Kompas.com - 11/04/2018, 15:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Kepala Polri Komjen Pol Syafruddin mengatakan, kasus miras oplosan yang menewaskan banyak korban, bukanlah fenomena baru.

Namun, Syafruddin menyebut metode yang digunakan para pelaku itulah yang baru.

"(Miras oplosan) ini kejahatan lama, tapi metode baru. Kejahatan ini sudah lama berada di tengah-tengah masyarakat, untuk eksperimen sana-sini, untuk uji coba, tapi metodenya baru dan sangat merugikan," ujar Syafruddin saat konferensi pers soal miras oplosan di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Rabu (11/4/2018).

Saat ditanya soal metode baru yang dimaksud, Syafruddin tak menjelaskannya. Dia meminta, semua pelaku yang terlibat dalam kasus miras oplosan itu dihukum maksimal.

Baca juga : Korban Meninggal akibat Miras Oplosan di Jabar Jadi 52 Orang

Syafruddin juga meminta jajarannya menuntaskan kasus peredaran miras oplosan ini dalam satu bulan, sebelum bulan Ramadan. Termasuk meminta jajarannya melakukan pencegahan agar kejadian itu tidak terulang.

Menurut Syafruddin, pencegahan tidak bisa hanya dilakukan Polri, tetapi juga harus melibatkan kementerian dan lembaga pemerintahan yang lainnya.

"Kalau hanya masalahnya yang diselesaikan, artinya case-nya, itu tidak akan menyelesaikan masalah, nanti bulan depan, habis Lebaran, muncul lagi. Sistemnya yang dihabisi (harus dibenahi)," kata Syafruddin.

Baca juga : Wakapolri Usulkan Kasus Miras Oplosan Dibahas dalam Sidang Kabinet

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Muhammad Iqbal menyampaikan, metode baru yang dimaksud Syafruddin yakni soal racikan miras oplosan tersebut.

"(Yang baru) racikannya itu. Tahu enggak, mereka (pelaku) masa ada pakai alkohol, metanol, spiritus, autan, sehingga itu mencampur, mereka enggak tahu efek kimia yang timbul," ucap Iqbal, saat ditemui terpisah.

Kasus miras oplosan ini telah menimbulkan puluhan korban tewas, di antaranya 31 orang meninggal di Jakarta dan Bekasi, kemudian 51 orang meninggal di wilayah hukum Polda Jawa Barat.

Kompas TV Korban meninggal akibat mengonsumsi miras oplosan menjadi 30 orang.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penggugat Yusuf Mansur Kecewa Gugatan Ditolak, Padahal Pelaku Dinilai Sudah 'Ngaku'

Penggugat Yusuf Mansur Kecewa Gugatan Ditolak, Padahal Pelaku Dinilai Sudah 'Ngaku'

Megapolitan
Pramudi Transjakarta Main HP saat Mengemudi, Pemprov DKI Diminta Tegas Sanksi Operator dan Sopir

Pramudi Transjakarta Main HP saat Mengemudi, Pemprov DKI Diminta Tegas Sanksi Operator dan Sopir

Megapolitan
Heru Budi Akan Lakukan Konsinyasi jika Ada Sengketa Lahan Sodetan Ciliwung

Heru Budi Akan Lakukan Konsinyasi jika Ada Sengketa Lahan Sodetan Ciliwung

Megapolitan
Pemkot Bekasi Imbau Perangkat Daerah dan Warga Berdonasi untuk Korban Gempa Cianjur

Pemkot Bekasi Imbau Perangkat Daerah dan Warga Berdonasi untuk Korban Gempa Cianjur

Megapolitan
Pelatih Panjat Tebing DKI Jakarta Dianiaya, Diduga Melibatkan Atlet Senior

Pelatih Panjat Tebing DKI Jakarta Dianiaya, Diduga Melibatkan Atlet Senior

Megapolitan
Macet Panjang di Jalan Ciledug akibat Banjir, Pengendara Pilih Putar Balik

Macet Panjang di Jalan Ciledug akibat Banjir, Pengendara Pilih Putar Balik

Megapolitan
Soal Tarif Sewa Kampung Susun Bayam, Heru Budi: Kalau Rp 750.000 untuk Perawatan, Silakan

Soal Tarif Sewa Kampung Susun Bayam, Heru Budi: Kalau Rp 750.000 untuk Perawatan, Silakan

Megapolitan
Berlubang dan Ambles Sebagian, Saluran di Kebayoran Baru Diperbaiki

Berlubang dan Ambles Sebagian, Saluran di Kebayoran Baru Diperbaiki

Megapolitan
Mayat Laki-laki Ditemukan Dalam Rumah di Serpong, Diduga Sudah Meninggal 3 Hari

Mayat Laki-laki Ditemukan Dalam Rumah di Serpong, Diduga Sudah Meninggal 3 Hari

Megapolitan
Transjakarta Tindak Pramudi yang Main HP Sambil Menyetir Bus hingga Oleng

Transjakarta Tindak Pramudi yang Main HP Sambil Menyetir Bus hingga Oleng

Megapolitan
Polisi Sebut Ada Pola 'Robin Hood' di Kampung Bahari, Warga Diberi Sumbangan sehingga Bantu Pengedar

Polisi Sebut Ada Pola "Robin Hood" di Kampung Bahari, Warga Diberi Sumbangan sehingga Bantu Pengedar

Megapolitan
Kasus Wanprestasi Investasi Yusuf Mansur Ditolak, Penggugat Bisa Ajukan Banding atau Gugatan Baru

Kasus Wanprestasi Investasi Yusuf Mansur Ditolak, Penggugat Bisa Ajukan Banding atau Gugatan Baru

Megapolitan
Begini Nasib Halte Transjakarta yang Dianggap Tutupi Monumen Selamat Datang..

Begini Nasib Halte Transjakarta yang Dianggap Tutupi Monumen Selamat Datang..

Megapolitan
Polemik Dana Hibah dari Pemprov, MUI DKI: Kami Enggak Ribut, Mau Dikasih Berapa Jalan..

Polemik Dana Hibah dari Pemprov, MUI DKI: Kami Enggak Ribut, Mau Dikasih Berapa Jalan..

Megapolitan
Pengelola Masjid At-Tin Sebut Massa Munajat Akbar Reuni 212 Sudah Mulai Berdatangan

Pengelola Masjid At-Tin Sebut Massa Munajat Akbar Reuni 212 Sudah Mulai Berdatangan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.