Jimly Asshidiqie: Orang Lagi Emosi, Caci Maki Tidak Usah Dituduh Makar

Kompas.com - 20/05/2019, 15:55 WIB
Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly Asshddiqie, di kantor ICMI, Jakarta Selatan, Senin (22/4/2019). CHRISTOFORUS RISTIANTO/KOMPAS.comKetua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly Asshddiqie, di kantor ICMI, Jakarta Selatan, Senin (22/4/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com – Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshidiqie angkat bicara soal tensi sosial yang semakin tegang jelang pengumuman hasil Pemilu 2019 pada 22 Mei 2019 mendatang.

Ia menilai, ekspresi kekecewaan dan kemarahan perlu diberi ruang guna meredakan ketegangan. Penerapan pasal makar kepada pendukung salah satu pasangan calon presiden-wakil presiden yang sedang dirundung kekecewaan, menurutnya, sama sekali tidak perlu.

“Kita harus memanfaatkan momentum Ramadhan untuk meredakan ketegangan. Biarlah yang ingin mengeskpresikan kekecewaan berdemo. Enggak usah dilarang, enggak usah ditangkap, tapi dibimbing supaya lebih tenang,” ujar Jimly saat dihubungi Kompas.com, Senin (20/5/2019) siang.

Baca juga: Jimly Asshiddiqie hingga Fahira Idris, Ini 4 Perwakilan Jakarta di DPD


“Kalau ada kesalahan-kesalahan, misalnya dia marah, caci-maki, ya sudah. Walaupun itu enggak boleh, penghinaan dan caci-maki, ya enggak usah dituduh makar atau dipolisikan. Enggak usah ditindak, orang lagi emosi,” imbuhnya.

Menurut Jimly, aparat negara justru berpotensi manenambah ketegangan dengan mengedepankan pendekatan represif. Baginya, penggunaan hukum pidana buat menjerat pendukung paslon hanyalah dalih kekerasan negara terhadap warganya sendiri.

“Jangan dekati emosi massa dengan kekerasan dan penerapan hukum pidana, yang tidak lain adalah tindakan kekerasan negara terhadap warganya sendiri dengan bungkusan hukum,” ujar Jimly, tegas.

Baca juga: Jimly: Jika Tak Mau ke MK Tak Apa-apa, tetapi Wajib Redakan Ketegangan

Pria 63 tahun yang baru saja lolos ke Senayan sebagai senator dari DKI Jakarta ini berpendapat bila aksi unjuk rasa justru lebih efektif buat menetralisir keadaan.

Pasalnya, melalui unjuk rasa, luapan emosi kekecewaan dan kemarahan pendukung mampu menemukan pelampiasannya. Pembungkaman terhadap aspirasi semacam ini dikhawatirkan malah menyimpan bara dalam sekam.

“Kita harus meredakan emosi jelang Idul Fitri. Teman-teman harus mengerti, bahwa ada kalangan yang sedang emosi, bahwa mereka punya persepsi dicurangi, itu harusnya dibujuk dan diberi pengertian alih-alih menggunakan pendekatan represif," kata mantan Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) itu.

"Orang marah itu harus menemukan kanal untuk menyalurkan kemarahan, asal dia menyalurkan secara damai, tidak mengganggu hak orang lain, tidak merusak gedung, membakar mobil, ya itu tidak apa-apa. Jangan diprovokasi,"lanjut Jimly.

Terakhir, Jimly berpesan agar kedua kubu pendukung paslon sama-sama menahan diri, termasuk bagi kubu yang merasa memenangi Pemilu 2019.

“Tokoh-tokoh masyarakat, pengamat, intelektual, timses yang sudah merasa menang, ngapain lagi bicara keras-keras? Saya juga mengimbau, jangan ada (karangan bunga) ucapan selamat di Istana. Memang itu tidak bisa dicegah, tapi tidak sehat jika dipasang di sana, karena sekarang belum ada pemenang pemilu secara definitif. Itu tontonan yang tidak etis. Kita kan harus berdemokrasi yang berkebudayaan juga,” tandasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jelang Pelantikan Jokowi-Ma'ruf, Jalan Sekitar Monas Ditutup

Jelang Pelantikan Jokowi-Ma'ruf, Jalan Sekitar Monas Ditutup

Megapolitan
Amankan Pelantikan Presiden, TNI Kerahkan Helikopter hingga Drone

Amankan Pelantikan Presiden, TNI Kerahkan Helikopter hingga Drone

Megapolitan
Situasi Jakarta Kondusif Jelang Pelantikan Presiden-Wapres

Situasi Jakarta Kondusif Jelang Pelantikan Presiden-Wapres

Megapolitan
[JABODETABEK SEPEKAN] Pengakuan Wanita Pengancam Jokowi | Anies Gubernur Rasa Presiden | Tipu Muslihat Djeni

[JABODETABEK SEPEKAN] Pengakuan Wanita Pengancam Jokowi | Anies Gubernur Rasa Presiden | Tipu Muslihat Djeni

Megapolitan
Jelang Pelantikan Presiden-Wapres, Belakang Kompleks Parlemen Senayan Dijaga Ketat

Jelang Pelantikan Presiden-Wapres, Belakang Kompleks Parlemen Senayan Dijaga Ketat

Megapolitan
Ini Pengalihan Lalu Lintas di Seputar Istana Jelang Pelantikan Jokowi-Ma'ruf

Ini Pengalihan Lalu Lintas di Seputar Istana Jelang Pelantikan Jokowi-Ma'ruf

Megapolitan
Ini Lokasi Layanan SIM Keliling Hari Ini, Buka Mulai Pukul 6.00 WIB

Ini Lokasi Layanan SIM Keliling Hari Ini, Buka Mulai Pukul 6.00 WIB

Megapolitan
Jelang Pelantikan Presiden-Wapres, Jalan Seputar Istana Ditutup

Jelang Pelantikan Presiden-Wapres, Jalan Seputar Istana Ditutup

Megapolitan
Ada Pelantikan Presiden-Wapres, CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan Hari Ini

Ada Pelantikan Presiden-Wapres, CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan Hari Ini

Megapolitan
Petugas Damkar Lepas Cincin Mainan dari Jari Seorang Ibu

Petugas Damkar Lepas Cincin Mainan dari Jari Seorang Ibu

Megapolitan
Yusril Enggan Tanggapi Kemungkinan Jadi Menteri Kabinet Jokowi

Yusril Enggan Tanggapi Kemungkinan Jadi Menteri Kabinet Jokowi

Megapolitan
Perwakilan Pengusaha Sebut Rencana Kenaikan UMP DKI Jadi Rp 4,2 Juta Memberatkan

Perwakilan Pengusaha Sebut Rencana Kenaikan UMP DKI Jadi Rp 4,2 Juta Memberatkan

Megapolitan
MUI: KH Ma'ruf Amin Ketua Umum Non Aktif hingga 2020

MUI: KH Ma'ruf Amin Ketua Umum Non Aktif hingga 2020

Megapolitan
Viral Pemalakan Sopir Truk di Tambora, Pelaku Langsung Ditangkap

Viral Pemalakan Sopir Truk di Tambora, Pelaku Langsung Ditangkap

Megapolitan
Cabuli 7 Bocah Perempuan di Jatinegara, Pelaku Berikan Uang Jajan untuk Tutup Mulut

Cabuli 7 Bocah Perempuan di Jatinegara, Pelaku Berikan Uang Jajan untuk Tutup Mulut

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X