Saat Keunggulan KJP Plus Dipertanyakan - Kompas.com

Saat Keunggulan KJP Plus Dipertanyakan

Kompas.com - 13/09/2018, 08:15 WIB
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Bowo Irianto di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (12/9/2018).KOMPAS.com/NURSITA SARI Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Bowo Irianto di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (12/9/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjalankan program penyaluran Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus mulai tahun 2018 setelah tahun-tahun sebelumnya program itu hanya disebut KJP.

Namun, anggota DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono, mempertanyakan keunggulan atau nilai plus program tersebut. Sebab, kata Gembong, jumlah penerima KJP Plus pada 2018 justru menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

"Jadi, sebetulnya plusnya di mana? Karena program unggulan katanya. Harusnya plusnya menyempurnakan, bukan justru mengurangi dari (tahun) kemarin dapat, sekarang tidak dapat," ujar Gembong, Rabu (12/9/2018).

Gembong mengatakan, ia mengetahui ada puluhan siswa yang tidak lagi menerima KJP Plus pada 2018. Padahal, kondisi ekonomi keluarga siswa tersebut masih sama dengan tahun 2017 saat mereka menerima KJP.

"Itu jelas. Tahun kemarin dapat, tahun ini enggak dapat, status orangnya masih sama, kondisi ekonominya masih sama," kata Ketua Fraksi PDI-P DPRD DKI itu.

Baca juga: DPRD DKI: KJP Plus, Plusnya Belum Kelihatan, Jumlah Penerima Malah Turun

Jawaban Dinas Pendidikan DKI

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Bowo Irianto menyampaikan, anggaran Rp 3,975 triliun pada 2018 sebenarnya dialokasikan untuk 872.024 penerima KJP Plus. Namun, baru 805.000 siswa yang menerima KJP Plus hingga Juni lalu.

Bowo menyebut masih ada slot untuk puluhan ribu siswa yang berhak menerima KJP Plus, namun belum mendapatkannya pada semester 1 tahun ini.

"Persoalannya adalah KJP ini harus diperjuangkan, orangtua yang kemudian harus memperbarui 6 bulan sekali, melakukan pendaftaran di sekolah. Jadi, bukan sekali terima, pasti langsung seumur-umur akan terima KJP," kata Bowo.

Bowo meminta orangtua segera mendaftarkan anak-anak mereka untuk menerima KJP Plus paling lambat 19 September mendatang. Pendaftaran dilakukan di sekolah masing-masing.

"Mohon sampai 19 September, masyarakat yang masih memenuhi syarat dan belum terakomodasi, silakan datang ke sekolah karena pendaftarannya hanya satu pintu melalui sekolah," ujar Bowo.

Baca juga: Belum Terima KJP Plus, Siswa Diminta Mendaftar hingga 19 September

Bowo mengingatkan bahwa pendaftaran penerima KJP Plus dilakukan setiap enam bulan.

Syarat bagi siswa penerima KJP Plus yakni berdomisili dan memiliki kartu keluarga DKI Jakarta, terdaftar sebagai peserta didik di satuan pendidikan formal atau non-formal, memiliki surat keterangan tidak mampu (SKTM), dan terdaftar dalam basis data terpadu (BDT) dan/atau sumber data lain yang ditetapkan dengan keputusan gubernur.

Keunggulan KJP Plus

Menjawab kritik Gembong, Bowo juga menyampaikan sejumlah keunggulan program KJP Plus.

"Dari sisi kelebihannya, yang pertama itu sasarannya anak usia 6-21 tahun, yang sebelumnya adalah 7-18 tahun," ujar Bowo.

Tak hanya itu, Bowo juga menyebut anak usia sekolah yang tidak sekolah juga bisa mendapatkan KJP Plus asalkan mereka kembali bersekolah, baik di sekolah formal maupun di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).

"Bahkan, di PPDB tahun ini, kami sudah mulai jalur afirmasi untuk anak-anak usia sekolah yang tidak sekolah melalui kelurahan. Bagi mereka yang mau masuk sekolah, kami rekrut melalui jalur anak tidak sekolah," ucap dia.

