal yang diiklankan itu tidak ramai pembeli? Siapa bilang tidak ada nama terkenal yang membeli produk abal-abal itu?

Masyarakat sering mengatakan "sembuh" setelah mengonsumsi produk abal-abal yang diiklankan di TV itu. Lalu masyarakat mengatakan "hebat dia", karena itu pembelinya atau pasiennya banyak. Inilah yang sering dijadikan pegangan oleh penjual abal-abal di iklan TV itu. Celakanya, ini diberlakukan juga untuk dokter. Banyak orang mengatakan, dokter itu pasiennya banyak, berarti dia hebat. Padahal masyarakat tidak benar mengerti, arti sembuh itu yang seperti apa. Bukan  berarti kalau gejalanya hilang, penyakitnya pasti sudah hilang juga.

Oleh karena itulah di dunia kedokteran sering juga obat yang sudah beredar sekian tahun, kemudian ditarik dari peredaran. Mengapa? Karena berdasarkan uji klinik fase empat, ternyata obat atau cara pengobatan itu menimbulkan akibat buruk.

Masyarakat juga tidak mengerti bahwa nomor registrasi BPOM pada kemasan produk kesehatan, bukan berarti BPOM menyetujui manfaat dan keamanannya. Karena itu banyak sekali produk herbal dan kosmetik yang kemudian ditarik dari peredaran.  

Cara terhormat dan ilmiah profesional

Menghadapi kontroversi Dr Terawan ini, tentu diperlukan cara yang terhormat dan ilmiah profesional. Kontroversi ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui pernyataan dan testimoni dukungan, walaupun menggebu-gebu melalui video sekalipun.

Pihak MKEK IDI tentu punya alasan mengapa pada akhirnya sampai mengeluarkan Surat Keputusan itu, dan ini harus kita hargai karena merupakan keputusan organisasi, bukan pribadi. Karena itu saya pikir tidak benar kalau ada yang menduga keputusan itu hanya karena alasan pribadi. Sebagai informasi, Ketua MKEK yang menandatangani Surat Keputusan itu ternyata juga seorang Spesialis Radiologi, sama dengan spesialisasi Dr Terawan.

Saya kembali pada pernyataan Promotor Dr Terawan ketika mengambil Program Doktor di Universitas Hasanudin, Prof Yusuf Irawan. Ikuti sarannya, "Harus ada uji klinik". Tentu sesuai dengan persyaratan ilmiah sebuah uji klinik.

Saya yakin sebagai seorang ilmuwan dan profesional, Dr Terawan akan dan mampu membuktikannya. Hasil uji klinik merupakan bukti ilmiah yang tak terbantahkan, walaupun kemudian harus didukung oleh uji klinik di banyak tempat lain.


Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hadiri Sidang Lanjutan John Kei, Nus Kei: Ini Kan Kepentingan Saya

Hadiri Sidang Lanjutan John Kei, Nus Kei: Ini Kan Kepentingan Saya

Megapolitan
Cegah Penyebaran Covid-19 di Kalibata City, Apartemen Tangguh Jaya Dibentuk

Cegah Penyebaran Covid-19 di Kalibata City, Apartemen Tangguh Jaya Dibentuk

Megapolitan
Pembegal Pesepeda di Jalan Latumenten Jakbar Diduga Lebih dari 2 Orang

Pembegal Pesepeda di Jalan Latumenten Jakbar Diduga Lebih dari 2 Orang

Megapolitan
Dua Pembegal Pesepeda di Jalan Latumenten Jakbar Ditangkap Polisi

Dua Pembegal Pesepeda di Jalan Latumenten Jakbar Ditangkap Polisi

Megapolitan
BP2MI Pulangkan Pekerja Migran yang Koma karena Strok dari Taiwan

BP2MI Pulangkan Pekerja Migran yang Koma karena Strok dari Taiwan

Megapolitan
Nekat Buka Selama PPKM, Kolam Renang hingga Tempat Fitnes di Kota Tangerang Ditutup

Nekat Buka Selama PPKM, Kolam Renang hingga Tempat Fitnes di Kota Tangerang Ditutup

Megapolitan
Wagub DKI Klaim Penanganan Covid-19 di Jakarta Cukup Baik sehingga Angka Kematian Turun, Ini Faktanya

Wagub DKI Klaim Penanganan Covid-19 di Jakarta Cukup Baik sehingga Angka Kematian Turun, Ini Faktanya

Megapolitan
Update Covid-19 di Kota Tangerang: Ada 72 Kasus Baru, Totalnya 5.793

Update Covid-19 di Kota Tangerang: Ada 72 Kasus Baru, Totalnya 5.793

Megapolitan
Pemprov DKI Jakarta Siapkan 6 Lokasi Baru untuk Tampung Jenazah Pasien Covid-19

Pemprov DKI Jakarta Siapkan 6 Lokasi Baru untuk Tampung Jenazah Pasien Covid-19

Megapolitan
IDI Tangsel Sebut Proses Penambahan Kapasitas Rumah Lawan Covid-19 Harus Dikebut

IDI Tangsel Sebut Proses Penambahan Kapasitas Rumah Lawan Covid-19 Harus Dikebut

Megapolitan
Kisah Penyintas Covid-19, Kehilangan Kakak hingga Puji Syukur Bisa Bernapas

Kisah Penyintas Covid-19, Kehilangan Kakak hingga Puji Syukur Bisa Bernapas

Megapolitan
UPDATE 27 Januari: Ada 1.836 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, 22.301 Pasien Masih Dirawat

UPDATE 27 Januari: Ada 1.836 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, 22.301 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
UPDATE 27 Januari: Ada 100 Kasus Baru Covid-19 di Tangsel, 2 Pasien Meninggal

UPDATE 27 Januari: Ada 100 Kasus Baru Covid-19 di Tangsel, 2 Pasien Meninggal

Megapolitan
Dinkes DKI Temukan 592 Klaster Keluarga Pascalibur Natal-Tahun Baru, 1.265 Orang Positif Covid-19

Dinkes DKI Temukan 592 Klaster Keluarga Pascalibur Natal-Tahun Baru, 1.265 Orang Positif Covid-19

Megapolitan
Alat Medis Belum Ada, Pemanfaatan RSU Pakulonan Tangsel untuk Pasien Covid-19 Molor hingga Februari

Alat Medis Belum Ada, Pemanfaatan RSU Pakulonan Tangsel untuk Pasien Covid-19 Molor hingga Februari

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X