Mengapa Polusi Udara di Bekasi Lebih Parah dari Jakarta pada Waktu Tertentu?

Kompas.com - 02/08/2019, 15:10 WIB
Situasi saat pengalihan arus lalu lintas di Simpang BCP, Kota Bekasi, Rabu (31/7/2019). KOMPAS.com/DEAN PAHREVISituasi saat pengalihan arus lalu lintas di Simpang BCP, Kota Bekasi, Rabu (31/7/2019).

BEKASI, KOMPAS.com - Berdasarkan data AirVisual, polusi udara di kota-kota penyangga Jakarta tak lebih baik ketimbang Ibu Kota pada waktu-waktu tertentu, khususnya pada malam hari.

Salah satu kota penyangga Jakarta yang menorehkan catatan buruk dalam hal kualitas udara ialah Bekasi. Tak jarang, pada malam hari, kualitas udara di Bekasi lebih buruk ketimbang Jakarta.

Pelaksana harian (Plh) Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kustantinah mengakui fenomena itu. Menurut dia, hal itu disumbang oleh beberapa faktor. Pertama, kemungkinan arah angin yang membawa polusi udara dair Jakarta ke kota sekitar.

Baca juga: Penerapan Ganjil Genap untuk Motor Dikaji karena Ikut Jadi Sumber Polusi Udara

"Kalau udara kan kita lihat arah angin, kita tidak bisa memprediksi arah mata angin ke mana. Kalau udara bisa saja mempengaruhi (dari Jakarta) ke seluruh wilayah Jabodetabek," ucap Kustantinah ditemui usai meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Sumur Batu, Bantargebang, Bekasi, Jumat (2/8/2019)

Di samping itu, Kustantinah menengarai bahwa fenomena ini terjadi lantaran pengerjaan proyek di sejumlah titik di Bekasi. Arus kendaraan keluar-masuk Jakarta-Bekasi pada jam berangkat dan pulang kerja pun bisa jadi salah satu faktornya.

"Pengujian kan kalau di jam-jam tertentu mungkin beda, karena kendaraannya berkurang atau bertambah. Pada saat tertentu bisa lebih baik atau lebih buruk (dari Jakarta). Apalagi kalau ada pembangunan jalan. Bisa saja, (lebih tinggi akibat) debu," ia menjelaskan.

Dugaan itu didapat dari hasil pengukuran partikel debu berukuran 10 mikron (PM 10) di Bekasi. Kemungkinan besar, debu-debu proyek inilah yang tertangkap alat pengukur kualitas udara.

Baca juga: Lebih Parah dari Jakarta, Ini Daftar Kota Paling Tercemar Polusi Udara

"Ya, PM 10 yang paling parah. Paling berpengaruh itu PM 10," kata Kustantinah.

Sebagai informasi, situs AirVisual mengukur tingkat polusi udara menggunakan PM 2,5 (partikel debu berukuran 2,5 mikron). Namun, pemerintah Indonesia masih memakai indikator PM 10.

Fakta bahwa polusi udara di kota-kota satelit Ibu Kota cukup parah pada waktu-waktu tertentu cukup menyita perhatian warganet. Salah satunya, Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies Elisa Sutanudjaja yang membuat twit mengenai hal ini lewat akun Twitter-nya.

"Halo warga Jawa Barat dan Banten, terutama yg di Tangerang, Tangsel, Bekasi, Cikarang, Karawang, Depok, Bogor, kualitas udara kalian tdk lebih baik dr Jakarta, malah lbh buruk. Dan Gubernur kalian turut tergugat, ayo tuntut kepala daerah kalian utk usaha perbaiki kualitas udara," tulis Elisa yang menyematkan gambar bidik layar situs AirVisual, Kamis (1/8/2019) pukul 01.42 WIB.

Dalam gambar bidik layar tersebut, wilayah indeks kualitas udara Bekasi 172 ug/m3, Bogor mencapai 168 mikrogram per meter kubik (ug/m3), Depok 207 ug/m3, dan Tangerang 164 ug/m3.

Angka-angka tersebut ditandai dengan indikator merah (berbahaya) dan ungu (sangat berbahaya). Sementara itu, kualitas udara Jakarta "hanya" sekitar 100-150 ug/m3 dengan indikator warna kuning dan jingga.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

1.200 Nasi 'Kotak Oranye' bagi Tenaga Medis di RSUP Persahabatan

1.200 Nasi "Kotak Oranye" bagi Tenaga Medis di RSUP Persahabatan

Megapolitan
Wali Kota Jakbar Usul 183 Warga yang Dikarantina di Masjid Jammi Dipindah ke Wisma Atlet

Wali Kota Jakbar Usul 183 Warga yang Dikarantina di Masjid Jammi Dipindah ke Wisma Atlet

Megapolitan
PNS Pemkot Bekasi Ada yang Positif Covid-19

PNS Pemkot Bekasi Ada yang Positif Covid-19

Megapolitan
Diperpanjang, Pelajar Jakarta Belajar dari Rumah hingga 19 April 2020

Diperpanjang, Pelajar Jakarta Belajar dari Rumah hingga 19 April 2020

Megapolitan
Pemkot Depok Siapkan RS UI hingga Ruang Sekolah untuk Tangani Kasus Covid-19

Pemkot Depok Siapkan RS UI hingga Ruang Sekolah untuk Tangani Kasus Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 Terus Meluas, Depok Kaji Opsi Karantina Wilayah

Kasus Covid-19 Terus Meluas, Depok Kaji Opsi Karantina Wilayah

Megapolitan
Depok Dapat 1.000 Alat Rapid Test Covid-19 dari Pemprov Jabar

Depok Dapat 1.000 Alat Rapid Test Covid-19 dari Pemprov Jabar

Megapolitan
Pemkot Depok Berencana Realokasi Anggaran untuk Penanganan Covid-19

Pemkot Depok Berencana Realokasi Anggaran untuk Penanganan Covid-19

Megapolitan
Anies Minta Warga Jakarta Tidak Pulang Kampung untuk Cegah Penyebaran Covid-19

Anies Minta Warga Jakarta Tidak Pulang Kampung untuk Cegah Penyebaran Covid-19

Megapolitan
Gelontorkan Rp 15 Miliar, Pemkot Depok Sebut Stok Masker Tenaga Medis Cukup untuk 3 Bulan

Gelontorkan Rp 15 Miliar, Pemkot Depok Sebut Stok Masker Tenaga Medis Cukup untuk 3 Bulan

Megapolitan
UPDATE Covid-19 di Depok 28 Maret: Tambahan 8 Kasus Positif dan 1 Meninggal

UPDATE Covid-19 di Depok 28 Maret: Tambahan 8 Kasus Positif dan 1 Meninggal

Megapolitan
Pemprov DKI Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19 sampai 19 April 2020

Pemprov DKI Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19 sampai 19 April 2020

Megapolitan
61 Tenaga Medis di Jakarta Terinfeksi Covid-19, Dirawat di 26 RS

61 Tenaga Medis di Jakarta Terinfeksi Covid-19, Dirawat di 26 RS

Megapolitan
Dr Tirta Ceritakan Menyedihkannya Kondisi Dokter yang Berjuang Lawan Covid-19

Dr Tirta Ceritakan Menyedihkannya Kondisi Dokter yang Berjuang Lawan Covid-19

Megapolitan
Data Kasus Covid-19 di 18 Kecamatan di Kabupaten Bekasi, Paling Banyak di Tambun Selatan

Data Kasus Covid-19 di 18 Kecamatan di Kabupaten Bekasi, Paling Banyak di Tambun Selatan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X