Seputar Lab Vape Berekstasi dan Kendali dari Tahanan Cipinang - Kompas.com

Seputar Lab Vape Berekstasi dan Kendali dari Tahanan Cipinang

Kompas.com - 09/11/2018, 08:19 WIB
DW, salah satu tersangka kasus peredaran vape berekstasi duduk di antara tahanan pria. Foto diambil di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (8/11/2018).Kompas.com/Sherly Puspita DW, salah satu tersangka kasus peredaran vape berekstasi duduk di antara tahanan pria. Foto diambil di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (8/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyidik Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya memberi julukan "laboratorium klandestin" untuk sebuah rumah mewah di Jalan Janur Elok, Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Jika dilihat dari luar, bangunan ini hanya menyerupai rumah tinggal biasa. Tak ada tanda khusus yang mengindikasikan tempat ini digunakan untuk aktivitas pengolahan bahan-bahan kimia.

Namun nyatanya rumah ini digunakan sekelompok orang yang menamakan diri Reborn Cartel untuk memproduksi produk olahan narkotika, termasuk liquid rokok elektrik atau vape yang mengandung ekstasi.

"Kami sudah tanya warga sekitar. Mereka tidak tahu aktivitas di dalam sini. Hanya terdengar gonggongan anjing peliharaan saja kalau dari luar. Seperti rumah pada umumnya," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Kamis (8/11/2018).

Baca juga: Pembuat Vape Berekstasi Berdalih Awalnya Ingin Gunakan Ekstrak Ganja untuk Kepentingan Medis

Polisi telah mengamankan 16 tersangka dalam kasus ini mulai dari kurir, pengolah produk, hingga pengendali pembuatan produk olahan narkoba ini yang merupakan tahanan kasus narkoba Rutan Cipinang.

Kasubdit I Narkoba Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan, empat tahanan tersebut berinisial TY (28), HAM (20), VIN (26), dan COK (35).

Dalam kasus ini TY bertindak sebagai inisiator. Kemudian tahanan lain berinisial FIT bertugas mencari ekstasi sebagai bahan baku pembuatan liquid vape berekstasi.

Serah terima pembelian ekstasi dilakukan di luar penjara dengan bantuan tersangka lain berinisial BR yang telah ditangkap sebelumnya.

Baca juga: Tahanan Kendalikan Peredaran Vape Berekstasi Lewat Ponsel Rutan

Kemudian pembayaran dilakukan oleh HAM yang merupakan salah satu bendahara dalam kelompok pengedar liquid vape ini. Pembayaran ekstasi atas perintah TY.

Sedangkan COK bertugas mencari tahu tempat pembelian ekstasi.

Kendali dari dalam rutan

Kompas.com berkesempatan berbincang langsung dengan TY, otak dari peredaran vape berekstasi tersebut.

Pria yang mengaku tak tamat SMA ini belajar cara peracikan ekstasi menjadi produk lain melalui sejumlah artikel di internet.

Produksi vape berekstasi dimulai saat ia mendekam di dalam penjara, menunggu kasus peredaran tembakau gorila yang menjerat dirinya disidangkan.

"Jadi saya ini enggak rekrut orang, yang kerja sama saya itu ya sudah saya anggap adik saya, sudah lama kerja bareng. Kalau mereka besuk nanti saya gambarin bentuk atau konsep alat untuk mengolahnya, lalu mereka yang ke tukang bubut untuk bikin alatnya," paparnya, Kamis.

Baca juga: Bos hingga Kurir Bisa Racik Vape Likuid Berekstasi di Kelapa Gading

Tak hanya saat besuk, TY juga menghubungi jaringannya melalui ponsel yang disediakan di warung telpon (wartel) rutan. Dalam komunikasi itu TY menjelaskan cara pengolahan narkoba menjadi produk lain.

Untuk menjalankan aksinya, jaringan ini menyewa sejumlah tempat di Jakarta untuk produksi, pengemasan, hingga pengedaran.

Produk yang dihasilkan kelompok ini dijual melalui situs online secara terbuka.

Saat ini polisi telah mengantongi daftar pembeli narkoba olahan kelompok ini dan akan segera melakukan penangkapan.


Terkini Lainnya

Surabaya Bertransformasi Jadi Kota Industri Kreatif di Asia

Surabaya Bertransformasi Jadi Kota Industri Kreatif di Asia

Regional
Tim Jokowi-Ma'ruf: Satu Setengah Bulan Kampanye, Prabowo-Sandi Sudah 3 Kali Minta Maaf

Tim Jokowi-Ma'ruf: Satu Setengah Bulan Kampanye, Prabowo-Sandi Sudah 3 Kali Minta Maaf

Nasional
Indonesia Diminta Pertimbangkan Hapus Hukuman Mati seperti Malaysia

Indonesia Diminta Pertimbangkan Hapus Hukuman Mati seperti Malaysia

Nasional
Saat Pemenang Lotre Rp 22 Triliun Tak Juga Muncul Mengambil Uangnya

Saat Pemenang Lotre Rp 22 Triliun Tak Juga Muncul Mengambil Uangnya

Internasional
Pidato di Depan Ribuan Wisudawan Unpas, Sandiaga Berharap Lulusan Baru Ciptakan Lapangan Kerja

Pidato di Depan Ribuan Wisudawan Unpas, Sandiaga Berharap Lulusan Baru Ciptakan Lapangan Kerja

Regional
Sepasang Suami Istri di Kediri Berbagi Peran Mencuri

Sepasang Suami Istri di Kediri Berbagi Peran Mencuri

Regional
BNN Gagalkan Penyelundupan 38 Kg Sabu dan 30.000 Ekstasi dari Malaysia

BNN Gagalkan Penyelundupan 38 Kg Sabu dan 30.000 Ekstasi dari Malaysia

Nasional
Kasus Dugaan Pelecehan Seksual saat KKN UGM: Viral Lewat Balairungpress, Tuntutan DO Pelaku, hingga Upaya Penyelesaian

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual saat KKN UGM: Viral Lewat Balairungpress, Tuntutan DO Pelaku, hingga Upaya Penyelesaian

Regional
Curhat PKL soal 'Skybridge', Senang Ada Lapak dan Takut Dagangan Sepi

Curhat PKL soal "Skybridge", Senang Ada Lapak dan Takut Dagangan Sepi

Megapolitan
Polisi Gerebek Pesta Mabuk Lem Anak-anak di Surabaya

Polisi Gerebek Pesta Mabuk Lem Anak-anak di Surabaya

Regional
Bawaslu: KPU Belum Terjun ke Sulteng untuk Perbaikan Daftar Pemilih

Bawaslu: KPU Belum Terjun ke Sulteng untuk Perbaikan Daftar Pemilih

Nasional
Pemprov Jabar Tetapkan Status Siaga Bencana Banjir dan Longsor

Pemprov Jabar Tetapkan Status Siaga Bencana Banjir dan Longsor

Regional
Korban Tewas akibat Pagar Tembok SD Tiba-tiba Roboh Jadi 2 Orang

Korban Tewas akibat Pagar Tembok SD Tiba-tiba Roboh Jadi 2 Orang

Regional
Kasus Suap Meikarta, 64 Orang Diperiksa sebagai Saksi

Kasus Suap Meikarta, 64 Orang Diperiksa sebagai Saksi

Regional
SEA Umumkan Penerima Beasiswa untuk Kembangkan Ekonomi Digital

SEA Umumkan Penerima Beasiswa untuk Kembangkan Ekonomi Digital

Edukasi

Close Ads X