Cerita Pemudik Pernah Berebut Tempat Duduk dan Berdiri 6 Jam di Kereta

Kompas.com - 11/06/2018, 22:49 WIB
Sejumlah  pemudik saat di dalam kereta di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Minggu (10/6/2018). Puncak arus mudik di Stasiun Pasar Senen diperkirakan jatuh pada 13 Juni 2018 atau H-2 Idul Fitri. KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELISejumlah pemudik saat di dalam kereta di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Minggu (10/6/2018). Puncak arus mudik di Stasiun Pasar Senen diperkirakan jatuh pada 13 Juni 2018 atau H-2 Idul Fitri.

JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan wajah perkeretaapian Indonesia kian dirasakan para pemudik yang kerap menggunakan kereta api untuk perjalanan menuju kampung halaman.

Tumadi, penumpang kereta api yang hendak menuju Madiun, Jawa Timur, misalnya, menilai pelayanan kereta api saat ini sudah jauh berubah. Tumadi ingat, tahun 2005, pelayanan kereta api jauh dari baik.

Soal tempat duduk misalnya, meski telah membeli tiket, itu tak memastikan Tumadi bisa duduk di kereta. Istilah "siapa cepat dia dapat" masih berlaku saat itu.

"Kalau dulu saya harus nyari tiket ke Tanah Abang, nyari tempat duduk susah banget. Kalau dulu sebelum kereta berangkat, kita enggak boleh ninggalin tempat duduk, kalau enggak ya diambil orang," ujar Tumadi saat berbincang dengan Kompas.com di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Senin (11/6/2018).

Baca juga: PT KAI Berangkatkan 24.922 Penumpang dari Stasiun Senen Hari Ini

Saat itu, kenang Tumadi, kesemrawutan terjadi juga sepanjang perjalanan. Di atas kereta banyak penjual makanan yang berjualan.

Tumadi mengatakan, sekarang kondisi sudah jauh berbeda. Setelah membeli tiket, kini Tumadi tak perlu berjibaku untuk mendapatkan tempat duduk. Tumadi hanya perlu berangkat lebih awal agar tidak terlambat karena kemacetan di Jakarta.

"Wah, dulu penjual makanan masih banyak. Tapi sekarang pelayanan sudah jauh lebih baik," ujar Tumadi.

Dani, penumpang kereta lainnya menceritakan pada tahun 2000-an, dia harus berdiri selama enam jam di dalam kereta dari Solo menuju Surabaya. Saat itu, kata Dani, pelayanan di kereta tidak terlalu baik.

Meski tempat duduk telah penuh, kereta tetap bisa dinaiki. Mau tidak mau, para penumpang harus berdiri jika ingin sampai ke tujuan.

"Dulu banyak berdiri, ya ditahankan 6 jam, bahkan sampai toilet berdirinya," ujar Dani.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

4.284 Pasien Covid-19 Tersebar di Seluruh Kecamatan di Depok, Ini Rinciannya

4.284 Pasien Covid-19 Tersebar di Seluruh Kecamatan di Depok, Ini Rinciannya

Megapolitan
4 Fakta Penangkapan Komplotan Pemalsu Surat Tes Covid-19

4 Fakta Penangkapan Komplotan Pemalsu Surat Tes Covid-19

Megapolitan
Ragam Hukuman Nyeleneh Bagi Pelanggar Protokol Kesehatan

Ragam Hukuman Nyeleneh Bagi Pelanggar Protokol Kesehatan

Megapolitan
Update: 34 Jenazah Korban Sriwijaya Air Teridentifikasi, Salah Satunya Bayi 11 Bulan

Update: 34 Jenazah Korban Sriwijaya Air Teridentifikasi, Salah Satunya Bayi 11 Bulan

Megapolitan
5 Fakta Terbaru Operasi SAR Sriwijaya Air SJ 182, Diperpanjang 3 Hari hingga 34 Korban Teridentifikasi

5 Fakta Terbaru Operasi SAR Sriwijaya Air SJ 182, Diperpanjang 3 Hari hingga 34 Korban Teridentifikasi

Megapolitan
Pengelola Gedung Tidak Kantongi Izin, Resepsi Pernikahan di Koja Dibubarkan

Pengelola Gedung Tidak Kantongi Izin, Resepsi Pernikahan di Koja Dibubarkan

Megapolitan
Update Kondisi Pandemi di Jakarta: Antre di RS Rujukan hingga Prosedur Isolasi Mandiri

Update Kondisi Pandemi di Jakarta: Antre di RS Rujukan hingga Prosedur Isolasi Mandiri

Megapolitan
Kesulitan TPU Jombang Kelola Limbah APD, Tak Diperhatikan Pemkot hingga Dibakar Mandiri

Kesulitan TPU Jombang Kelola Limbah APD, Tak Diperhatikan Pemkot hingga Dibakar Mandiri

Megapolitan
Hingga Akhir Bulan Ini, Ada Uji Emisi Gratis di Kantor Sudin Lingkungan Hidup Jakbar

Hingga Akhir Bulan Ini, Ada Uji Emisi Gratis di Kantor Sudin Lingkungan Hidup Jakbar

Megapolitan
Polisi Diminta Tangkap Pelaku Pengeroyokan Sopir Ojol di Kebayoran Lama

Polisi Diminta Tangkap Pelaku Pengeroyokan Sopir Ojol di Kebayoran Lama

Megapolitan
Dihukum Berdoa di Makam Jenazah Pasien Covid-19, Warga: Mendingan Disuruh Push Up!

Dihukum Berdoa di Makam Jenazah Pasien Covid-19, Warga: Mendingan Disuruh Push Up!

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG Selasa: Jakarta Hujan Merata Nanti Malam

Prakiraan Cuaca BMKG Selasa: Jakarta Hujan Merata Nanti Malam

Megapolitan
UPDATE: 4.284 Kasus Aktif di Depok, Terbanyak Selama Pandemi Covid-19

UPDATE: 4.284 Kasus Aktif di Depok, Terbanyak Selama Pandemi Covid-19

Megapolitan
Warga Dihukum Berdoa di Makam Khusus Covid-19, Epidemiolog: Justru Risiko Tertular

Warga Dihukum Berdoa di Makam Khusus Covid-19, Epidemiolog: Justru Risiko Tertular

Megapolitan
UPDATE Covid-19:  Muncul 46 Kasus Baru di Kota Tangerang, Total 5.214 Kasus

UPDATE Covid-19: Muncul 46 Kasus Baru di Kota Tangerang, Total 5.214 Kasus

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X