Misteri Buaya di Kali Jakarta - Kompas.com

Misteri Buaya di Kali Jakarta

Kompas.com - 02/07/2018, 09:18 WIB
Petugas gabungan melakukan upaya penangkapan buaya di Grogol, Jakarta, Jumat (29/6/2018). Pada Rabu (27/6/2018) pagi, warga setempat melihat beberapa ekor buaya berenang di gorong-gorong Kali Grogol.MAULANA MAHARDHIKA Petugas gabungan melakukan upaya penangkapan buaya di Grogol, Jakarta, Jumat (29/6/2018). Pada Rabu (27/6/2018) pagi, warga setempat melihat beberapa ekor buaya berenang di gorong-gorong Kali Grogol.


SEBAGIAN orang menyangka bahwa tidak ada lagi buaya di sungai Jakarta yang keruh dan berbau menyengat. Di luar perkiraan, ternyata buaya masih berkeliaran di sana.

Kabar ini terdengar mengerikan. Ada buaya berkeliaran di sungai Jakarta yang di sekitarnya dimukimi ribuan penduduk.

Setidaknya, keberadaan buaya dilaporkan di tiga lokasi. Dua pekan lalu, medio Juni, sebuah video amatir menunjukkan seekor buaya tampak berenang di sekitar Pondok Dayung, Jakarta Utara.

Selang beberapa hari kemudian, video amatir lain menunjukkan penampakan buaya di Kanal Banjir Timur Marunda, Jakarta Utara. Lokasinya sekitar 10 km dari Pondok Dayung. Apakah ini buaya yang sama? Tak jelas.

Beberapa hari yang lalu ada laporan ketiga. Kali ini seekor buaya terlihat di Kali Grogol.

Jadi, ada berapa buaya yang berkeliaran di kali-kali Jakarta. Betulkah ada tiga atau sebenarnya hanya 1 buaya? Video-video amatir hanya memperlihatkan satu ekor buaya. Apakah buaya-buaya yang terlihat itu adalah buaya yang sama atau berbeda?

Saya mengumpulkan data-data secara ekslusif terkait soal ini.  Saya mencari petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) alias pasukan oranye yang pertama kali melihat buaya di Kali Grogol. Saya juga bertemu dengan petugas penyelamat reptil dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Informasi yang berhasil saya himpun: memang ada tiga buaya dengan ukuran yang berbeda. Tiga buaya itu pernah terlihat di bawah Jembatan Grogol yang jaraknya hanya 1 kilometer dari Universitas Trisakti dan Tarumanegara.

Buaya terkecil berukuran 1,5 meter, sementara buaya paling besar yang ditemukan petugas KLHK berukuran panjang lebih dari 2 meter.

Sampai detik ini, belum satu pun buaya-buaya Grogol itu tertangkap. Baca juga: Upaya Pencarian Buaya di Kali Grogol Belum Membuahkan Hasil

Pernah satu kali petugas berhasil menemukan buaya itu dan hendak melempar jaring, namun ratusan warga yang menonton dari atas Jembatan kali Grogol spontan melempari buaya dengan batu. Kaburlah sang buaya!

Petugas Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Barat dan Badan Lingkungan Hidup dan Kehutanan DKI Jakarta bekerjasama dalam penangkapan buaya di Kali Grogol, Jakarta Barat pada Kamis (28/6/2018).RIMA WAHYUNINGRUM Petugas Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Barat dan Badan Lingkungan Hidup dan Kehutanan DKI Jakarta bekerjasama dalam penangkapan buaya di Kali Grogol, Jakarta Barat pada Kamis (28/6/2018).

Tiga titik temuan di Jakarta

Di banyak Jurnal Reptil internasional yang mengupas perilaku buaya, sesungguhnya hewan liar yang dikenal buas ini adalah hewan pemalu. Ia menghindari muncul di siang hari, terlebih jika banyak orang yang memerhatikannya.

Buaya lebih sering muncul di malam hari dan lebih senang berada di habitat yang sepi dari manusia.

Pakar Reptil dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amir Hamidi  menguatkan kesimpulan ini.

Ia mengatakan, buaya yang berada di 3 titik yaitu Pondok Dayung, Jakarta Utara, Grogol, Jakarta Barat, dan Kanal Banjir Timur, Marunda, adalah buaya muara (Crocodylus Porosus). Sifat buaya ini adalah menghindari keramaian.

Petugas sudah memasang dua jaring pengaman di Grogol dengan jarak antar jaring sejauh 200 meter. Tujuannya, supaya buaya-buaya itu tidak berkeliaran. Namun, tiga buaya Grogol itu tak kunjung ditemukan.

