Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hal yang Memberatkan Vonis Pendi, Pembunuh Istri dan Anak di Tangerang

Kompas.com - 26/07/2018, 05:10 WIB
Rima Wahyuningrum,
Kurnia Sari Aziza

Tim Redaksi

TANGERANG KOTA, KOMPAS.com - Hakim Ketua Pengadilan Negeri Tangerang Gatot mengungkap hal yang memberatkan dan meringankan vonis terhadap terdakwa Muhtar Effendi alias Pendi (62) dalam sidang yang diselenggarakan pada Rabu (25/7/2018).

Terdakwa terlibat kasus pembunuhan terhadap istrinya, Emah (40) beserta dua anak tirinya, Nova (21) dan Tiara (11) di Perumahan Taman Kota 2, Priuk, Tangerang, Senin (12/2/2018).

"Pemberatan untuk terdakwa bahwa terdakwa tidak mencerminkan sikap sebagai layaknya suami dan ayah," kata Gatot.

Baca juga: Pendi, Pembunuh Istri dan Anak di Tangerang Divonis 20 Tahun Penjara

Dalam sidang pleidoi sebelumnya, Pendi disebut membunuh bukan karena niat, melainkan karena dorongan emosi. 

Dalam isi pleidoi, pisau yang digunakan Pendi adalah pisau pajangan rumah yang sebelumnya berada di gudang.

Niat penggunaan pisau tersebut bukan untuk membunuh, melainkan memberikan rasa sakit.

Baca juga: Pendi, Pembunuh Istri dan Anak di Tangerang Menangis Jalani Sidang Vonis

Namun, terjadi emosi hebat karena Emah melakukan hal di luar batas dengan meninju wajah Pendi.

"Yang bersangkutan merasa direndahkan dan tidak dihargai sebagai kepala rumah tangga. Kemudian secara spontan mengambil pisau dan menikam korban hingga tewas," ujar Gatot.

Ia mengatakan, terdakwa tetap wajib melanjutkan masa tahanan yang telah dijalani sejak Febuari dan dikurangi masa seluruhnya. 

Baca juga: Selama Sidang Pleidoi, Pendi yang Bunuh Istri dan 2 Anak Terus Menundukkan Kepala

"Keadaan yang meringankan karena belum pernah terlibat dalam hukum dan sudah lanjut usia," kata Gatot.

Sebelumnya, Pendi divonis 20 tahun penjara karena terbukti membunuh istri dan dua anak tirinya. Hakim menyatakan, Pendi terbukti bersalah melanggar Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. 

Vonis ini sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), yang menuntut Pendi dengan pidana 20 tahun penjara.

Baca juga: Pendi, Terdakwa Pembunuh Istri dan Anak di Tangerang Dituntut 20 Tahun

Dalam kasus ini, Pendi membunuh Emah lantaran tersulut emosi saat Emah memintanya untuk membayar cicilan mobil yang dibeli sang istri. 

Setelah terjadi adu argumen dan pemukulan dari istrinya, Pendi melakukan tidak kekerasan hingga menyebabkan Emah tewas. Begitu pula dilakukan kepada kedua anak tirinya yang melihat ibunya telah tewas.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Wanita yang Ditemukan Tewas di Ruko Kelapa Gading Tinggal Bersama Pacarnya

Wanita yang Ditemukan Tewas di Ruko Kelapa Gading Tinggal Bersama Pacarnya

Megapolitan
MK Sudah Terima 52 'Amicus Curiae', Hanya 14 yang Didalami

MK Sudah Terima 52 "Amicus Curiae", Hanya 14 yang Didalami

Megapolitan
Sosok Sella Korban Kebakaran Toko Bingkai di Mampang, Dikenal Bertanggung Jawab

Sosok Sella Korban Kebakaran Toko Bingkai di Mampang, Dikenal Bertanggung Jawab

Megapolitan
Wanita Hamil yang Tewas di Ruko Kelapa Gading Baru Bekerja Dua Hari

Wanita Hamil yang Tewas di Ruko Kelapa Gading Baru Bekerja Dua Hari

Megapolitan
Sebelum Toko Bingkai Saudara Frame Terbakar, Ibunda Sella Sempat Tak Beri Izin Anaknya Bekerja di Sana

Sebelum Toko Bingkai Saudara Frame Terbakar, Ibunda Sella Sempat Tak Beri Izin Anaknya Bekerja di Sana

Megapolitan
Satu Korban Kebakaran Toko Bingkai Saudara Frame adalah Warga Bogor, Baru Bekerja 5 Hari

Satu Korban Kebakaran Toko Bingkai Saudara Frame adalah Warga Bogor, Baru Bekerja 5 Hari

Megapolitan
Tabrak Trotoar di Dekat Stasiun MRT Blok A, Pengendara Motor Tewas

Tabrak Trotoar di Dekat Stasiun MRT Blok A, Pengendara Motor Tewas

Megapolitan
Suasana Ruko Tempat Tewasnya Wanita Hamil di Kelapa Gading, Kosong dan Tak Ada Garis Polisi

Suasana Ruko Tempat Tewasnya Wanita Hamil di Kelapa Gading, Kosong dan Tak Ada Garis Polisi

Megapolitan
Polisi Kantongi Identitas Diduga Pembunuh Wanita Hamil di Kelapa Gading

Polisi Kantongi Identitas Diduga Pembunuh Wanita Hamil di Kelapa Gading

Megapolitan
Pendaftaran Ditutup, Berikut Daftar 13 Bakal Calon Wali Kota Bogor dari PDIP

Pendaftaran Ditutup, Berikut Daftar 13 Bakal Calon Wali Kota Bogor dari PDIP

Megapolitan
Perempuan Diduga Hamil Ditemukan Tewas di Ruko Kelapa Gading

Perempuan Diduga Hamil Ditemukan Tewas di Ruko Kelapa Gading

Megapolitan
Mantan Wakil Wali Kota Bogor dan Sespri Iriana Jokowi Ikut Penjaringan Pilwakot Bogor Lewat PDIP

Mantan Wakil Wali Kota Bogor dan Sespri Iriana Jokowi Ikut Penjaringan Pilwakot Bogor Lewat PDIP

Megapolitan
Penjaringan Bacawalkot Bogor Ditutup, PDI-P Sebut13 Nama Calon Kembalikan Formulir

Penjaringan Bacawalkot Bogor Ditutup, PDI-P Sebut13 Nama Calon Kembalikan Formulir

Megapolitan
Rute KA Pangrango dan Tarifnya 2024

Rute KA Pangrango dan Tarifnya 2024

Megapolitan
Benyamin-Pilar Saga Akan Kembali Maju di Pilkada Tangsel

Benyamin-Pilar Saga Akan Kembali Maju di Pilkada Tangsel

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com