Keunggulan lainnya KJP Plus, kata Bowo, yakni besaran nominal yang diterima naik dibandingkan dengan KJP. Untuk siswa SD, besaran dana yang semula Rp 210.000 naik menjadi Rp 250.000 per bulan.

Baca juga: Anak-anak Putus Sekolah di Pasar Rumput Akan Diberi KJP Plus Kejar Paket

Kemudian untuk siswa SMP, besaran semula Rp 260.000 naik menjadi Rp 300.000 per bulan. Untuk siswa SMA, naik dari Rp 375.000 menjadi Rp 420.000. Sementara untuk siswa SMK, besaran semula Rp 390.000 naik menjadi Rp 450.000.

Terakhir, peserta PKBM yang semula mendapatkan Rp 210.000 naik menjadi Rp 300.000 per bulan.


Terkini Lainnya

Lembaga Penelitian AS Klaim Temukan Bukti Korut Sembunyikan Pangkalan Rudal

Lembaga Penelitian AS Klaim Temukan Bukti Korut Sembunyikan Pangkalan Rudal

Internasional
Hadiri KTT ASEAN ke-33, Ini Agenda Presiden Jokowi di Singapura

Hadiri KTT ASEAN ke-33, Ini Agenda Presiden Jokowi di Singapura

Nasional
5 BERITA POPULER NUSANTARA: Kebebasan Nuril Terancam hingga Kisah Insiden Bianglala di Yogya

5 BERITA POPULER NUSANTARA: Kebebasan Nuril Terancam hingga Kisah Insiden Bianglala di Yogya

Regional
DKI Bangun 'Skybridge' Tanah Abang tetapi Belum Sepakati 5 Hal dengan PT KAI

DKI Bangun "Skybridge" Tanah Abang tetapi Belum Sepakati 5 Hal dengan PT KAI

Megapolitan
Kisah di Balik Jaket Bubur Ayam Racer yang Dikenakan Jokowi

Kisah di Balik Jaket Bubur Ayam Racer yang Dikenakan Jokowi

Regional
KPAI Minta Siswa Perundung Guru di Kendal Direhabilitasi Psikologis

KPAI Minta Siswa Perundung Guru di Kendal Direhabilitasi Psikologis

Nasional
Sandiaga Minta Maaf Soal Langkahi Makam Pendiri NU

Sandiaga Minta Maaf Soal Langkahi Makam Pendiri NU

Regional
Banyak yang Tak Lolos SKD CPNS, Pemerintah Kaji Dua Opsi Kebijakan Baru

Banyak yang Tak Lolos SKD CPNS, Pemerintah Kaji Dua Opsi Kebijakan Baru

Nasional
5 Berita Populer: Jeritan Hati Baiq Nuril dan Curahan Hati SBY

5 Berita Populer: Jeritan Hati Baiq Nuril dan Curahan Hati SBY

Regional
Berita Populer: Kalimat Terakhir Khashoggi, Hadiah Jeruk Korsel

Berita Populer: Kalimat Terakhir Khashoggi, Hadiah Jeruk Korsel

Internasional
KPK Minta Publik Hati-hati Pilih Caleg di Pemilu 2019

KPK Minta Publik Hati-hati Pilih Caleg di Pemilu 2019

Nasional
Tanda Tangan 15 Tokoh Dunia, Walt Disney, Maradona, hingga Trump

Tanda Tangan 15 Tokoh Dunia, Walt Disney, Maradona, hingga Trump

Internasional
Suu Kyi Bujuk Investor Asing Berani Tanamkan Modal di Myanmar

Suu Kyi Bujuk Investor Asing Berani Tanamkan Modal di Myanmar

Internasional
Mimpi Anak Sopir Taksi 'Online' yang Dirampok: Tunggu Papa Pulang

Mimpi Anak Sopir Taksi "Online" yang Dirampok: Tunggu Papa Pulang

Regional
Ladang Ranjau Anti-tank Bekas Perang Dunia II Ditemukan di Saint Petersburg

Ladang Ranjau Anti-tank Bekas Perang Dunia II Ditemukan di Saint Petersburg

Internasional

Close Ads X