Padahal, petugas gabungan KLHK dan Pemadam Kebakaran DKI Jakarta meyakini, 3 buaya Grogol masih berada di sekitar Jembatan Stasiun Grogol.

Buaya bisa berada di dasar sungai keruh sekalipun selama 4 hari dan hanya perlu sesekali muncul ke permukaan untuk menukar oksigen lebih banyak di tubuhnya atau berjemur di bawah matahari.

Bukan pemangsa manusia, tapi

Buaya sesungguhnya bukan pemangsa manusia. Jika bertemu dengan manusia, justru buaya kabur. Begitu pula dengan reptil lain seperti biawak.

Namun jika dirinya terancam, buaya bisa menyerang. Ia akan menggigit siapa pun yang dianggapnya sebagai ancaman termasuk manusia dan membawa korbannya ke dasar perairan.

Jadi, korban buaya akan tewas karena tidak bisa  bernapas dalam air, bukan karena dimangsa buaya seperti halnya ular piton.

Beberapa kejadian di daerah menunjukkan perilaku ini, seperti yang pernah viral di Berau, Kalimantan Timur, tahun lalu.

Seseorang hilang dan baru ditemukan beberapa hari kemudian setelah jasadnya diantar buaya yang diduga membunuhnya ke daratan. Orang tersebut tewas tanpa luka cabikan binatang buas sedikit pun.

Secara eksklusif, saya bersama dengan petugas dari KLHK dan Pemadam Kebakaran DKI Jakarta turun di Jembatan Grogol menggunakan perahu karet.

Hal yang membuat adrenalin saya naik adalah saat Petugas mengatakan, “Jika nanti bertemu dengan buaya, jangan panik, percayakan pada kami. Karena jika Anda panik, justru akan membuat buaya merasa terancam dan bisa menyerang!”

Wow! 

 “Saya berdoa dan saya ikuti arahan Anda sebagai ahli!” jawab saya.

Meski begitu, saya sama sekali enggan untuk membayangkan hal itu terjadi. Penelusuran saya di Kali Grogol akan tayang dalam program AIMAN, Senin (2/7/2018) pukul 20.00 di Kompas TV.

Jalan setapak di tengah hutan mangrove di Muara Karang, Jakarta Utara.KOMPAS.COM/ARDITO RAMADHAN Jalan setapak di tengah hutan mangrove di Muara Karang, Jakarta Utara.

Punah sejak 1920

Tapi pertanyaan, dari mana Buaya ini datang? Belum terjawab.

Ada tiga kemungkinan. Pertama, buaya-buaya itu berasal dari penangkaran. Bisa saja buaya-buaya itu keluar dari penangkaran saat terjadi banjir besar di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kedua, mungkin buaya itu adalah milik seseorang yang sengaja dilepas karena karena pemiliknya tidak kuat menanggung beban makanan buaya yang semakin mahal.

Dan ketiga, mungkin mereka berasal dari habitat buaya di kawasan mangrove, Pluit dan Angke, Jakarta Utara, yang sebelumnya dianggap punah.

Jika kemungkinan ketiga ini benar, ini adalah kabar gembira bagi dunia konservasi keragaman hayati. Sebab, habitat buaya muara (Crocodylus porosus) diketahui sudah lama punah sejak 1920.

Artinya, ekosistem di Utara Jakarta yang selama puluhan tahun rusak dan tak tentu kondisinya karena limbah kota, kini mulai membaik karena ada buaya lagi di sana.

Penduduk Jakarta pada 1920 hanya sekitar 300 jiwa. Saat itu hanya terdapat industri rumahan. Jumlahnya pun sangat sedikit.

Sementara, Jakarta saat ini dihuni oleh 10 juta orang. Ada ribuan industri mulai dari rumahan, menengah, hingga besar. Semua limbah industri mengalir ke muara Jakarta. Belum lagi tambahan jumlah limbah industri yang mengalir dari belasan sungai di Bogor, Depok, Bekasi, yang total penduduknya mencapai 20 juta jiwa.

Tapi, buaya tetaplah buaya. Hewan pemalu yang bisa mengancam manusia jika terdesak.

Jawaban asal muasal  sejumlah buaya di Ibu Kota harus tuntas diketahui. Ini penting agar hewan yang dilindungi dan tidak boleh dibunuh kecuali mengancam keselamatan manusia itu bisa ditangani dengan tepat dan dilokalisasi keberadaannya.  Agar baik bagi buaya, baik pula bagi penduduk Jakarta!

Saya Aiman Witjaksono,
Salam…


Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X