Pembangunan GBK yang Sempat Ditolak Gubernur Jakarta...

Kompas.com - 10/07/2018, 09:57 WIB
Jelang diresmikan Presiden Joko Widodo, Stadion Utama GBK Senayan diguyur hujan, Minggu (14/1/2018). Arimbi Ramadhiani/Kompas.comJelang diresmikan Presiden Joko Widodo, Stadion Utama GBK Senayan diguyur hujan, Minggu (14/1/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Stadion Utama Gelora Bung Karno yang dibangun untuk Asian Games 1962 sempat menuai polemik soal lokasinya.

Dalam buku Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno (2004), Julius Pour menulis Presiden Soekarno sebenarnya berharap kompleks olahraga itu dibangun di dekat pusat kota yakni sekitar Jalan Thamrin dan daerah Menteng.

Pilihannya antara lain Bendungan Hilir, Karet, dan Pejompongan. Jakarta sendiri kala itu masih seperti kampung besar.

Belum ada jaringan jalan raya yang menghubungkan kota, pun gedung-gedung pencakar langit. Bahkan master plan kota dan land use planning pun Jakarta tak punya.

Baca juga: Riwayat Stadion Utama GBK dan Ambisi Soekarno

Gagasan membangun sports complex di kawasan Bendungan Hilir ditolak Gubernur DKI Jakarta Soemarno Sosroatmodjo. Alasannya, daerah Bendungan Hilir sudah padat penduduk.

Pembangunan di kawasan itu bisa menyebabkan dana pembangunan bengkak karena harus membebaskan tanah dan memindahkan penduduk. Soemarno menyarankan, kompleks olahraga dibangun di Rawamangun yang saat itu masih banyak lahan kosong.

Maka suatu sore pada 1959, Soekarno mengajak arsitek kenamaan kala itu, Frederik Silaban, untuk terbang dengan helikopter kepresidenan mengelilingi Jakarta.

Soekarno waktu itu menunjuk Dukuh Atas sebagai lokasi kompleks olahraga. Namun usulan ini ditentang oleh Silaban yang meyakini bakal ada kemacetan jika kompleks olahraga dibangun di Dukuh Atas.

Selain itu, Dukuh Atas yang dibelah aliran Sungai Grogol juga berpotensi banjir. "Di sana kita kan bisa membikin sebuah terowongan," kata Soekarno, yang ngotot ketika itu.

Baca juga: Kini Kompleks GBK Senayan Lebih Indah

Silaban kemudian meminta helikopter terbang lebih jauh ke selatan. Di atas Senayan, barulah terbayang sebuah kawasan olahraga yang bisa dihubungkan dengan Monas dan pusat pemerintahan di Menteng, dengan sebuah jalan lurus yang kelak dinamai Jalan Jenderal Sudirman.

Sejak tahun 1959, Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) mulai mendekati warga yang bermukim di Kampung Senayan. Senayan saat itu merupakan kampung di pinggiran Jakarta, bersebelahan dengan Kampung Petunduan, Kampung Kebun Kelapa, serta Bendungan Hilir yang juga masuk dalam lokasi pembangunan seluas kurang lebih 300 hektar.

Nama Senayan dipilih lantaran wilayahnya paling luas dan kampung ini lah yang semua permukimannya tergusur.

Atas nama kepentingan bangsa, 60.000 lebih warga berangsur-angsur merelakan tanahnya untuk kemudian direlokasi ke Tebet, Slipi, dan Ciledug.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Tangkap Spesialis Pencuri Motor yang Beraksi di Wilayah Tangsel

Polisi Tangkap Spesialis Pencuri Motor yang Beraksi di Wilayah Tangsel

Megapolitan
Kapolsek Kalideres Sebut Tidak Ada Indikasi Pilot Wings Air Dibunuh

Kapolsek Kalideres Sebut Tidak Ada Indikasi Pilot Wings Air Dibunuh

Megapolitan
Pilot Wings Air Diduga Bunuh Diri, Ini Tanggapan Lion Air Group

Pilot Wings Air Diduga Bunuh Diri, Ini Tanggapan Lion Air Group

Megapolitan
Pemprov DKI Kesulitan Kuras Saluran Air di Sunter Sebelum Penggusuran

Pemprov DKI Kesulitan Kuras Saluran Air di Sunter Sebelum Penggusuran

Megapolitan
Soal Ormas Kelola Parkir, DPRD Kota Bekasi akan Panggil Pengusaha Minimarket

Soal Ormas Kelola Parkir, DPRD Kota Bekasi akan Panggil Pengusaha Minimarket

Megapolitan
Diduga Bunuh Diri, Pilot Wings Air Ditemukan Tewas di Kamar Indekos

Diduga Bunuh Diri, Pilot Wings Air Ditemukan Tewas di Kamar Indekos

Megapolitan
10 Tahun Dagang di Sunter, Pedagang Minta Dibina Pemprov DKI

10 Tahun Dagang di Sunter, Pedagang Minta Dibina Pemprov DKI

Megapolitan
9 Bulan Ormas Kelola Parkir Minimarket, Hanya Rp 1,2 Miliar Masuk Kas Daerah

9 Bulan Ormas Kelola Parkir Minimarket, Hanya Rp 1,2 Miliar Masuk Kas Daerah

Megapolitan
Dalam Sidang, Hakim Konfirmasi Kabar Nunung Jual 4 Rumah

Dalam Sidang, Hakim Konfirmasi Kabar Nunung Jual 4 Rumah

Megapolitan
Komisi III DPRD Bekasi Nilai Salah Langkah Bapenda Tunjuk Anggota Ormas Kelola Parkir Minimarket

Komisi III DPRD Bekasi Nilai Salah Langkah Bapenda Tunjuk Anggota Ormas Kelola Parkir Minimarket

Megapolitan
Menanggung Hidup Keluarga Besar, Nunung Minta Hakim Ringankan Vonis

Menanggung Hidup Keluarga Besar, Nunung Minta Hakim Ringankan Vonis

Megapolitan
Setu Sawangan di Depok 'Menguning' Setahun Sekali, Ini Sebabnya...

Setu Sawangan di Depok "Menguning" Setahun Sekali, Ini Sebabnya...

Megapolitan
PAD Bekasi Minus Rp 1 Triliun, Pemkot akan Optimalkan Reklame dan PBB

PAD Bekasi Minus Rp 1 Triliun, Pemkot akan Optimalkan Reklame dan PBB

Megapolitan
Polisi Tembak Kaki 3 Pembobol Showroom Motor di Pamulang, Seorang Kena Bokong

Polisi Tembak Kaki 3 Pembobol Showroom Motor di Pamulang, Seorang Kena Bokong

Megapolitan
Antisipasi Kampanye Hitam Pilkades, Polresta Tangerang Turunkan Personel Khusus

Antisipasi Kampanye Hitam Pilkades, Polresta Tangerang Turunkan Personel Khusus

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X