Aa Gatot Divonis 1 Tahun Penjara karena Pernah Dihukum 19 Tahun pada Kasus Lain

Kompas.com - 12/07/2018, 19:10 WIB
Suasana sidang pembacaan putusan untuk terdakwa Gatot Brajamusti alias Aa Gatot dalam kasus kepemilikan senjata api dan satwa langka di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (12/7/2018). Gatot tidak hadir karena sakit stroke.KOMPAS.com/NURSITA SARI Suasana sidang pembacaan putusan untuk terdakwa Gatot Brajamusti alias Aa Gatot dalam kasus kepemilikan senjata api dan satwa langka di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (12/7/2018). Gatot tidak hadir karena sakit stroke.

JAKARTA, KOMPAS.com - Terdakwa Gatot Brajamusti alias Aa Gatot divonis 1 tahun penjara dalam kasus kepemilikan senjata api dan satwa langka.

Majelis hakim menjatuhkan hukuman tersebut karena mempertimbangkan hukuman lain yang juga harus dijalani mantan ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) itu.

"Sebagaimana ketentuan Pasal 12 Ayat 3 dan Ayat 4 KUHP, dapat disimpulkan bahwa lamanya pidana penjara selama waktu tertentu sekali-sekali tidak boleh melebihi 20 tahun," ujar Hakim Ketua Achmad Guntur, saat membacakan surat putusan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (12/7/2018).

Baca juga: Aa Gatot Divonis 1 Tahun Penjara atas Kepemilikan Senpi dan Satwa Langka

Guntur mengungkapkan, Gatot pernah divonis 10 tahun penjara dalam kasus penyalahgunaan narkotika oleh Pengadilan Tinggi Mataram pada Juli 2017.

Kemudian, Gatot juga divonis 9 tahun penjara dalam kasus perbuatan asusila oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 24 April 2018.

Kedua perkara itu sudah berkekuatan hukum tetap atau inkrah. "Dengan demikian, terdakwa dengan dua perkara tersebut harus menjalani pidana penjara selama 19 tahun," kata Guntur.

Pertimbangan itulah yang membuat majelis hakim memutuskan memvonis Gatot 1 tahun penjara. Majelis hakim juga mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan hukuman Gatot.

Guntur menyampaikan, hal yang memberatkan hukuman Gatot yakni karena perbuatan Gatot tidak mendukung program pemerintah dalam menjaga kelestarian dan keanekaragaman satwa agar tidak punah. Gatot juga pernah dihukum.

Baca juga: Aa Gatot Dituntut 3 Tahun Penjara atas Kepemilikan Senpi dan Satwa Langka

Sementara hal-hal yang meringankan, Gatot dinilai bersikap sopan di persidangan, merupakan tulang punggung keluarga, hingga mengakui dan menyesali perbuatannya. "Terdakwa tidak mengetahui atas perbuatannya yang dilarang undang-undang," tutur Guntur.

Gatot tidak hadir dalam sidang tersebut karena sakit stroke. Tim kuasa hukum Gatot akan menginformasikan putusan itu kepada klien mereka, sebelum memutuskan akan mengajukan banding atau tidak.


Terkini Lainnya

Boeing 737 MAX Milik Southwest Airlines Mendarat Darurat di Orlando

Boeing 737 MAX Milik Southwest Airlines Mendarat Darurat di Orlando

Internasional
Lawan Korupsi, Parpol Bisa Apa?

Lawan Korupsi, Parpol Bisa Apa?

Nasional
Wagub Sumut: Ekspor Jangan Hanya Menguntungkan Eksportir

Wagub Sumut: Ekspor Jangan Hanya Menguntungkan Eksportir

Regional
Copot Baju dan Baret, Relawan Prabowo-Sandi Beralih Dukung Jokowi

Copot Baju dan Baret, Relawan Prabowo-Sandi Beralih Dukung Jokowi

Regional
Teriakan Bocah 9 Tahun yang Lolos dari Pembunuh Calon Pendeta di OKI: Tolong Tante Diculik

Teriakan Bocah 9 Tahun yang Lolos dari Pembunuh Calon Pendeta di OKI: Tolong Tante Diculik

Regional
BMKG: Waspadai Hujan Disertai Petir dan Angin di Jaksel dan Jaktim

BMKG: Waspadai Hujan Disertai Petir dan Angin di Jaksel dan Jaktim

Megapolitan
Fadli Zon: Jokowi Merasa Difitnah, Padahal yang Lebih Banyak Dituduh Prabowo

Fadli Zon: Jokowi Merasa Difitnah, Padahal yang Lebih Banyak Dituduh Prabowo

Nasional
[POPULER INTERNASIONAL] ISIS Tembak Mati SDF | Israel Serang Hamas

[POPULER INTERNASIONAL] ISIS Tembak Mati SDF | Israel Serang Hamas

Internasional
Peneliti LSI Denny JA: Dinamika Politik hingga 'Error' Jadi Penyebab Hasil Survei Berbeda-beda

Peneliti LSI Denny JA: Dinamika Politik hingga "Error" Jadi Penyebab Hasil Survei Berbeda-beda

Nasional
Risma: Kita Harus Datang ke TPS dan Tentukan Pilihan Kita

Risma: Kita Harus Datang ke TPS dan Tentukan Pilihan Kita

Regional
Peneliti Litbang Kompas: Hasil Survei Masih dalam Rentang 'Margin of Error' Lembaga Lain

Peneliti Litbang Kompas: Hasil Survei Masih dalam Rentang "Margin of Error" Lembaga Lain

Nasional
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pembacokan Sejumlah Warga Sawah Besar

Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pembacokan Sejumlah Warga Sawah Besar

Megapolitan
Menkominfo: Sebagian Pegawai Desa Gunakan Internet untuk Main Game

Menkominfo: Sebagian Pegawai Desa Gunakan Internet untuk Main Game

Regional
Bawaslu: Pemantau Asing Bukan Hal yang Luar Biasa

Bawaslu: Pemantau Asing Bukan Hal yang Luar Biasa

Nasional
Ternyata, Ada Bungker yang Tembus ke Stasiun Tambun di Gedung Juang

Ternyata, Ada Bungker yang Tembus ke Stasiun Tambun di Gedung Juang

Megapolitan

Close Ads X