Kampung Penadah Hujan yang Rindu Tetesan Air

Kompas.com - 11/07/2019, 16:35 WIB
Kampung Penadah Hujan di Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara JIMMY RAMADHAN AZHARIKampung Penadah Hujan di Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara

Setiap harinya, ia harus membeli dua gerobak atau setara dengan lima jeriken air bersih untuk memenuhi kebutuhannya.

"Kalau mau nyuci bahkan bisa tiga gerobak dalam sehari," ucapnya.

Per gerobak untuk air bersih itu Diana harus mengeluarkan uang Rp 6.000 hingga Rp 8.000.

Baca juga: Sebanyak 15.040 Jiwa di Banyumas Krisis Air Bersih

Sementara itu, Hawis (47) warga lainnya mengatakan, sejatinya dulu mereka pernah mencoba membuat sumur galian sebagai alternatif.

"Cuma kepakai setahun, habis itu kecampur air laut, jadi asin airnya," ucapnya.

Usaha lain yang pernah mereka coba yakni mengusulkan agar air PAM sampai ke rumah masing-masing warga.

Setelah usulan, kata Hawis, tersebut beberapa kali  petugas dari Palyja datang meninjau lokasi tersebut. Namun hal itu tak kunjung terealisasi.

"Kalau kata mereka enggak seimbang biaya masang pipa sama jumlah warga di sini," ucapnya.

Membuat penadah air juga bukan perkara mudah. Material yang mereka gunakan harus dipikirkan untuk memenuhi kebutuhan air mereka.

Biasanya, warga kampung tersebut menggunakan material asbes, seng, atau bilah bambu untuk menampung air dari loteng.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X