Polisi Tangguhkan Penahanan Tersangka Usulan Sekolah Tak Pasang Foto Presiden

Kompas.com - 02/08/2019, 09:47 WIB
Tersangka Pengunggah Usulan Tak Usah Pasang Foto Presiden dan Wakil Presiden Minta Maaf. KOMPAS.com/JIMMY RAMADHAN AZHARITersangka Pengunggah Usulan Tak Usah Pasang Foto Presiden dan Wakil Presiden Minta Maaf.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pihak kepolisian telah mengabulkan permohonan penangguhan penahanan tersangka kasus usulan tak usah pasang foto presiden dan wakil presiden di sekolah, Asteria Fitriani.

"Iya sudah ditangguhkan," kata Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Budhi Herdi Susianto saat dikonfirmasi, Jumat (2/8/2019).

Budhi mengatakan, penangguhan penahanan itu telah dikabulkan sejak seminggu yang lalu.

Ia mengatakan ada beberapa pertimbangan oleh penyidik saat mengabulkan permohonan penangguhan penahanan Asteria.


"Dari subjektifitas penyidik melihat bahwa yang bersangkutan tidak ada kekhawatiran untuk melarikan diri," ucapnya.

Baca juga: 6 Fakta Status Tersangka Kasus Tak Usah Pasang Foto Presiden, dari Emosi hingga Akhirnya Minta Maaf

Hal itu didasari karena pihak keluarga yakni suami dan anak-anak dari Asteria bersedia menjadi penjamin.

Pertimbangan selanjutnya yakni kemungkinan Asteria mengulangi perbuatannya disebutkan Budhi bahwa tersangka sudah benar-benar menyesali perbuatannya.

"Bahkan (Asteria) menangis di depan kita kalau dia menyesal atas perbuatannya," ucap Budhi.

Sementara kemungkinan Asteria untuk menghilangkan barang bukti disebutkan Budhi sudah tidak memungkinkan karena barabg bukti tersebut sudah ada di tangan kepolisian.

Adapun Asteria ditahan karena dilaporkan salah seorang warga berinisal TCS atas tuduhan ujaran kebencian.

Baca juga: Kondisi Fisik dan Mental Tersangka Usulan Tak Usah Pasang Foto Presiden Menurun

Ujaran kebencian yang dimaksud adalah postingan di akun Facebooknya yang mengusulkan tak usah pasang foto presiden dan wakil presiden di sekolah-sekolah.

Asteria dianggap melanggar pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45 a ayat 2 Undang-Undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang ITE jo pasal 14 ayat 1 atau ayat 2, atau pasal 15 UU RI nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

Ia juga dikenakan pasal 160 KUHP tentang Penghasutan dan atau pasal 207 KUHP tentang penghinaan kepada penguasa.

Akibatnya,Asteria terancam hukuman maksimal enam tahun penjara atau denda maksimal Rp 1 Miliar.



Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anies Akan Panggil Para Pemilik Industri Pembakaran Arang Cilincing

Anies Akan Panggil Para Pemilik Industri Pembakaran Arang Cilincing

Megapolitan
17 Unit Mobil Pemadam Diturunkan Atasi Kebakaran di Pesing

17 Unit Mobil Pemadam Diturunkan Atasi Kebakaran di Pesing

Megapolitan
Nostalgia Bekas Warga Kampung Kebon Melati, Kini Kediaman Mereka Jadi Thamrin City

Nostalgia Bekas Warga Kampung Kebon Melati, Kini Kediaman Mereka Jadi Thamrin City

Megapolitan
Warga Kampung Kebon Melati yang Terkepung Gedung Pencakar Langit Ingin Jual Tanah Mereka

Warga Kampung Kebon Melati yang Terkepung Gedung Pencakar Langit Ingin Jual Tanah Mereka

Megapolitan
PKS DKI: Nama Cawagub Belum Berubah meski Syaikhu Lolos ke Senayan

PKS DKI: Nama Cawagub Belum Berubah meski Syaikhu Lolos ke Senayan

Megapolitan
DKI Akan Beri Keringanan Pajak dan Diskon Parkir bagi Pengguna Kendaraan Listrik

DKI Akan Beri Keringanan Pajak dan Diskon Parkir bagi Pengguna Kendaraan Listrik

Megapolitan
Seorang Penodong Lompat ke Kali Angke, Hingga Kini Belum Ditemukan

Seorang Penodong Lompat ke Kali Angke, Hingga Kini Belum Ditemukan

Megapolitan
DKI Promosi Wisata Bahari dan Konservasi Kepulauan Seribu lewat Festival Bahari Jakarta 2019

DKI Promosi Wisata Bahari dan Konservasi Kepulauan Seribu lewat Festival Bahari Jakarta 2019

Megapolitan
Dulu Warga Kampung Kebon Melati Sering Terganggu Dentuman Paku Bumi dan Mandi Debu

Dulu Warga Kampung Kebon Melati Sering Terganggu Dentuman Paku Bumi dan Mandi Debu

Megapolitan
Butuh Waktu agar Pengendara Motor Sadar Tidak Serobot Jalur Sepeda

Butuh Waktu agar Pengendara Motor Sadar Tidak Serobot Jalur Sepeda

Megapolitan
Selain Pedagang Teregistrasi, Hanya Pemegang KJP dan PJLP yang Bisa Belanja di JakGrosir

Selain Pedagang Teregistrasi, Hanya Pemegang KJP dan PJLP yang Bisa Belanja di JakGrosir

Megapolitan
Ini Tujuan Pemprov DKI Resmikan JakGrosir di Pulau Seribu

Ini Tujuan Pemprov DKI Resmikan JakGrosir di Pulau Seribu

Megapolitan
Kampung Kebon Melati, Permukiman yang Dikepung Gedung Pencakar Langit

Kampung Kebon Melati, Permukiman yang Dikepung Gedung Pencakar Langit

Megapolitan
Aladdin Tewas di Rumahnya, 4 Bulan Lalu Sang Istri yang Ditemukan Membusuk

Aladdin Tewas di Rumahnya, 4 Bulan Lalu Sang Istri yang Ditemukan Membusuk

Megapolitan
Saat Apartemen Mewah Dibangun, Pemilik Rumah Reyot Mandi Debu Tiap Hari

Saat Apartemen Mewah Dibangun, Pemilik Rumah Reyot Mandi Debu Tiap Hari

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X