Cerita Bekasi, Gelanggang Sabung Nyawa Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Kompas.com - 17/08/2019, 07:37 WIB
Kompas TV Merah putih memiliki banyak makna. Dalam istilah Austronesia, merah berarti bumi dan putih berarti langit. Nah, Sang Saka Merah Putih memiliki arti keberanian para pahlawan melawan penjajah dan kesucian niat para pahlawan. Sebelum megah berkibar seperti sekarang, bendera merah putih Indonesia awalnya dijahit oleh Ibu Fatmawati dengan bahan kain katun Jepang. Bendera itu dikibarkan saat pembacaan teks proklamasi oleh Presiden Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur. Namun, saat bendera itu mulai robek, diganti dengan replika berbahan kain sutra. Hingga hari ini, Sang Saka Merah Putih berkibar di seluruh pantai Indonesia. Makin bangga jadi orang Indonesia. #benderamerahputih #hut74ri #17agustus

Hal itu kian parah ketika Laskar Rakyat Jakarta Raya, yang mulanya berbagi barak dengan tentara Indonesia, malah memberontak.

Pemberontakan yang menyebar dari Tambun sampai Karawang itu meletus pada 1947 dan menimbulkan perang saudara.

Anggota laskar kemudian ditendang; sebagian besar melarikan diri ke Jakarta.

Saat kekuatan Indonesia mengendur akibat pemberontakan itu, Belanda melancarkan agresi militer pertamanya pada 21 Juli 1947. Pertahanan Bekasi akhirnya bobol sampai Karawang.

"Belakangan baru diketahui, mereka (Laskar Rakyat Jakarta Raya) memang jadi mata-mata Belanda. Setelah peristiwa pemberontakan itu, sebagian melarikan diri ke Jakarta dan bergabung dengan Belanda," ujar Ali.

"Tanggal 21 Juli 1947, posisi mereka ada di lokomotif kereta. Penyerangan saat itu kan lewat jalur udara, mobil dan kereta api. Nah, orang-orang pemberontak itu di kereta api, kelihatan betul di lokomotif".

"Ayah saya melihat sendiri, si ini, si itu, kok dia bersama Belanda, ketika terlihat di paling depan di lokomotif itu," lanjut Ali.

Baca juga: Tugu Sentul Jombang, Monumen Pejuang Kemerdekaan yang Kini Tak Terawat

Pada akhirnya, Belanda memang angkat kaki dari Bekasi. Juga dari republik. Tepatnya selepas agresi militer II pada 1949.

Seiring itu, Bekasi pun dikenang sebagai gelanggang sabung nyawa para pejuang mempertahankan negara.

Fenomena ini bahkan jadi inspirasi berbagai begawan seniman kenamaan Indonesia pada awal masa kemerdekaan.

Komponis Ismail Marzuki juga menggubah tembang berjudul Melati di Tapal Batas.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer pun tak ketinggalan. Ia mewedarkan novel sejarah Di Tepi Kali Bekasi dan Kranji Jatuh.

Pujangga Chairil Anwar mendedahkan sajak lirih nan menggetarkan soal kegigihan para patriot yang gugur di Bekasi dalam Krawang-Bekasi (1948).

Bunyinya, "kami cuma tulang-tulang berserakan. Tapi adalah kepunyaanmu. Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan. Kenang, kenanglah kami. Teruskan, teruskan jiwa kami. Menjaga Bung Karno, menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Sjahrir. Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu. Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi".

 

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejumlah Langkah Polisi dan Pemprov DKI Cegah Pemudik Balik ke Jakarta

Sejumlah Langkah Polisi dan Pemprov DKI Cegah Pemudik Balik ke Jakarta

Megapolitan
TNI dan Polri Akan Pantau Warga Terapkan Protokol Pencegahan Covid-19

TNI dan Polri Akan Pantau Warga Terapkan Protokol Pencegahan Covid-19

Megapolitan
5 Penjelasan BMKG Soal Panasnya Cuaca Jabodetabek Belakangan Ini

5 Penjelasan BMKG Soal Panasnya Cuaca Jabodetabek Belakangan Ini

Megapolitan
Bekasi Menuju 'New Normal' Pandemi Covid-19: Restoran Dibuka, Pembelinya Dibatasi

Bekasi Menuju "New Normal" Pandemi Covid-19: Restoran Dibuka, Pembelinya Dibatasi

Megapolitan
Pemprov DKI Godok Protokol Kesehatan untuk New Normal di Jakarta

Pemprov DKI Godok Protokol Kesehatan untuk New Normal di Jakarta

Megapolitan
Masih Bingung soal Surat Izin Keluar Masuk Jakarta? Ini Segala Info Tentang SIKM

Masih Bingung soal Surat Izin Keluar Masuk Jakarta? Ini Segala Info Tentang SIKM

Megapolitan
Bantu Orang Mabuk, Warga Depok Malah Dikeroyok

Bantu Orang Mabuk, Warga Depok Malah Dikeroyok

Megapolitan
Wali Kota Depok: Penularan Lokal Covid-19 Masih Terjadi, Ekonomi Mulai Oleng

Wali Kota Depok: Penularan Lokal Covid-19 Masih Terjadi, Ekonomi Mulai Oleng

Megapolitan
Bantah Mal di Jakarta Buka Mulai 5 Juni, Anies: Itu Imajinasi, Itu Fiksi...

Bantah Mal di Jakarta Buka Mulai 5 Juni, Anies: Itu Imajinasi, Itu Fiksi...

Megapolitan
Deteksi Mulai Gencar, Kasus Harian Covid-19 di Depok Naik Signifikan

Deteksi Mulai Gencar, Kasus Harian Covid-19 di Depok Naik Signifikan

Megapolitan
Kurva Kasus Positif Covid-19 Jakarta Menurun, Ini Rincian Data 47 Hari Penerapan PSBB

Kurva Kasus Positif Covid-19 Jakarta Menurun, Ini Rincian Data 47 Hari Penerapan PSBB

Megapolitan
Tak Punya SIKM, 5 Penumpang KA dari Surabaya Dikarantina di Gelanggang Remaja Gambir

Tak Punya SIKM, 5 Penumpang KA dari Surabaya Dikarantina di Gelanggang Remaja Gambir

Megapolitan
Penerapan New Normal di Kota Bekasi, Ini Penjelasan Gubernur Emil

Penerapan New Normal di Kota Bekasi, Ini Penjelasan Gubernur Emil

Megapolitan
UPDATE 26 Mei: Bertambah 24 Kasus, Total 535 Orang Positif Covid-19 di Depok

UPDATE 26 Mei: Bertambah 24 Kasus, Total 535 Orang Positif Covid-19 di Depok

Megapolitan
Wali Kota Tangerang Instruksikan Siapkan Kebijakan New Normal

Wali Kota Tangerang Instruksikan Siapkan Kebijakan New Normal

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X