Hukuman 20 Tahun Penjara dari 3 Kasus untuk Aa Gatot...

Kompas.com - 13/07/2018, 10:09 WIB
Gatot Brajamusti saat keluar dari ruang persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2018).KOMPAS.com/IWAN SUPRIYATNA Gatot Brajamusti saat keluar dari ruang persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Gatot Brajamusti alias Aa Gatot divonis 1 tahun penjara dalam kasus kepemilikan senjata api dan satwa langka, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (12/7/2018).

Vonis itu menggenapi hukuman 20 tahun penjara yang harus dijalani Gatot. Sebab, Gatot sebelumnya telah divonis 10 tahun penjara dan 9 tahun penjara dalam dua kasus yang berbeda.

Berikut kasus-kasus yang menyeret Gatot hingga mendapat total hukuman 20 tahun penjara.

Penyalahgunaan narkotika

Pengadilan Tinggi Mataram, Nusa Tenggara Barat, menjatuhkan vonis 10 tahun penjara kepada Gatot dalam kasus penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu pada Juli 2017.

Dilansir dari Antara, vonis pada tingkat banding itu 2 tahun lebih berat dibandingkan putusan Pengadilan Negeri Mataram.

Baca juga: Aa Gatot Divonis 1 Tahun Penjara karena Pernah Dihukum 19 Tahun pada Kasus Lain

Pengadilan Negeri Mataram mulanya menjatuhkan vonis 8 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider tiga bulan kurungan kepada Gatot.

Tak terima putusan majelis hakim yang terbilang berat, Gatot mengajukan banding. Langkah yang sama juga ditempuh jaksa penuntut umum (JPU).

Gatot akhirnya mencabut banding yang diajukan, sementara jaksa tetap pada banding mereka. Proses peradilan di Pengadilan Tinggi Mataram pun berlanjut hingga majelis hakim memvonis Gatot 10 tahun penjara.

Kasus ini sudah berkekuatan hukum tetap atau inkrah.

Tindak asusila

Saat mendekam di balik jeruji besi karena kasus narkotika, Gatot harus menjalani proses peradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dia duduk di kursi pesakitan atas perbuatan asusila yang dilakukannya.

Majelis hakim menyatakan, Gatot bersalah melakukan tindak asusila. Gatot dijatuhi hukuman 9 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan, pada 24 April 2018.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa selama 9 tahun dan denda Rp 200 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayar, maka diganti pidana kurungan 6 bulan," ujar Hakim Ketua Irwan, membacakan surat putusan.

Gatot terbukti melanggar Pasal 81 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP.

Baca juga: Kasus Tindak Asusila, Aa Gatot Divonis 9 Tahun Penjara dan Denda Rp 200 Juta

Salah satu pertimbangan majelis hakim menjatuhkan putusan adalah adanya bujukan yang dilakukan Gatot terhadap CT, untuk melakukan persetubuhan. Saat itu, CT masih berusia 16 tahun.

Kasus ini juga sudah inkrah. Dari kasus narkoba dan asusila, Gatot harus menjalani total hukuman 19 tahun penjara.

Kepemilikan senpi dan satwa langka

Proses peradilan kasus kepemilikan senjata api dan satwa langka yang menjerat Gatot berbarengan dengan kasus tindak asusila yang dia lakukan. Kasus tersebut juga diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Kamis (12/7/2018) kemarin, majelis hakim menjatuhkan vonis 1 tahun penjara untuk Gatot dalam kasus kepemilikan senpi dan satwa langka. Sidang itu digelar tanpa dihadiri Gatot yang tengah sakit stroke.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa (Gatot) dengan pidana penjara selama 1 tahun," ujar Hakim Ketua Achmad Guntur.

Gatot terbukti melanggar Pasal 21 Ayat 2 Huruf A Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, karena memiliki satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Baca juga: Aa Gatot Divonis 1 Tahun Penjara atas Kepemilikan Senpi dan Satwa Langka

Selain itu, Gatot juga dinilai melanggar Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951, karena memiliki senjata api.

Tim kuasa hukum Gatot akan menginformasikan putusan tersebut kepada klien mereka, sebelum memutuskan akan mengajukan banding atau tidak.

