5 Kota dengan Indeks Kualitas Udara Tahunan Terburuk di Dunia

Kompas.com - 07/08/2019, 06:40 WIB
Pemandangan laut dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta Utara, Rabu (31/7/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPemandangan laut dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta Utara, Rabu (31/7/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.

JAKARTA, KOMPAS.com - Permasalahan kualitas udara di Jakarta menjadi perhatian akhir-akhir ini. Berdasarkan data AirVisual dalam seminggu terakhir, Jakarta beberapa kali menjadi kota dengan nilai indeks kualitas udara terburuk di dunia.

Data AirVisual selalu berubah sesuai dengan kondisi di lapangan. Selain Jakarta, ada beberapa kota lain yang pernah ditetapkan sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Berikut adalah lima kota dengan indeks kualitas udara rata-rata tahunan terburuk berdasarkan data AirVisual per akhir tahun 2018. 

Baca juga: Jakarta Darurat Polusi Udara, Awas Risiko Serangan Jantung Mengintai

1. New Delhi, India

Tahun 2017, sebanyak 1,2 juta penduduk India mengalami kematian yang disebabkan oleh polusi udara. Indeks tertinggi terjadi pada akhir tahun 2018 dengan nilai 845 berdasarkan acuan penghitungan PM2,5 atau termasuk dalam kategori berbahaya. 

Buruknya kualitas udara di New Delhi dipengaruhi awan asap petani yang bercampur dengan emisi kendaraan bermotor dan industri.

Selain itu, pembakaran petasan yang dilakukan saat perayaan Festival Hindu, Diwali, turut berkontribusi.

Ketika menyikapi hal tersebut, pemerintah India memberlakukan larangan terhadap truk besar masuk ke dalam kota selama tiga hari pada November 2018. Hal itu dilakukan untuk mengurangi tingkat pencemaran udara di New Delhi. 

Baca juga: New Delhi Jadi Ibu Kota Paling Tercemar di Dunia

2. Dhaka, Bangladesh

Dhaka merupakan salah satu kota di dunia yang sudah cukup lama berjuang melawan polusi udara. Pada akhir 2018, data AirVisual menyatakan Dhaka menduduki posisi kedua sebagai ibu kota dengan rata-rata indeks kualitas udara tahunan terburuk di dunia. 

Hampir serupa dengan New Delhi, sebagian besar penyebab polusi udara di Dhaka juga berasal dari emisi kendaraan dan industri. Umumnya, tingkat polusi menurun pada musim kemarau dan meningkat pada saat monsoon

Juli lalu, pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan akan bekerja sama dengan Bangladesh untuk memantau kualitas udara di Dhaka. Hal tersebut diwujudkan melalui pengembangan teknologi dan riset untuk meningkatkan kebersihan kualitas udara.

3. Kabul, Afghanistan 

Menurut Kementerian Kesehatan Afghanistan, lebih dari 3000 penduduk meninggal dunia akibat polusi udara setiap tahunnya. Buruknya kualitas udara sangat berpengaruh pada kesehatan masyarakat Kabul, khususnya anak-anak. 

Sumber utama polusi udara di Kabul dari emisi kendaraan yang sudah tua dan pembakaran sampah. 

Pemerintah memasang mesin pendeteksi kadar toksin di udara di beberapa lokasi sekitar Kabul. Selain itu, pembatasan aktivitas industri menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mencegah kualitas udara semakin memburuk.

4. Manama, Bahrain

Menurut laporan AirVisual, tahun 2018 Manama, Bahrain, menempati posisi keempat dengan indeks rata-rata kualitas udara tahunan sebesar 59,8. Di antara kota-kota di kawasan Timur Tengah, Manama merupakan kota dengan kualitas udara terburuk.

Belum ada banyak informasi mengenai kualitas udara di Manama. Sebagian besar sumber polusi udara di kota ini merasal dari emisi kendaraan dan industri.

5. Ulan Bator, Mongolia

Ulan Bator, Ibu Kota Mongolia, memiliki populasi lebih dari 1,5 juta penduduk. Setiap tahunnya, penggunaan batu bara di kota ini mencapai satu juta ton. 

