Kompas.com - 22/08/2019, 19:26 WIB
Sasana Tresna Wreda RIA Pembangunan, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (22/8/2019). KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOSasana Tresna Wreda RIA Pembangunan, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (22/8/2019).
Penulis Dean Pahrevi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Dibuka pada 1984, Sasana Tresna Werdha (STW) RIA Pembangunan yang dikelola oleh Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan dan diprakarsai oleh Hj. Siti Hartinah Soeharto atau Tien Soeharto mulai melayani para lanjut usia (lansia).

Awalnya STW ini melayani para janda pahlawan, pahlawan nasional, pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), perintis kemerdekaan dan orang-orang yang berjasa untuk negara lainnya yang membutuhkan hunian selain rumah tinggal.

"Alasan mereka meninggalkan rumah, mungkin mereka tidak punya keluarga, atau tidak punya keturunan atau anak-anaknya jauh. Sehingga daripada mereka tinggal sendiri, enggak punya kegiatan, makin tua makin ringkis dan bisa ganggu kesehatan maka Bu Tien bangun tempat ini," kata Kepala STW RIA Pembangunan Ibnu Abas di STW RIA Pembangunan, Jalan Karya Bhakti, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (22/8/2019).

Baca juga: 2 Pria Uzur Kabur dari Panti Jompo demi Nonton Konser Heavy Metal

Pada awalnya, layanan untuk lansia di STW itu gratis. Namun, pasca krisis moneter tahun 1998, STW sudah mulai mengenakan biaya bagi lansia yang ingin tinggal di STW.

Bertahun-tahun melayani lansia, sejumlah bangunan di STW pun semakin tua dan harus direnovasi. Akhirnya pada 2015, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menghibahkan pembangunan Rumah Susun (Rusun) dengan tiga lantai di area STW.

Selesai dibangun, pada April 2018 Rusun tiga lantai tersebut diresmikan dan bisa ditempati para lansia.

Baca juga: Tua Itu Pasti, Bahagia Kudu Upaya dari Muda

Lansia peghuni Sasana Tresna Wreda RIA Pembangunan, Cibubur, Jakarta Timur, tengah istirahat, Kamis (22/8/2019). KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Lansia peghuni Sasana Tresna Wreda RIA Pembangunan, Cibubur, Jakarta Timur, tengah istirahat, Kamis (22/8/2019).

Bukan Panti Jompo

Ibnu mengatakan, Rusun lansia RIA Pembangunan ini berbeda dengan Panti Jompo. Jika di panti jompo pada dasarnya lansia itu dititipkan, maka di Rusun lansia RIA Pembangunan lansia harus memiliki kemauan sendiri untuk tinggal atau menjadi penghuni rusun.

Berbeda dengan panti jompo, penghuni di rusun lansia ini memiliki kamar sendiri dan bebas melakukan aktivitas sehari-hari.

Kemudian dari segi label, STW ini bukan panti melainkan rusun untuk lansia. Jadi penghuni merasa bukan tinggal di panti melainkan di rusun khusus untuk lansia.

Lalu apabila konsep panti jompo itu penghuninya dititipkan, kalau di rusun lansia ini penghuni atas kemauan sendiri untuk tinggal.

Baca juga: Sekda DKI: Rencana Pembangunan Panti Jompo di Ciangir Butuh Kajian

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bertambah, Temuan Kasus Covid-19 Kini Ada di 90 Sekolah Jakarta

Bertambah, Temuan Kasus Covid-19 Kini Ada di 90 Sekolah Jakarta

Megapolitan
Kasus Covid-19 di PN Depok Bertambah, 21 Pegawai Terkonfirmasi Positif

Kasus Covid-19 di PN Depok Bertambah, 21 Pegawai Terkonfirmasi Positif

Megapolitan
Alasan Ibu Laporkan Anak yang Jual Kulkasnya: Saya Tak Kuat Lagi, Saya Diusir, Pantas Enggak?

Alasan Ibu Laporkan Anak yang Jual Kulkasnya: Saya Tak Kuat Lagi, Saya Diusir, Pantas Enggak?

Megapolitan
Kebakaran Hanguskan 26 Rumah di Tambora, Diduga akibat Korsleting

Kebakaran Hanguskan 26 Rumah di Tambora, Diduga akibat Korsleting

Megapolitan
UPDATE 25 Januari: Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Tembus 2.190, 9 Pasien Meninggal

UPDATE 25 Januari: Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Tembus 2.190, 9 Pasien Meninggal

Megapolitan
Dukcapil Akan Layani Perbaikan Dokumen Kependudukan bagi Warga Terdampak Banjir di Tegal Alur

Dukcapil Akan Layani Perbaikan Dokumen Kependudukan bagi Warga Terdampak Banjir di Tegal Alur

Megapolitan
Butuh Uang Usai Kena PHK, Pria di Ciputat Jual Kulkas Ibunya lalu Dilaporkan ke Polisi, Kini Jadi Terdakwa

Butuh Uang Usai Kena PHK, Pria di Ciputat Jual Kulkas Ibunya lalu Dilaporkan ke Polisi, Kini Jadi Terdakwa

Megapolitan
Pemkot Siapkan 60 RPTRA di Jakarta Selatan sebagai Sentra Vaksinasi 'Booster'

Pemkot Siapkan 60 RPTRA di Jakarta Selatan sebagai Sentra Vaksinasi "Booster"

Megapolitan
Disdamkar: 146 kebakaran terjadi di Kabupaten Bekasi sepanjang 2021

Disdamkar: 146 kebakaran terjadi di Kabupaten Bekasi sepanjang 2021

Megapolitan
Polisi Kejar Pemasok Sabu yang Diedarkan di Kawasan Kepulauan Seribu

Polisi Kejar Pemasok Sabu yang Diedarkan di Kawasan Kepulauan Seribu

Megapolitan
Advokat yang Memaki Ibu Korban Kekerasan Seksual di Depok Dinilai Langgar Kode Etik

Advokat yang Memaki Ibu Korban Kekerasan Seksual di Depok Dinilai Langgar Kode Etik

Megapolitan
Kronologi Pembongkaran Trotoar di Cilandak, Pemkot Jaksel Sebut PNS Tak Terlibat

Kronologi Pembongkaran Trotoar di Cilandak, Pemkot Jaksel Sebut PNS Tak Terlibat

Megapolitan
Pihak Keluarga Belum Terima Pemberitahuan Perkembangan Penyidikan Kakek Tewas Dikeroyok di Cakung

Pihak Keluarga Belum Terima Pemberitahuan Perkembangan Penyidikan Kakek Tewas Dikeroyok di Cakung

Megapolitan
Gudang di Tambora Kebakaran, Petugas Damkar Masih Berjibaku Padamkan Api

Gudang di Tambora Kebakaran, Petugas Damkar Masih Berjibaku Padamkan Api

Megapolitan
Sidang Kebakaran Lapas Tangerang, Kuasa Hukum Terdakwa Belum Tentu Hadirkan Saksi Meringankan

Sidang Kebakaran Lapas Tangerang, Kuasa Hukum Terdakwa Belum Tentu Hadirkan Saksi Meringankan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.