Pengacara Pastikan Eks Pilot Lion Air Group yang Ditahan Akan Bayar Penalti

Kompas.com - 23/05/2018, 23:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Wawan Ardianto, pengacara 7 orang eks pilot yang ditahan akibat dugaan pemalsuan dokumen pengunduran diri mengatakan, kliennya akan membayar penalti dari kontrak kerja bersama Lion Air Group.

“Pada prinsipnya kita bukan enggak mau membayar. Berapa angkanya belum ketemu (karena) beda-beda. Mereka ada perhitungan sendiri, ada yang Rp 300 juta (atau) Rp 400 juta, belum pasti,” kata Wawan saat dihubungi Kompas.com, Rabu (23/5/2018).

Ketujuh eks pilot tersebut yaitu BP (30), IT (47), ANR (32), AFD (31), FSF (31), OMS (35), dan GA (30) yang pernah bekerja di maskapai Wings Air selama 7-9 tahun.

Mereka belum menuntaskan kewajiban untuk membayar penalti apabila mengundurkan diri kurang dari 10 tahun kontrak kerja.

Baca juga: Diduga Palsukan Dokumen, 9 Pilot Lion Air Ditahan Polisi

“Kalau di dalam kontrak ada yang (bayar pinalti) 2x nilai kewajibannya. Karena kewajibannya dan macam-macam bagian posting waktu pendidikan, pinjaman lunak, dan ada beberapa yang nantinya diakumulasi,” katanya.

Dalam kasus pemalsuan ini, para eks pilot meminta bantuan kepada seorang pihak lain berinisial D yang kemudian dilakukan oleh karyawan Lion Air Group berinisial T untuk mengurus dokumen pengunduran mereka.

Adapun isinya berupa surat lolos butuh yang digunakan untuk bekerja di maskapai lain dan juga membayar biaya penalti apabila mundur di luar kontrak kerja.

Baca juga: Pengacara: Eks Pilot Lion yang Ditahan Korban Pemalsuan Dokumen

“Paling tepat ini diselesaikan secara musyawarah. Lion Air Group mengeluarkan angka, kalau itu dinyatakan surat yang palsu, setelah (para eks pilot) membayar (penalti), mereka mengeluarkan surat yang resmi. Sudah, clear,” tambahnya.

Selain ketujuh eks pilot tersebut, ada dua pilot lainnya APP (24) dan EEI (26) serta karyawan T (31) yang tidak ditangani oleh Wawan.

Mereka telah ditahan di Bareskrim Polri. Mereka disangkakan Pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan Surat-surat atau dokumen dengan ancaman pidana maksimal enam tahun.


Terkini Lainnya

Pengunjung Berburu Makanan Murah Hingga Pakaian di Bekasi Night Carnival

Pengunjung Berburu Makanan Murah Hingga Pakaian di Bekasi Night Carnival

Megapolitan
Buka Lapangan Kerja, Sandiaga Akan Beri Insentif Industri Perfilman

Buka Lapangan Kerja, Sandiaga Akan Beri Insentif Industri Perfilman

Regional
BPN Optimistis Elektabilitas Prabowo-Sandiaga Meningkat Pasca-Kampanye Rapat Umum

BPN Optimistis Elektabilitas Prabowo-Sandiaga Meningkat Pasca-Kampanye Rapat Umum

Nasional
Jonan Sebut Rasio Elektifikasi NTT Paling Rendah di Indonesia

Jonan Sebut Rasio Elektifikasi NTT Paling Rendah di Indonesia

Regional
Prabowo dan Sandiaga Dijadwalkan Kampanye Rapat Umum Bersama di 4 Kota

Prabowo dan Sandiaga Dijadwalkan Kampanye Rapat Umum Bersama di 4 Kota

Nasional
Terjatuh dari Kapal, ABK Ditemukan Tewas di Pelabuhan Samudera Kendari

Terjatuh dari Kapal, ABK Ditemukan Tewas di Pelabuhan Samudera Kendari

Regional
Prabowo dan Sandiaga Awali Rapat Kampanye Rapat Umum di Kota yang Berbeda

Prabowo dan Sandiaga Awali Rapat Kampanye Rapat Umum di Kota yang Berbeda

Nasional
Prabowo Akan Awali Kampanye Rapat Umum di Manado dan Makassar

Prabowo Akan Awali Kampanye Rapat Umum di Manado dan Makassar

Nasional
Pasca-banjir Bandang Jayapura, Warga Diminta Lapor Jika Cium Aroma Tak Sedap

Pasca-banjir Bandang Jayapura, Warga Diminta Lapor Jika Cium Aroma Tak Sedap

Regional
Mengamuk, Pria Ini Bacok Tiga Anggota Keluarga Mantan Istrinya

Mengamuk, Pria Ini Bacok Tiga Anggota Keluarga Mantan Istrinya

Regional
La Nyalla Ancam 'Amputasi' Kader Pemuda Pancasila Jatim yang Tak Dukung Jokowi-Ma'ruf Amin

La Nyalla Ancam "Amputasi" Kader Pemuda Pancasila Jatim yang Tak Dukung Jokowi-Ma'ruf Amin

Regional
Puting Beliung Rusak 117 Unit Bangunan di Bolaang Mongondow

Puting Beliung Rusak 117 Unit Bangunan di Bolaang Mongondow

Regional
Tahun 2020, Jokowi Akan Bangun 3.000 BLK Komunitas di Pondok Pesantren

Tahun 2020, Jokowi Akan Bangun 3.000 BLK Komunitas di Pondok Pesantren

Regional
TNBTS Minta Semua Wisatawan Patuhi Larangan Mendekat ke Kawah Bromo

TNBTS Minta Semua Wisatawan Patuhi Larangan Mendekat ke Kawah Bromo

Regional
Patung Putri Duyung Kini Pakai Kemben, Manajemen Ancol Sebut Penyesuaian Budaya

Patung Putri Duyung Kini Pakai Kemben, Manajemen Ancol Sebut Penyesuaian Budaya

Megapolitan

Close Ads X