Kompas.com - 24/04/2019, 19:08 WIB
Ketua Komnas Perempuan Azriana Manalu di Kantor Komnas Perempuan, Jakarta Pusat, Senin (19/11/2018). KOMPAS.com/Devina HalimKetua Komnas Perempuan Azriana Manalu di Kantor Komnas Perempuan, Jakarta Pusat, Senin (19/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komnas Perempuan, Azrian menilai, Jakarta sejauh ini belum sanggup menciptakan kondisi ruang publik yang ramah perempuan. Salah satu hal yang ia soroti yakni masih adanya sejumlah titik di jalur pedestrian di Jakarta yang gelap pada malam hari.

Keadaan itu, menurut dia, rawan memicu kekerasan seksual terhadap perempuan.

"Sejauh ini ruang-ruang publik kita, di Jakarta, belum sepenuhnya aman bagi perempuan terutama di malam hari. Dukungan fasilitas infrastruktur lainnya, penerangan, misalnya, masih kurang. Tempat-tempat yang cukup gelap dilalui perempuan, rawan terjadi kekerasan seksual," kata Azriana di kantornya, Rabu (24/4/2019).

Baca juga: Jangan Jadikan Trotoar Sudirman-Thamrin Hanya sebagai Tontonan

Azriana mengatakan, dukungan infrastruktur mutlak diperlukan sebagai syarat dasar terciptanya ruang publik yang ramah perempuan.

Sejauh ini, ia mengapresiasi iktikad pemerintah mewujudkan hal tersebut, kendati masih jauh dari sempurna.

"Akses untuk melapor ke polisi, misalnya jika terjadi kasus kekerasan seksual, jauh. Tidak begitu mudah," ujakata dia memberi contoh.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia juga menyoroti minimnya terobosan pemerintah dalam mengubah cara-cara pandang yang selama ini menyuburkan praktik kekerasan seksual terhadap perempuan. Azriana beranggapan, pemerintah terlalu berfokus pada penanganan dan pencegahan secara fisik.

"Misalnya satu hal yang perlu kita kritik, pemisahan gerbong atau ruang khusus perempuan di transportasi umum. Kami berharap, itu saja tidak cukup karena kami mau sampai kapan misahin ruang?" ujat dia.

Baca juga: Terowongan Jalan Kendal, Jalur Pedestrian Artistik di Jantung Ibu Kota

Azriana berharap, pemerintah sanggup menggenjot upaya-upaya edukasi secara luas ketimbang semata bertumpu pada pembenahan infrastruktur. Pembenahan infrastruktur penting tetapi tidak serta-merta memberantas potensi kekerasan.

"Pemisahan gerbong atau ruang itu sementara sifatnya, sambil mengedukasi, supaya kita juga bisa memastikan ada cara pandang yang berubah," kata dia.

"Yang perlu dipastikan, bukan saja sudah dipisah gerbongnya, sudah baik trotoarnya, atau sudah terang jalanannya, tetapi juga bagaimana, lagi-lagi, balik ke perilaku. Orang kalau tidak berubah mindset-nya, infrastruktur pun jadi tidak berguna juga," ujar dia.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 26 Juli: Kasus Baru Covid-19 di Tangsel Bertambar 278, Pasien Dirawat Sebanyak 7.171 Orang

UPDATE 26 Juli: Kasus Baru Covid-19 di Tangsel Bertambar 278, Pasien Dirawat Sebanyak 7.171 Orang

Megapolitan
Wagub DKI: Penyaluran Bansos Tunai Sudah Capai 90 Persen

Wagub DKI: Penyaluran Bansos Tunai Sudah Capai 90 Persen

Megapolitan
Viral, Video Seorang Wanita Tipu Pemilik Warung Kelontong di Tambora dan Bawa Kabur Barang

Viral, Video Seorang Wanita Tipu Pemilik Warung Kelontong di Tambora dan Bawa Kabur Barang

Megapolitan
Penimbun Alkes di Jakbar Juga Naikkan Harga Obat Terapi Covid-19 Hampir 19 Kali Lipat

Penimbun Alkes di Jakbar Juga Naikkan Harga Obat Terapi Covid-19 Hampir 19 Kali Lipat

Megapolitan
Demonstran di Balai Kota Tangsel Tuntut agar Satpol PP yang Arogan terhadap Pedagang Ditindak

Demonstran di Balai Kota Tangsel Tuntut agar Satpol PP yang Arogan terhadap Pedagang Ditindak

Megapolitan
Wali Kota Bekasi Klaim Keterisian RS Menurun, Kini di Angka 65,5 Persen

Wali Kota Bekasi Klaim Keterisian RS Menurun, Kini di Angka 65,5 Persen

Megapolitan
UPDATE 26 Juli: Kabupaten Bekasi Catat 281 Kasus Baru Covid-19, 515 Pasien Sembuh

UPDATE 26 Juli: Kabupaten Bekasi Catat 281 Kasus Baru Covid-19, 515 Pasien Sembuh

Megapolitan
Hingga Lusa, Sudah Ada Antrean Jenazah Pasien Covid-19 yang Akan Dikremasi di TPU Tegal Alur

Hingga Lusa, Sudah Ada Antrean Jenazah Pasien Covid-19 yang Akan Dikremasi di TPU Tegal Alur

Megapolitan
Baru Beroperasi, Krematorium di TPU Tegal Alur Layani Banyak Jenazah hingga Antre Berhari-hari

Baru Beroperasi, Krematorium di TPU Tegal Alur Layani Banyak Jenazah hingga Antre Berhari-hari

Megapolitan
Penumpang dari Bandara Soekarno-Hatta Tak Lagi Wajib Bawa STRP, Ini Aturan Terbarunya

Penumpang dari Bandara Soekarno-Hatta Tak Lagi Wajib Bawa STRP, Ini Aturan Terbarunya

Megapolitan
Aturan Makan 20 Menit Dianggap Lucu, Komunitas Warteg: Kalau Tersedak Bagaimana?

Aturan Makan 20 Menit Dianggap Lucu, Komunitas Warteg: Kalau Tersedak Bagaimana?

Megapolitan
Ajak Warga Ikut Vaksinasi Covid-19, Anies: Vaksin Terbukti Turunkan Risiko Kematian

Ajak Warga Ikut Vaksinasi Covid-19, Anies: Vaksin Terbukti Turunkan Risiko Kematian

Megapolitan
Survei Soal Bansos Tunai di Jakarta, Sebagian Besar Bilang Rp 600.000 Hanya Cukup untuk Seminggu

Survei Soal Bansos Tunai di Jakarta, Sebagian Besar Bilang Rp 600.000 Hanya Cukup untuk Seminggu

Megapolitan
Hippindo Berharap Pemerintah Bantu Pedagang Ritel Dapat Pinjaman Lunak

Hippindo Berharap Pemerintah Bantu Pedagang Ritel Dapat Pinjaman Lunak

Megapolitan
Sudinhub Jakarta Timur Tindak 14 Bus AKAP karena Langgar PPKM

Sudinhub Jakarta Timur Tindak 14 Bus AKAP karena Langgar PPKM

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X