Ima Mahdiah, Eks Staf Ahok, Punya 2 Cara Hindari Korupsi di DPRD DKI

Kompas.com - 15/08/2019, 09:28 WIB
Caleg DPRD DKI Ima Mahdiah yang juga mantan staf Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Foto diambil di Meruya Utara, Jakarta Barat, Rabu (30/1/2019). KOMPAS.com/KURNIA SARI AZIZACaleg DPRD DKI Ima Mahdiah yang juga mantan staf Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Foto diambil di Meruya Utara, Jakarta Barat, Rabu (30/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Citra para wakil rakyat atau DPRD dan DPR RI sering tercoreng oleh praktik korupsi. Selevel Ketua DPR RI seperti Setya Novanto misalnya berujung dengan mendekam di bui karena tersangkut kasus korupsi pada proyek KTP elektronik.

DPRD DKI Jakarta juga tercoreng kasus korupsi. Anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Gerindra M Sanusi ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tanggal 31 Maret 2016, terkiat kasus suap reklamasi Jakarta. Ia kemudian divonis tujuh tahun penjara dalam kasus itu.

Ima Mahdiah (27), anggota DPRD DKI Jakarta terpilih untuk periode 2019-2024 dari fraksi PDI-P tak menampik reputasi miring para wakil rakyat itu. Perempuan yang pernah jadi staf Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat Ahok jadi gubernur Jakarta itu berharap dirinya bisa kebal dari praktik permainan anggaran (korupsi) di Kebon Sirih, lokasi gedung DPRD DKI.

Baca juga: Cerita Ima Mahdiah Tiru Gaya Blusukan Ahok yang Jadi Mentor Politiknya

"Saya sih tetap patuh pada konstitusi ya. Saya pengin belajar, mengamati, seperti apa orang di dalam (DPRD DKI), termasuk dari partai saya sendiri," kata Ima via telepon kepada Kompas.com, Rabu (14/8/2019) siang.

Ima mengeklaim, Ketua Umum PDI-P Megawatj Soekarnoputri kerap mewanti-wanti kadernya agar tak terjerat permainan anggaran, meskipun faktanya sejumlah kader PDI-P terjerat operasi tangkap tangan KPK.

"Setidaknya Ibu Mega perintahkan kami tidak boleh korupsi, memainkan anggaran, harus kerja buat masyarakat. Itu yang jadi pegangan saya saja," kata Ima.

Punya dua kiat

Alumnus Universitas Paramadina itu tak bisa menjamin apa-apa selain ketaatannya pada konstitusi dan sumpahnya kelak usai dilantik sebagai wakil rakyat.

Namun, dia cukup percaya diri bisa menghalau peluang korupsi yang bisa saja terjadi di Kebon Sirih. Ima punya dua kiat yang ia yakini sukses.

"Satu kita enggak ikut main. Ya memang, kalau sekarang kita ngomong enak saja begini. Cuma saya belajar dari Pak Ahok, Bapak bilang, 'ketika lu di dalam, taatnya pada konstitusi, lu disumpah dan digaji pakai uang rakyat, masa sih sudah dicukupin mau korupsi, masih mau mainin anggaran?'" kata Ima.

"Pak Ahok juga sering cerita, di DPR RI dulu ada beberapa teman yang main (anggaran), yang penting Pak Ahoknya enggak main. Yang penting semua yang kita dapat, kita laporin," imbuhnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Zona Merah Covid-19 di Kota Tangerang Tersisa 9 RW

Zona Merah Covid-19 di Kota Tangerang Tersisa 9 RW

Megapolitan
Komunitas Seniman Pertanyakan Urgensi Pemkot Tangerang Minta Kosongkan Lahan Semanggi Center

Komunitas Seniman Pertanyakan Urgensi Pemkot Tangerang Minta Kosongkan Lahan Semanggi Center

Megapolitan
Ganjil Genap Dihapus, 90 Persen Pedagang Pasar Minggu Mulai Berjualan

Ganjil Genap Dihapus, 90 Persen Pedagang Pasar Minggu Mulai Berjualan

Megapolitan
Aparat Belum Bantu Pembatasan Pengunjung di Sejumlah Pasar di Jaksel

Aparat Belum Bantu Pembatasan Pengunjung di Sejumlah Pasar di Jaksel

Megapolitan
UPDATE 2 Juli: Bertambah 13, Total 414 Kasus Positif Covid-19 di Tangsel

UPDATE 2 Juli: Bertambah 13, Total 414 Kasus Positif Covid-19 di Tangsel

Megapolitan
Dishub DKI: Jumlah Kendaraan di Jalanan Jakarta Mendekati Sebelum Covid-19

Dishub DKI: Jumlah Kendaraan di Jalanan Jakarta Mendekati Sebelum Covid-19

Megapolitan
UPDATE 2 Juli, Sisa 19 Pasien Positif Covid-19 di Kota Bekasi, 12 RW Masih di Zona Merah

UPDATE 2 Juli, Sisa 19 Pasien Positif Covid-19 di Kota Bekasi, 12 RW Masih di Zona Merah

Megapolitan
Kasus Penusukan Anggota Babinsa Serda Saputra, Polisi Tangkap Seorang Tersangka

Kasus Penusukan Anggota Babinsa Serda Saputra, Polisi Tangkap Seorang Tersangka

Megapolitan
PT MRT Jakarta Bakal Tambah Durasi Jam Sibuk bila Jumlah Penumpang Melonjak

PT MRT Jakarta Bakal Tambah Durasi Jam Sibuk bila Jumlah Penumpang Melonjak

Megapolitan
Orderan Kurir Sepeda Jakarta Melonjak Selama Pandemi Covid-19

Orderan Kurir Sepeda Jakarta Melonjak Selama Pandemi Covid-19

Megapolitan
Orangtua Keluhkan Titik Koordinat PPDB Jalur Zonasi yang Salah, Pemkot Bekasi: Human Error

Orangtua Keluhkan Titik Koordinat PPDB Jalur Zonasi yang Salah, Pemkot Bekasi: Human Error

Megapolitan
Besok Kota Bogor Masuki Fase Pra-Adaptasi Kebiasaan Baru

Besok Kota Bogor Masuki Fase Pra-Adaptasi Kebiasaan Baru

Megapolitan
Garuda Indonesia Beri Penjelasan Berkait Penumpangnya yang Sesak Napas Lalu Meninggal

Garuda Indonesia Beri Penjelasan Berkait Penumpangnya yang Sesak Napas Lalu Meninggal

Megapolitan
Kegiatan Belajar Mengajar di Kota Tangerang Dimulai 13 Juli secara Daring

Kegiatan Belajar Mengajar di Kota Tangerang Dimulai 13 Juli secara Daring

Megapolitan
Sejumlah Orangtua Datangi Kantor Disdik Kota Bekasi Keluhkan Data Jalur Zonasi Tak Valid

Sejumlah Orangtua Datangi Kantor Disdik Kota Bekasi Keluhkan Data Jalur Zonasi Tak Valid

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X