Kompas.com - 18/07/2019, 10:40 WIB
Sejumlah pengunjung tampak antusias meneropong planet Jupiter di Planetarium Jakarta, Rabu (12/6/2019). KOMPAS.com/Vitorio MantaleanSejumlah pengunjung tampak antusias meneropong planet Jupiter di Planetarium Jakarta, Rabu (12/6/2019).

JAKARTA, KOMPAS.COM - Mempelajari langsung astronomi yang berkaitan dengan angkasa memerlukan kondisi udara yang bersih dan gelap.

Namun, di Jakarta kedua kondisi itu cukup sulit untuk didapatkan lantaran padatnya penduduk dan tingginya pembangunan di kota metropolitan.

Lalu bagaimana siasat Planetarium dan Observatorium Jakarta yang terletak di Cikini Raya agar tetap bisa melakukan observasi dan pengamatan benda-benda langit?

Menurut Satuan Pelaksana Teknik Pertunjukan dan Publikasi Planetarium dan Observatorium Jakarta, Eko Wahyu Wibowo, Rabu (17/7/2019), pihaknya mengandalkan rotasi bumi dan perhitungan astronomi untuk mengamati langit.

"Kalau dulu kan kita acak saja jam pengamatannya, tapi sekarang benar-benar harus kita hitung. Kalau enggak nanti tertutup, jadi bagaimana caranya kita tunggu sampai (benda-benda langit) melewati gedung-gedung (tinggi) itu," ujar Eko.

Baca juga: 23 Tahun Alat Tak Diganti, Planetarium Jakarta Menunggu Revitalisasi

Ia memaparkan beberapa benda langit masih ada yang cukup terang untuk diobservasi dengan teleskop. Seperti bulan, planet Jupiter, planet Saturnus, dan planet Mars.

Namun, untuk mengamati rasi bintang, Planetarium dan Observatorium Jakarta biasa melakukan pengamatan di luar kota yang masih memiliki udara bersih dan gelap.

"Untuk bintang-bintang yang cahayanya sudah redup, kita selenggarakan di luar daerah. Besok kita akan adakan star party, paling dekat di Bogor. Pernah di Dieng dan Pasuruan, kita mencari tempat yang betul-betul gelap," kata Eko.

Ia mengatakan, biasanya remaja hingga dewasa adalah mereka yang paling berminat melakukan pengamatan benda langit. Sementara untuk pertunjukan ruang angkasa memiliki segmen anak-anak usia 13 tahun ke bawah.

Baca juga: Saksikan Gerhana Bulan Sebagian di Plaza Teater Planetarium dan Observatorium Jakarta

"Kemarin ada gerhana bulan sebagian, itu ada 500 orang hadir dari sore sampai subuh," kata Eko.

Sementara untuk jumlah kunjungan umum Planetarium dan Observatorium Jakarta pada akhir pekan bisa mencapai 1.300 orang. Namun, jumlah ini menurun dari tahun-tahun sebelumnya akibat pertunjukan yang hanya dilangsungkan dua kali dalam sehari.

"Dulu bisa sampai 2.000 orang saat Sabtu Minggu, karena dulu sampai tujuh kali pertunjukan. Kalau sekarang hanya 1.300," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ditanya Soal Kesiapan Jakarta Menunju Endemi Covid-19, Begini Respons Wagub DKI

Ditanya Soal Kesiapan Jakarta Menunju Endemi Covid-19, Begini Respons Wagub DKI

Megapolitan
Dea 'OnlyFans' Rentan Sakit karena Hamil, Pengacara Minta Kliennya Tak Ditahan Kejaksaan

Dea "OnlyFans" Rentan Sakit karena Hamil, Pengacara Minta Kliennya Tak Ditahan Kejaksaan

Megapolitan
Wajib Lapor Kasus Pornografi, Dea 'OnlyFans' Disebut Sedang Hamil

Wajib Lapor Kasus Pornografi, Dea "OnlyFans" Disebut Sedang Hamil

Megapolitan
Ikuti Sidang Mafia Tanah, Kakak Nirina Zubir: Ada Pemain Figuran

Ikuti Sidang Mafia Tanah, Kakak Nirina Zubir: Ada Pemain Figuran

Megapolitan
Polisi Tangkap Nelayan Pencuri Motor, Pelaku Kelabui Korban dengan Modus Pinjam

Polisi Tangkap Nelayan Pencuri Motor, Pelaku Kelabui Korban dengan Modus Pinjam

Megapolitan
Tanggapi Pembelaan Kolonel Priyanto, Oditur Militer Anggap Terdakwa Sengaja Buang Sejoli ke Sungai

Tanggapi Pembelaan Kolonel Priyanto, Oditur Militer Anggap Terdakwa Sengaja Buang Sejoli ke Sungai

Megapolitan
Wali Kota Tangsel Sebut 'Work From Anywhere' Bisa Bikin Kerja Lebih Efektif

Wali Kota Tangsel Sebut "Work From Anywhere" Bisa Bikin Kerja Lebih Efektif

Megapolitan
Dharma Jaya Pastikan Sapi yang Dipasok ke Jakarta Bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku

Dharma Jaya Pastikan Sapi yang Dipasok ke Jakarta Bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku

Megapolitan
Bapak dan Anak yang Begal Ibu Muda di Teluknaga Sempat Coba Kabur Saat Hendak Ditangkap

Bapak dan Anak yang Begal Ibu Muda di Teluknaga Sempat Coba Kabur Saat Hendak Ditangkap

Megapolitan
Pemprov DKI Minta Perumda Dharma Jaya Antisipasi Penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku

Pemprov DKI Minta Perumda Dharma Jaya Antisipasi Penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku

Megapolitan
Anies Dijadwalkan Tiba di Jakarta Rabu Besok Usai Kunjungan ke 3 Negara Eropa

Anies Dijadwalkan Tiba di Jakarta Rabu Besok Usai Kunjungan ke 3 Negara Eropa

Megapolitan
Bapak dan Anak Lakukan Percobaan Pembegalan di Teluknaga, Seorang Ibu Muda Dibacok

Bapak dan Anak Lakukan Percobaan Pembegalan di Teluknaga, Seorang Ibu Muda Dibacok

Megapolitan
Wagub Sebut Rusun Kampung Bayam Akan Diisi Warga Sekitar serta Mereka yang Terdampak Normalisasi Sungai

Wagub Sebut Rusun Kampung Bayam Akan Diisi Warga Sekitar serta Mereka yang Terdampak Normalisasi Sungai

Megapolitan
Jadi Saksi Kasus Mafia Tanah, Nirina Zubir Harap Eks ART Divonis Seberat-beratnya

Jadi Saksi Kasus Mafia Tanah, Nirina Zubir Harap Eks ART Divonis Seberat-beratnya

Megapolitan
Volume Angkutan Kargo Bandara Naungan AP II Capai 41.500 Ton Selama Periode Lebaran 2022

Volume Angkutan Kargo Bandara Naungan AP II Capai 41.500 Ton Selama Periode Lebaran 2022

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.