Perubahan dan Asal Usul Nama Gelora Bung Karno

Kompas.com - 10/07/2018, 16:12 WIB
Jelang diresmikan Presiden Joko Widodo, Stadion Utama GBK Senayan diguyur hujan, Minggu (14/1/2018).Arimbi Ramadhiani/Kompas.com Jelang diresmikan Presiden Joko Widodo, Stadion Utama GBK Senayan diguyur hujan, Minggu (14/1/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada 30 September 1965 pagi, Presiden Soekarno bertandang ke Istora Senayan untuk membuka Musyawarah Besar Teknik Nasional (Mubestek). Tak ada yang menyangka peristiwa G30S/PKI yang terjadi malam harinya akan mengubah riwayat kompleks Gelora Bung Karno.

Pasca-peristiwa itu, Soeharto yang kemudian menggantikan posisi Soekarno sebagai presiden, gencar melakukan de-Soekarnoisasi atau upaya mengaburkan sosok Soekarno dalam sejarah bangsa Indonesia.

Dalam buku Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno (2004), Julius Pour menuliskan, nama sang proklamator dicopot dari kompleks olahraga kebanggaan Indonesia. Keputusan ini tertuang dalam Keppres Nomor 4 Tahun 1984 tentang Badan Pengelola Gelanggang Olahraga Senayan.

Tujuh belas tahun kemudian setelah Indonesia memasuki masa reformasi, muncul keinginan untuk mengembalikan Gelora Olahraga Senayan menjadi Gelora Bung Karno.


Baca juga: Melihat Cantiknya Trotoar Gelora Bung Karno...

Keinginan ini disampaikan secara resmi pertama kali dalam rapat dengar pendapat antara Komisi I DPR dan Menteri Sekretaris Negara Djohan Effendi pada 24 Oktober 2000. Mensesneg kala itu juga menjadi Ketua Badan Pengelola Gelora Senayan (BPGS).

Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid merespons positif usulan itu saat menghadiri HUT PDI Perjuangan ke-28 di Stadion Utama GBK pada 14 Januari 2001. Tiga hari kemudian, ia pun menerbitkan Keppres Nomor 7 Tahun 2001 yang mengembalikan nama Sang Proklamator ke kompleks olahraga itu.

“Menimbang bahwa dengan memperhatikan aspirasi yang berkembang di dalam masyarakat untuk menghormati dan mengabadikan nama Presiden Pertama Republik Indonesia sebagai penggagas dibangunnya Gelanggang Olahraga Senayan di kawasan Senayan, Jakarta, maka dipandang perlu untuk mengubah nama Gelanggang Olahraga Senayan menjadi Gelanggang Olahraga Bung Karno,” tulis Gus Dur dalam keputusannya 17 Januari 2001 silam.

Baca juga: Riwayat Stadion Utama GBK dan Ambisi Soekarno

Asal usul nama dari Menteri Agama

Pergantian nama GBK sebenarnya bukan saat itu saja. Menjelang peresmiannya pada 1962, Soekarno sebenarnya menamainya dengan Pusat Olah Raga Bung Karno, namun belakangan membatalkannya gara-gara Saifuddin Zuhri yang merupakan ayah dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Dikutip dari otobiografi KH Saifuddin Zuhri: Berangkat dari Pesantren (2013), ceritanya, saat itu Soekarno tengah membahas nama kompleks olahraga itu bersama para menteri di serambi belakang Istana. Saifuddin yang saat itu menjabat Menteri Agama, justru menyanggah usulan nama itu.

"Nama itu tidak cocok dengan sifat dan tujuan olahraga," komentar Saifuddin.

"Mengapa?" tanya Soekarno.

"Kata 'pusat' pada kalimat 'Pusat Olahraga' itu kedengarannya kok statis, tidak dinamis seperti tujuan kita menggerakkan olahraga," jawab Saifuddin.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Final Piala Indonesia, The Jakmania Padati Area Gelora Bung Karno

Final Piala Indonesia, The Jakmania Padati Area Gelora Bung Karno

Megapolitan
Kronologi Versi Pertamina, Kebakaran Truk Bukan karena Sopir Mengantuk

Kronologi Versi Pertamina, Kebakaran Truk Bukan karena Sopir Mengantuk

Megapolitan
Ini Alasan Anies Gelar Lebaran Betawi di Monas

Ini Alasan Anies Gelar Lebaran Betawi di Monas

Megapolitan
Pasca-Kebakaran Truk Pertamina, Aroma Bensin Masih Tercium di Lokasi

Pasca-Kebakaran Truk Pertamina, Aroma Bensin Masih Tercium di Lokasi

Megapolitan
Kepala Truk Pertamina yang Terbakar Selesai Dievakuasi, Gerbang Tol Rawamangun Dibuka

Kepala Truk Pertamina yang Terbakar Selesai Dievakuasi, Gerbang Tol Rawamangun Dibuka

Megapolitan
Anies, Lulung, hingga HNW Ikut Lebaran Betawi di Monas

Anies, Lulung, hingga HNW Ikut Lebaran Betawi di Monas

Megapolitan
Ada Persija Vs PSM Makassar, Ini Rekayasa Lalin hingga Kantong Parkirnya

Ada Persija Vs PSM Makassar, Ini Rekayasa Lalin hingga Kantong Parkirnya

Megapolitan
Truk Pertamina Tabrak Pembatas Tol Hingga Terbakar, Sopir Diduga Mengantuk

Truk Pertamina Tabrak Pembatas Tol Hingga Terbakar, Sopir Diduga Mengantuk

Megapolitan
Ada Evakuasi Kepala Truk Pertamina, Arus Lalin Jalan Jendral Ahmad Yani Padat

Ada Evakuasi Kepala Truk Pertamina, Arus Lalin Jalan Jendral Ahmad Yani Padat

Megapolitan
Truk Pertamina Bermuatan 32.000 Liter Terbakar Setelah Tabrak Pembatas Tol

Truk Pertamina Bermuatan 32.000 Liter Terbakar Setelah Tabrak Pembatas Tol

Megapolitan
Evakuasi Kepala Truk Pertamina yang Terbakar, Gerbang Tol Rawamangun Ditutup Sementara

Evakuasi Kepala Truk Pertamina yang Terbakar, Gerbang Tol Rawamangun Ditutup Sementara

Megapolitan
Tabrak Pembatas Jalan Tol, Bagian Kepala Truk Pertamina Jatuh ke Jalur Arteri

Tabrak Pembatas Jalan Tol, Bagian Kepala Truk Pertamina Jatuh ke Jalur Arteri

Megapolitan
Pasca-Kebakaran Truk Pertamina, Hanya 2 Lajur yang Bisa Dilalui di Lokasi

Pasca-Kebakaran Truk Pertamina, Hanya 2 Lajur yang Bisa Dilalui di Lokasi

Megapolitan
Ini Kronologi Kebakaran Truk Pertamina yang Juga Bertabrakan dengan Calya

Ini Kronologi Kebakaran Truk Pertamina yang Juga Bertabrakan dengan Calya

Megapolitan
Dalam Satu Jam, Petugas Padamkan Kebakaran Truk Pertamina yang Tabrakan dengan Calya

Dalam Satu Jam, Petugas Padamkan Kebakaran Truk Pertamina yang Tabrakan dengan Calya

Megapolitan
Close Ads X