Ojek Online hingga Pedagang Kopi Keliling Nyaleg, Pengamat Sebut Politik Tak Lagi Eksklusif

Kompas.com - 13/03/2019, 13:36 WIB
Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERADirektur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena calon legislatif yang berasal dari kalangan orang biasa atau tanpa latar belakang politik semakin mewarnai kontestasi Pemilu 2019.

Mulai dari ojek online, tukang sol sepatu, pedagang kopi keliling, hingga pedagang cakwe berburu menjadi wakil rakyat.

Pengamat politik dari Charta Politica Yunarto Wijaya menyebut, fenomena ini sebenarnya bukan hal yang baru.

Namun dengan adanya pencalonan dari orang dengan berbagai profesi, memperlihatkan euforia politik makin diminati oleh semua kalangan.

Baca juga: Pedagang Cakwe Nyaleg, Berapa Modal Kampanyenya?

"Kalau pencalonan DPRD tingkat 2, fenomena ini bukan hal baru. Tetapi ini menunjukkan bahwa euforia politik pasca-reformasi dan selama lima tahun terakhir setelah 2014 lebih terasa," ucap Yunarto saat dihubungi Kompas.com, Rabu (13/3/2019).

Ia menyebut bahwa sosok yang terlibat dalam politik tak harus memiliki latar belakang politik.

Yunarto mencontohkan layaknya Joko Widodo yang kini menjadi Presiden Indonesia juga dulunya tak berlatar belakang politik.

"Itu yang membuat orang melihat politik terbuka bukan hanya dari aktivis, bukan latar belakang organisasi, bahkan beberapa fenomena kepala daerah yang bagus berasal dari orang yang tidak memiliki latar belakang politik. Dan dunia ini enggak lagi eksklusif hanya milik orang-orang yang berkiprah di politik," kata dia.

Dengan adanya pencalonan wakil rakyat dari orang biasa, ia menyebut ini sebagai hal yang positif.

Baca juga: Cerita Nur Wahid, Pedagang Cakwe yang Nyaleg di Bekasi

Para orang biasa ini memiliki kelebihan karena sistem money politic tak berlaku. Ojek online hingga penjual cakwe bisa menjual sisi kesederhanaan.

"Kualitas belum bisa dilihat kalau orang belum bekerja. Itu sulit, realitanya seperti itu. Tapi kesederhanaan mereka, gaya apa adanya dengan latar belakang yang dimiliki itu langka dari elite-elite selama ini sulit diajak komunikasi, itu kelebihan tersendiri," ucapnya.

"Ya minimal anggapan bahwa elite berjarak itu sirna dengan gaya bahasa apa adanya seperti melihat sesama mereka, otomatis harusnya memudahkan kampanye orang-orang seperti ini," tutur Yunarto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sekolah di Depok Gelar PTM 100 Persen Besok, Kantin Ditutup dan Istirahat Diperpendek

Sekolah di Depok Gelar PTM 100 Persen Besok, Kantin Ditutup dan Istirahat Diperpendek

Megapolitan
UPDATE: Bertambah 1.739, Kasus Covid-19 di DKI Jakarta Kini Ada 879.307

UPDATE: Bertambah 1.739, Kasus Covid-19 di DKI Jakarta Kini Ada 879.307

Megapolitan
12 Pompa Apung dan 5 Pompa Mobile Dikerahkan untuk Surutkan Banjir di Tegal Alur

12 Pompa Apung dan 5 Pompa Mobile Dikerahkan untuk Surutkan Banjir di Tegal Alur

Megapolitan
Sopir Minibus Selamat Usai Terjepit karena Tabrak Truk di Klender

Sopir Minibus Selamat Usai Terjepit karena Tabrak Truk di Klender

Megapolitan
Dua Tersangka Kasus Penyekapan Wanita di Tangerang Diamankan Polisi

Dua Tersangka Kasus Penyekapan Wanita di Tangerang Diamankan Polisi

Megapolitan
Sajam yang Dipakai untuk Menusuk Anggota TNI AD di Jakarta Utara Sudah Ditemukan

Sajam yang Dipakai untuk Menusuk Anggota TNI AD di Jakarta Utara Sudah Ditemukan

Megapolitan
Giring-Anies Saling Sindir, Pengamat: Hanya untuk Menyenangkan Masing-masing Pendukungnya

Giring-Anies Saling Sindir, Pengamat: Hanya untuk Menyenangkan Masing-masing Pendukungnya

Megapolitan
Apresiasi Kinerja KPK Tetapkan Rahmat Effendi Tersangka, Warga Bekasi Utara Cukur Gundul

Apresiasi Kinerja KPK Tetapkan Rahmat Effendi Tersangka, Warga Bekasi Utara Cukur Gundul

Megapolitan
Pemprov DKI Jakarta Disarankan Terus Gencarkan Vaksinasi Booster Covid-19

Pemprov DKI Jakarta Disarankan Terus Gencarkan Vaksinasi Booster Covid-19

Megapolitan
Antusiasnya Warga Kunjungi Alun-alun Depok dan Nasib Skatepark yang Dijadikan Perosotan

Antusiasnya Warga Kunjungi Alun-alun Depok dan Nasib Skatepark yang Dijadikan Perosotan

Megapolitan
Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Membusuk di Saluran Air Kampung Tambun Bekasi

Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Membusuk di Saluran Air Kampung Tambun Bekasi

Megapolitan
Pengendara Mobil Diteriaki Maling dan Dipukuli hingga Tewas di Cakung, padahal Bukan Pencuri

Pengendara Mobil Diteriaki Maling dan Dipukuli hingga Tewas di Cakung, padahal Bukan Pencuri

Megapolitan
Konvoi Mobil Mewah yang Berhenti di Tol untuk Berfoto Tidak Ditilang, Hanya Ditegur Polisi

Konvoi Mobil Mewah yang Berhenti di Tol untuk Berfoto Tidak Ditilang, Hanya Ditegur Polisi

Megapolitan
2 Pasien Omicron Meninggal Dunia, Dinkes DKI: Kita Tidak Boleh Anggap Enteng

2 Pasien Omicron Meninggal Dunia, Dinkes DKI: Kita Tidak Boleh Anggap Enteng

Megapolitan
Wagub DKI Sebut Penularan Covid-19 di Sekolah Sedikit, Ahli: Pelacakannya Harus Cermat

Wagub DKI Sebut Penularan Covid-19 di Sekolah Sedikit, Ahli: Pelacakannya Harus Cermat

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.