Suara dari Kampung Apung yang Masalahnya Tak Kunjung Rampung

Kompas.com - 13/09/2018, 16:51 WIB
Kampung Teko atau dikenal dengan sebutan Kampung Apung berada di Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat.  Dinamakan Kampung Apung karena kawasan seluas 3 hektar dan dihuni sekitar 200 Kepala Keluarga (KK) itu berada di atas air sehingga seolah-olah mengapung. Foto diambil Rabu (11/9/2018) KOMPAS.com/ RINDI NURIS VELAROSDELAKampung Teko atau dikenal dengan sebutan Kampung Apung berada di Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Dinamakan Kampung Apung karena kawasan seluas 3 hektar dan dihuni sekitar 200 Kepala Keluarga (KK) itu berada di atas air sehingga seolah-olah mengapung. Foto diambil Rabu (11/9/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Permasalahan Kampung Teko atau Kampung Apung di Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, tidak dapat diselesaikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sejak tahun 1990.

Kawasan seluas 3 hektar yang dihuni sekitar 200 Kepala Keluarga (KK) itu tergenang air keruh setinggi tiga meter secara permanen selama berpuluh-puluh tahun. Kampung tersebut seolah-olah menjadi sebuah perkampungan yang mengapung di atas air.

Masalah itu berawal dari pembangunan kompleks pergudangan oleh pihak pengembang di belakang Kampung Apung pada tahun 1988. Pembangunan itu membuat daerah resapan air untuk irigasi sawah produktif milik warga dan saluran air menuju Kali Angke harus ditimbun.

Belum lagi ribuan makam yang tergenang di bawah rumah-rumah panggung warga membuat kawasan ini semakin tak layak digunakan sebagai tempat tinggal.

Baca juga: Harapan Warga Kampung Apung kepada Pemprov DKI

Djuhri, tokoh masyarakat Kampung Apung yang pernah menjabat sebagai Ketua RW pada tahun 2006-2013 mengatakan, dulunya Kampung Apung adalah sebuah perkampungan asri layaknya sebuah perkampungan pada umumnya.

Ada pemakaman umum yang letaknya lebih tinggi dari pemukiman warga dan sawah produktif di belakang kampung.

Sejak tergenang banjir permanen, kondisi perkampungan berubah drastis. Bahkan banjir permanen itu telah menelan korban jiwa yakni dua anak kecil yang tercebur.

Baca juga: Era Jokowi, Ahok, Lanjut Djarot, Nasib Kampung Apung Masih Murung

Djuhri mengatakan, warga telah mencoba menuntut keadilan pada Pemprov DKI. Sayangnya, Pemprov DKI Jakarta seolah membiarkan warga Kampung Apung menderita padahal warga telah menuntut keadilan sejak 1990.

Ia mengungkapkan, tidak pernah ada itikad baik dari Pemprov DKI Jakarta untuk membantu mensejahterahkan warga Kampung Apung.

"Capek saya kalau ngomong pemerintah. Dari gubernur yang jadi presiden hingga gubernur sekarang membiarkan kita seperti ini, tetap menderita," ujar Djuhri kepada Kompas.com, Rabu (12/9/2018).

Baca juga: Pasukan Oranye Angkut 147 Ton Eceng Gondok dan Sampah di Kampung Apung

"Pak Jokowi sudah pernah ke sini bertemu saya, langsung bicara dengan saya. Pak Ahok juga pernah ke sini pas masih kampanye jadi pasangan Pak Jokowi. Tapi tetap tidak menyelesaikan masalah," ujarnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bukan Prioritas, Pemangkasan Pohon di Permukiman Bekasi Tunggu Aduan Warga

Bukan Prioritas, Pemangkasan Pohon di Permukiman Bekasi Tunggu Aduan Warga

Megapolitan
Pilot Wings Air yang Tewas Bunuh Diri Dikenal Baik dan Ramah oleh Tetangga

Pilot Wings Air yang Tewas Bunuh Diri Dikenal Baik dan Ramah oleh Tetangga

Megapolitan
12 Oknum Satpol PP DKI yang Diduga Bobol Dana Bank Dipecat

12 Oknum Satpol PP DKI yang Diduga Bobol Dana Bank Dipecat

Megapolitan
365 Kali Hari Anak dari Balik Jeruji Besi di Tangerang...

365 Kali Hari Anak dari Balik Jeruji Besi di Tangerang...

Megapolitan
Setelah Mediasi, Orangtua Murid dan SMA Kolese Gonzaga Sepakat Berdamai

Setelah Mediasi, Orangtua Murid dan SMA Kolese Gonzaga Sepakat Berdamai

Megapolitan
Mantan Kapolsek Kebayoran Baru Ditetapkan sebagai Tersangka Penyalahgunaan Narkoba

Mantan Kapolsek Kebayoran Baru Ditetapkan sebagai Tersangka Penyalahgunaan Narkoba

Megapolitan
Polisi Klarifikasi Pelapor Dugaan Penistaan Agama Terhadap Sukmawati Soekarnoputri

Polisi Klarifikasi Pelapor Dugaan Penistaan Agama Terhadap Sukmawati Soekarnoputri

Megapolitan
Kediamannya Retak dan Ambruk, Warga Setu Numpang Tidur di Rumah Tetangga

Kediamannya Retak dan Ambruk, Warga Setu Numpang Tidur di Rumah Tetangga

Megapolitan
Sanksi Cabut Pentil Tak Lagi Mempan, Dishub Derek Kendaraan yang Parkir Sembarangan

Sanksi Cabut Pentil Tak Lagi Mempan, Dishub Derek Kendaraan yang Parkir Sembarangan

Megapolitan
Pembahasan RAPBD DKI 2020 Molor, Wakil Ketua DPRD Yakin Kemendagri Beri Dispensasi untuk Jakarta

Pembahasan RAPBD DKI 2020 Molor, Wakil Ketua DPRD Yakin Kemendagri Beri Dispensasi untuk Jakarta

Megapolitan
Musim Hujan, Bekasi Optimistis Titik Jalan Berlubang Berkurang

Musim Hujan, Bekasi Optimistis Titik Jalan Berlubang Berkurang

Megapolitan
Parkir di Jalur Sepeda, Pelanggar Berhamburan Saat Dishub Razia Dadakan

Parkir di Jalur Sepeda, Pelanggar Berhamburan Saat Dishub Razia Dadakan

Megapolitan
Musim Hujan, Pemkot Bekasi Pangkas Pohon Raksasa di Jalan Utama

Musim Hujan, Pemkot Bekasi Pangkas Pohon Raksasa di Jalan Utama

Megapolitan
Kolong Tol JORR Kota Bintang Bekasi Masih Akan Tergenang pada Musim Hujan Tahun Ini

Kolong Tol JORR Kota Bintang Bekasi Masih Akan Tergenang pada Musim Hujan Tahun Ini

Megapolitan
Tahun 2030, PAM Jaya Targetkan Semua Warga Jakarta Dapat Pasokan Air Bersih

Tahun 2030, PAM Jaya Targetkan Semua Warga Jakarta Dapat Pasokan Air Bersih

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X