Kompas.com - 18/06/2019, 07:49 WIB
Juru Bicara LPSK Mardiansyah memberi keterangan kepada wartawan di Kantor LPSK, Senin (17/6/2019). KOMPAS.com/Ardito Ramadhan DJuru Bicara LPSK Mardiansyah memberi keterangan kepada wartawan di Kantor LPSK, Senin (17/6/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah orang yang mengaku sebagai keluarga korban kerusuhan 21-22 Mei 2019 mengajukan permohonan perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Senin (17/6/2019) siang kemarin.

Kuasa hukum para keluarga korban, Wisnu Rakadita, mengatakan, keluarga korban merasa butuh perlindungan karena kerap menerima ancaman dan intimidasi.

"Karena kerap didatangi oleh beberapa pihak dan mereka terasa terancam atau terintimidasi makanya kami minta perlindungan," kata Wisnu di Kantor LPSK di Jakarta Timur.

Baca juga: LPSK Kaji Permohonan Perlindungan Keluarga Korban Kerusuhan 22 Mei

Wisnu menjelaskan, klien-kliennya itu mendapat ancaman berbentuk verbal ketika hendak mengambil jenazah korban. Wisnu menyebutkan, orang-orang yang mengancam keluarga korban mengaku dari kepolisian. Orang-orang itu juga meminta agar keluarga korban tidak memperpanjang kasus tersebut.

"Kalau dugaannya dari pihak kepolisian, mereka mengaku dari pihak kepolisian. Ya untuk tidak melanjutkan kasus ini," ujar Wisnu.

Permohonan perlindungan yang diajukan keluarga korban kini diproses oleh LPSK. Juru Bicara LPSK Mardiansyah mengatakan, pihaknya perlu menelaah permohonan tersebut sebelum mengabulkannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Belum bisa memberikan sebelum adanya penelaahan yang dimohonkan. Permohonan bisa diberikan melalui paripurna di pimpinan. Ini baru proses awal," kata Mardiansyah.

Ia menambahkan, pihaknya akan berkoodinasi dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) terkait permohonan keluarga korban.

Baca juga: Polri: 4 dari 9 Korban Kerusuhan 21-22 Mei 2019 Dipastikan Tewas karena Peluru Tajam

Pasalnya, keluarga korban menilai anggota keluarga mereka merupakan korban pelanggaran HAM berat pada kerusuhan 21-22 Mei 2019. Karena itu, LPSK butuh pandangan Komnas HAM, apakah para korban tersebut merupakan korban pelanggaran HAM berat atau tidak.

"Kalau pelanggaran HAM berat, di UU, kami memang berpatokan surat keterangan dari Komnas HAM. Surat keterangan apakah memang korban-korban ini dinyatakan sebagai korban dari pelanggaran HAM yang berat," ujar Mardiansyah.

Sejumlah korban kerusuhan 22 Mei 2019 yang kendaraannya dibakar massa melapor ke Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (31/5/2019)KOMPAS.com/Ryana Aryadita Sejumlah korban kerusuhan 22 Mei 2019 yang kendaraannya dibakar massa melapor ke Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (31/5/2019)
Kerusuhan pecah di sejumlah titik di Jakarta pada 21-22 Mei 2019. Kerusuhan itu bermula dari aksi unjuk rasa yang tidak puas dengan hasil Pemilu 2019. 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI hingga 25 Mei 2019, total ada 905 korban kerusuhan 22 Mei, termasuk delapan korban tewas.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jusuf Hamka, Pengusaha yang Ingin Jadi Mother Teresa Versi Jakarta

Jusuf Hamka, Pengusaha yang Ingin Jadi Mother Teresa Versi Jakarta

Megapolitan
Herman Hanafi Diangkat Jadi Penjabat Sekda Kabupaten Bekasi

Herman Hanafi Diangkat Jadi Penjabat Sekda Kabupaten Bekasi

Megapolitan
Cium Bau Menyengat, Warga Temukan Pria Sebatang Kara Meninggal di Rumahnya

Cium Bau Menyengat, Warga Temukan Pria Sebatang Kara Meninggal di Rumahnya

Megapolitan
Pemkot Tangerang Akan Naikkan Jumlah Testing Covid-19 Jadi 4.300 Orang Sehari

Pemkot Tangerang Akan Naikkan Jumlah Testing Covid-19 Jadi 4.300 Orang Sehari

Megapolitan
Diduga Terjatuh, Seorang Wanita Ditemukan Meninggal di Kamar Mandi di Tebet

Diduga Terjatuh, Seorang Wanita Ditemukan Meninggal di Kamar Mandi di Tebet

Megapolitan
Soal Aturan Makan 20 Menit, Anies: Makan Secukupnya, Jangan Nongkrong

Soal Aturan Makan 20 Menit, Anies: Makan Secukupnya, Jangan Nongkrong

Megapolitan
Pengusaha Jusuf Hamka Borong Makanan Pedagang Kecil untuk Dibagikan ke Pasien Covid-19 yang Isoman

Pengusaha Jusuf Hamka Borong Makanan Pedagang Kecil untuk Dibagikan ke Pasien Covid-19 yang Isoman

Megapolitan
Soroti BOR Covid-19 di Tangsel Tak Kunjung Turun, Mendagri: Masyarakat Sulit Dapat Tempat Perawatan

Soroti BOR Covid-19 di Tangsel Tak Kunjung Turun, Mendagri: Masyarakat Sulit Dapat Tempat Perawatan

Megapolitan
Polda Metro Periksa Satpol PP Gadungan yang Lakukan Rekrutmen Ilegal

Polda Metro Periksa Satpol PP Gadungan yang Lakukan Rekrutmen Ilegal

Megapolitan
Kapolda Metro: Jangan Manfaatkan Pandemi untuk Kejahatan, Kami Tindak Tegas

Kapolda Metro: Jangan Manfaatkan Pandemi untuk Kejahatan, Kami Tindak Tegas

Megapolitan
Pemkot Tangerang Refocusing APBD 10,1 Persen untuk Penanganan Covid-19

Pemkot Tangerang Refocusing APBD 10,1 Persen untuk Penanganan Covid-19

Megapolitan
Anies Minta Polisi Pajang Foto Penjahat Kemanusiaan Saat Pandemi Covid-19

Anies Minta Polisi Pajang Foto Penjahat Kemanusiaan Saat Pandemi Covid-19

Megapolitan
Vaksinasi Covid-19 bagi Anak 12 Tahun ke Atas di Kota Bekasi Dimulai Agustus

Vaksinasi Covid-19 bagi Anak 12 Tahun ke Atas di Kota Bekasi Dimulai Agustus

Megapolitan
Dalam Seminggu, Komplotan Pembuat Surat Antigen Palsu di Depok Terbitkan 80 Surat

Dalam Seminggu, Komplotan Pembuat Surat Antigen Palsu di Depok Terbitkan 80 Surat

Megapolitan
Emak-emak di Ciracas Antusias Ikuti Vaksinasi Covid-19 agar Bisa ke Pasar

Emak-emak di Ciracas Antusias Ikuti Vaksinasi Covid-19 agar Bisa ke Pasar

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X