Hukuman tidak boleh lebih dari 20 tahun penjara 

Dalam kasus kepemilikan senpi dan satwa langka, majelis hakim menjatuhkan hukuman 1 tahun penjara karena mempertimbangkan hukuman lain yang juga harus dijalani Gatot.

Hukuman lain yang dimaksud yakni vonis 10 tahun penjara dalam kasus penyalahgunaan narkotika dan vonis 9 tahun penjara dalam kasus tindak asusila.

Kedua perkara itu sudah inkrah. "Sebagaimana ketentuan Pasal 12 Ayat 3 dan Ayat 4 KUHP, dapat disimpulkan bahwa lamanya pidana penjara selama waktu tertentu, sekali-sekali tidak boleh melebihi 20 tahun," ujar Guntur.

Baca juga: Tangisan Aa Gatot yang Teringat Anak Istri Saat Bacakan Pleidoi

Majelis hakim mengikuti ketentuan pasal tersebut sehingga memutuskan memvonis Gatot 1 tahun penjara.

Dengan demikian, Gatot harus menjalani total hukuman 20 tahun penjara, jika kasus kepemilikan senpi dan satwa langka itu juga inkrah.


Terkini Lainnya

Boeing 737 MAX Milik Southwest Airlines Mendarat Darurat di Orlando

Boeing 737 MAX Milik Southwest Airlines Mendarat Darurat di Orlando

Internasional
Lawan Korupsi, Parpol Bisa Apa?

Lawan Korupsi, Parpol Bisa Apa?

Nasional
Wagub Sumut: Ekspor Jangan Hanya Menguntungkan Eksportir

Wagub Sumut: Ekspor Jangan Hanya Menguntungkan Eksportir

Regional
Copot Baju dan Baret, Relawan Prabowo-Sandi Beralih Dukung Jokowi

Copot Baju dan Baret, Relawan Prabowo-Sandi Beralih Dukung Jokowi

Regional
Teriakan Bocah 9 Tahun yang Lolos dari Pembunuh Calon Pendeta di OKI: Tolong Tante Diculik

Teriakan Bocah 9 Tahun yang Lolos dari Pembunuh Calon Pendeta di OKI: Tolong Tante Diculik

Regional
BMKG: Waspadai Hujan Disertai Petir dan Angin di Jaksel dan Jaktim

BMKG: Waspadai Hujan Disertai Petir dan Angin di Jaksel dan Jaktim

Megapolitan
Fadli Zon: Jokowi Merasa Difitnah, Padahal yang Lebih Banyak Dituduh Prabowo

Fadli Zon: Jokowi Merasa Difitnah, Padahal yang Lebih Banyak Dituduh Prabowo

Nasional
[POPULER INTERNASIONAL] ISIS Tembak Mati SDF | Israel Serang Hamas

[POPULER INTERNASIONAL] ISIS Tembak Mati SDF | Israel Serang Hamas

Internasional
Peneliti LSI Denny JA: Dinamika Politik hingga 'Error' Jadi Penyebab Hasil Survei Berbeda-beda

Peneliti LSI Denny JA: Dinamika Politik hingga "Error" Jadi Penyebab Hasil Survei Berbeda-beda

Nasional
Risma: Kita Harus Datang ke TPS dan Tentukan Pilihan Kita

Risma: Kita Harus Datang ke TPS dan Tentukan Pilihan Kita

Regional
Peneliti Litbang Kompas: Hasil Survei Masih dalam Rentang 'Margin of Error' Lembaga Lain

Peneliti Litbang Kompas: Hasil Survei Masih dalam Rentang "Margin of Error" Lembaga Lain

Nasional
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pembacokan Sejumlah Warga Sawah Besar

Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pembacokan Sejumlah Warga Sawah Besar

Megapolitan
Menkominfo: Sebagian Pegawai Desa Gunakan Internet untuk Main Game

Menkominfo: Sebagian Pegawai Desa Gunakan Internet untuk Main Game

Regional
Bawaslu: Pemantau Asing Bukan Hal yang Luar Biasa

Bawaslu: Pemantau Asing Bukan Hal yang Luar Biasa

Nasional
Ternyata, Ada Bungker yang Tembus ke Stasiun Tambun di Gedung Juang

Ternyata, Ada Bungker yang Tembus ke Stasiun Tambun di Gedung Juang

Megapolitan

Close Ads X