KPAI: Hukuman "Push Up" 100 Kali Siswi di SDIT Bina Mujtama Tergolong Kekerasan

Kompas.com - 29/01/2019, 09:45 WIB
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Bidang Pendidikan, Retno Listyarti ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (17/4/2018). KOMPAS.com/ MOH NADLIRKomisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Bidang Pendidikan, Retno Listyarti ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (17/4/2018).

DEPOK, KOMPAS.com - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, hukuman push up di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Bina Mujtama kepada GNS (10) karena belum melunasi uang sekolah merupakan kekerasan terhadap anak.

Retno mengatakan, hukuman tersebut bisa dikategorikan sebagai kekerasan fisik dan psikis, serta berpotensi kuat melanggar Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

“Apalagi jika push up dilakukan berpuluh kali tanpa mempertimbangkan kondisi anak, maka itu berpotensi menyakiti dan membahayakan anak tersebut. Ini masuk kategori kekerasan fisik,” ucap Retno melalui pesan tertulis, Senin (28/1/2019).

Baca juga: Tak Bayar SPP, Siswi SD Mengaku Dihukum Push-up 100 Kali

Retno mengatakan, tindakan sekolah juga dikategorikan dalam kekerasan psikis karena kondisi GNS tertekan dan merasa direndahkan hingga dipermalukan di lingkungan sekolah.

“Apalagi banyak temannya atau gurunya yang tahu kalau orangtuanya belum bisa melunasi uang SPP,” ucap Retno.

Retno menilai, seharusnya jika orangtua belum bisa melunasi SPP anak, sekolah tidak berhak melakukan penghukuman.

Anak harus tetap mendapatkan haknya atas pendidikan, seperti mengikuti pembelajaran dan ujian.

“Jadi kalau orangtua belum melunasi SPP, maka itu bukan salah si anak, tetapi itu kewajiban orangtuanya. Yang harus dipanggil, ditegur, dan disurati pihak sekolah adalah orangtuanya,” ujar Retno.

Retno mengatakan, dalam menekan pelunasan SPP sekolah anak, seharusnya sekolah bisa berkomunikasi langsung dengan para orangtua siswa. Bukan siswanya yang ditekan dan diperlakukan tidak wajar.

“Kalau ada perjanjian antara orangtua siswa dengan pihak sekolah saat mendaftar sekolah di tempat tersebut, maka perjanjian itu juga tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundangan yang ada,” tutur Retno.

Baca juga: Kepala Sekolah yang Hukum Muridnya Push-up Bilang untuk Shock Therapy

Sebelumnya, GNS (10), siswi Sekolah Dasar Islam Terpadu Bina Mujtama dihukum push up sebanyak 100 kali karena belum melunasi uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebakaran di Tangsel, Seorang Anak Terjebak hingga Tewas

Kebakaran di Tangsel, Seorang Anak Terjebak hingga Tewas

Megapolitan
Baim Wong Tak Pernah Curiga Mantan Anak Buah Bakal Curi Motornya

Baim Wong Tak Pernah Curiga Mantan Anak Buah Bakal Curi Motornya

Megapolitan
Mantan Anak Buah Curi Sepeda Motor Baim Wong untuk Bayar Utang

Mantan Anak Buah Curi Sepeda Motor Baim Wong untuk Bayar Utang

Megapolitan
Permintaan Maaf mantan Anak Buah kepada Baim Wong karena Curi Motor

Permintaan Maaf mantan Anak Buah kepada Baim Wong karena Curi Motor

Megapolitan
Tetangga Novel Baswedan Minta Polisi Segera Tuntaskan Kasus Penyiraman Air Keras

Tetangga Novel Baswedan Minta Polisi Segera Tuntaskan Kasus Penyiraman Air Keras

Megapolitan
'Novel Baswedan Beberapa Kali Operasi, Kok Masih Dituduh Rekayasa...'

"Novel Baswedan Beberapa Kali Operasi, Kok Masih Dituduh Rekayasa..."

Megapolitan
Tetangga Novel Baswedan Laporkan Dewi Tanjung atas Tuduhan Laporan Palsu

Tetangga Novel Baswedan Laporkan Dewi Tanjung atas Tuduhan Laporan Palsu

Megapolitan
Rela Rogoh Kocek Jutaan Rupiah demi Hobi Cosplay...

Rela Rogoh Kocek Jutaan Rupiah demi Hobi Cosplay...

Megapolitan
Dua Ormas Bentrok di Bekasi, Satu Orang Terluka

Dua Ormas Bentrok di Bekasi, Satu Orang Terluka

Megapolitan
Keluarga Pengguna GrabWheels yang Tewas Ditabrak Gelar Tabur Bunga

Keluarga Pengguna GrabWheels yang Tewas Ditabrak Gelar Tabur Bunga

Megapolitan
Sudah Lebih Sepekan, Sekda DKI Belum Dihubungi Gerindra soal Usulan Wagub

Sudah Lebih Sepekan, Sekda DKI Belum Dihubungi Gerindra soal Usulan Wagub

Megapolitan
Nenek Sebut Amel Luput dari Penyiraman Air Keras

Nenek Sebut Amel Luput dari Penyiraman Air Keras

Megapolitan
Radio Sonora, Garda Oto, Yello Hotel, dan Harris Convention Hall Bekasi Gelar Fun Rally 2019

Radio Sonora, Garda Oto, Yello Hotel, dan Harris Convention Hall Bekasi Gelar Fun Rally 2019

Megapolitan
Mengadu Nasib di Kawasan Kota Tua, PKL: Kalau Enggak Dagang, Mau Makan Apa?

Mengadu Nasib di Kawasan Kota Tua, PKL: Kalau Enggak Dagang, Mau Makan Apa?

Megapolitan
Korban Penggusuran Sunter Agung Minta Pemprov DKI Sediakan Tempat Usaha

Korban Penggusuran Sunter Agung Minta Pemprov DKI Sediakan Tempat Usaha

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X