Pencemaran udara di Ulan Bator paling banyak terjadi pada musim dingin, saat mayoritas penduduk menyalakan perapian dengan membakar batu bara. Sebagian orang bahkan membakar plastik dan kertas karena tidak sanggup membeli batu bara. 

Pemerintah setempat berwacana akan melarang penggunaan batu bara mentah dan menggantinya dengan batu bara yang telah diolah dan dibersihkan.

Namun, hal ini masih menimbulkan kontra dari sebagian masyarakat karena biaya batu bara olahan mahal.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[UPDATE] Covid-19 Depok 26 September: 89 Kasus Baru, Total 845 Pasien Masih Ditangani

[UPDATE] Covid-19 Depok 26 September: 89 Kasus Baru, Total 845 Pasien Masih Ditangani

Megapolitan
Terjaring Razia Hotel, Seorang Kakek Janji Nikahi Pasangannya yang Berusia 22 Tahun

Terjaring Razia Hotel, Seorang Kakek Janji Nikahi Pasangannya yang Berusia 22 Tahun

Megapolitan
Petugas Satpol PP Tersetrum saat Turunkan Baliho Paslon Pilkada Depok

Petugas Satpol PP Tersetrum saat Turunkan Baliho Paslon Pilkada Depok

Megapolitan
Hilang Kendali karena Pecah Ban, Truk Terbalik di Serpong

Hilang Kendali karena Pecah Ban, Truk Terbalik di Serpong

Megapolitan
UPDATE 26 September, 332 Pasien Covid-19 di Kota Bogor Masih Dirawat di RS

UPDATE 26 September, 332 Pasien Covid-19 di Kota Bogor Masih Dirawat di RS

Megapolitan
Update 26 September: Bertambah 109, Kini Ada 2.466 Kasus Covid-19 di Kabupaten Bekasi

Update 26 September: Bertambah 109, Kini Ada 2.466 Kasus Covid-19 di Kabupaten Bekasi

Megapolitan
UPDATE Covid-19 DKI Jakarta 26 September: 1.052 Kasus Baru, 2 Pasien Meninggal

UPDATE Covid-19 DKI Jakarta 26 September: 1.052 Kasus Baru, 2 Pasien Meninggal

Megapolitan
Cuti Ikut Pilkada Tangsel 2020, Benyamin Kembalikan 3 Mobil dan Rumah Dinas

Cuti Ikut Pilkada Tangsel 2020, Benyamin Kembalikan 3 Mobil dan Rumah Dinas

Megapolitan
Satpol PP Kesulitan, Banyak Warga Jakarta Cari Hiburan di Bekasi sejak PSBB

Satpol PP Kesulitan, Banyak Warga Jakarta Cari Hiburan di Bekasi sejak PSBB

Megapolitan
Peringatan Dini BMKG: Hujan Lebat Guyur Bogor hingga Malam

Peringatan Dini BMKG: Hujan Lebat Guyur Bogor hingga Malam

Megapolitan
Rumah Dijadikan Pabrik Ekstasi, Pengedar di Tangerang Sudah Produksi Selama Satu Bulan

Rumah Dijadikan Pabrik Ekstasi, Pengedar di Tangerang Sudah Produksi Selama Satu Bulan

Megapolitan
Foto Viral Pengunjung Kafe Bekasi Berkerumun Tanpa Masker, Satpol PP Langsung Cek ke Lokasi

Foto Viral Pengunjung Kafe Bekasi Berkerumun Tanpa Masker, Satpol PP Langsung Cek ke Lokasi

Megapolitan
Peredaran Ekstasi dari Rumah di Cipondoh Tangerang Dikendalikan Napi dalam Lapas

Peredaran Ekstasi dari Rumah di Cipondoh Tangerang Dikendalikan Napi dalam Lapas

Megapolitan
Satpol PP Amankan Kakek dengan Perempuan Berusia 22 Tahun Saat Razia Hotel di Serpong

Satpol PP Amankan Kakek dengan Perempuan Berusia 22 Tahun Saat Razia Hotel di Serpong

Megapolitan
Sama dengan di RSD Wisma Atlet, Begini Perawatan Pasien Covid-19 yang Isolasi di Hotel

Sama dengan di RSD Wisma Atlet, Begini Perawatan Pasien Covid-19 yang Isolasi di Hotel

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X