Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Ati, Warga Kampung Bengek Bertahan Hidup di Atas Lautan Sampah

Kompas.com - 31/08/2019, 06:06 WIB
Hilel Hodawya,
Sabrina Asril

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah kampung berdiri di atas rawa yang dipenuhi dengan tumpukan sampah. Kampung itu adalah Kampung Bengek (kini dikenal Kampung Baru) yang berlokasi di kawasan RW 17 Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.

Memulung dan menganggur. Itulah pekerjaan sehari-hari yang umumnya dilakukan oleh sebagian besar warga Kampung Bengek. Keterbatasan lahan pekerjaan di Jakarta sangat mereka rasakan.

Di antara ribuan warga yang tinggal di sana, Ati (53) adalah salah seorang penghuni yang telah merasakan tinggal di Kampung Bengek sejak awal berdiri lima tahun yang lalu.

Bagi Ati, urusan bertahan hidup ia prioritaskan untuk anak dan cucunya.

Baca juga: Kisah Warga Kampung Bengek yang Terkepung Lautan Sampah di Teluk Jakarta

"Kasihan banyak anak kecil-kecil. Yang utama mah saya anak cucu," ucap Ati.

Suami dan menantu Ati bekerja sebagai pelaut. Mereka hanya kembali ke rumah setahun sekali dengan penghasilan seadanya.

Demi memberi anak dan cucunya makan, sesekali Ati bekerja sebagai pemulung dan penjual cilok.

Suasana aktivitas di Kampung Bengek, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (29/8/2019). Timbunan sampah plastik telah memadati kawasan ini sejak lama karena kurangnya perhatian dari pemerintah setempat.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Suasana aktivitas di Kampung Bengek, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (29/8/2019). Timbunan sampah plastik telah memadati kawasan ini sejak lama karena kurangnya perhatian dari pemerintah setempat.

Di rumah yang berukuran 4x4 meter, Ati tinggal bersama delapan orang anggota keluarga lainnya. Cucunya yang paling muda baru berusia 10 bulan.

"Ada cucu masih kecil. Makanya saya bilang kalau ada duit mending dipakai buat beli susu," tutur Ati.

Baca juga: Sulitnya Akses Menuju Kampung Bengek, Lautan Sampah Terpencil yang Tak Muncul di Peta

Tidak jarang, usaha Ati tidak membuahkan hasil.

"Kalau pas lagi enggak punya, ngutang di warung," tambah Ati sambil menitikkan air mata.

Ati pertama kali pindah ke Jakarta dari Lampung untuk ikut dengan sang suami. Setelah 25 tahun bertahan di RT 11, akhirnya ia memilih untuk membeli rumah di Kampung Bengek.

Suasana aktivitas di Kampung Bengek, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (29/8/2019). Timbunan sampah plastik telah memadati kawasan ini sejak lama karena kurangnya perhatian dari pemerintah setempat.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Suasana aktivitas di Kampung Bengek, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (29/8/2019). Timbunan sampah plastik telah memadati kawasan ini sejak lama karena kurangnya perhatian dari pemerintah setempat.

Rumah-rumah di Kampung Bengek bukanlah rumah yang didirikan secara legal. Secara administrasi, Ati dan keluarga masih terdaftar sebagai bagian dari RT 11.

Namun, lokasi Ati yang sudah terpisah dengan pemukiman RT 11 membuatnya tidak lagi dianggap sebagai bagian dari RT tersebut.

GALERI FOTO: Kampung Bengek yang ada di atas lautan sampah

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Progres LRT Jakarta Fase 1B Sudah 15,1 Persen, Warga Antusias Menanti Rampung

Progres LRT Jakarta Fase 1B Sudah 15,1 Persen, Warga Antusias Menanti Rampung

Megapolitan
Datangi Polres Jakbar, Keluarga Sebut Virgoun Masih Menjalani Pemeriksaan Terkait Narkoba

Datangi Polres Jakbar, Keluarga Sebut Virgoun Masih Menjalani Pemeriksaan Terkait Narkoba

Megapolitan
Baleg DPR: Jakarta Masih Jadi Ibu Kota Sebelum Kepres Turun

Baleg DPR: Jakarta Masih Jadi Ibu Kota Sebelum Kepres Turun

Megapolitan
Normalisasi Sungai Cidepit Bogor, Bangunan di Bantaran Kali Bakal Dibongkar

Normalisasi Sungai Cidepit Bogor, Bangunan di Bantaran Kali Bakal Dibongkar

Megapolitan
Pengamat Nilai Anies Cenderung Menolak Duet dengan Kaesang pada Pilkada Jakarta 2024

Pengamat Nilai Anies Cenderung Menolak Duet dengan Kaesang pada Pilkada Jakarta 2024

Megapolitan
Pelukis di Gunung Sahari: Masyarakat di Kota Sulit untuk Mengapresiasi Seni...

Pelukis di Gunung Sahari: Masyarakat di Kota Sulit untuk Mengapresiasi Seni...

Megapolitan
Virgoun di Balik Jerat Narkoba, Ditangkap Saat Bersama Wanita dan Nasibnya Ditentukan dalam 3x24 Jam

Virgoun di Balik Jerat Narkoba, Ditangkap Saat Bersama Wanita dan Nasibnya Ditentukan dalam 3x24 Jam

Megapolitan
Komentari Tapera, Pemilik Rumah Subsidi Program Jokowi Berharap Kualitas Bangunan Diperbaiki

Komentari Tapera, Pemilik Rumah Subsidi Program Jokowi Berharap Kualitas Bangunan Diperbaiki

Megapolitan
Kronologi Penangkapan Virgoun Terkait Kasus Narkoba, Digerebek Tanpa Perlawanan Usai Konsumsi Sabu

Kronologi Penangkapan Virgoun Terkait Kasus Narkoba, Digerebek Tanpa Perlawanan Usai Konsumsi Sabu

Megapolitan
Pelukis di Gunung Sahari Mengaku Sempat Diminta Bantu Dongkrak Pemulihan Pariwisata di Jakarta Setelah 1998

Pelukis di Gunung Sahari Mengaku Sempat Diminta Bantu Dongkrak Pemulihan Pariwisata di Jakarta Setelah 1998

Megapolitan
Satpol PP DKI Klaim Sempat Kejar Jambret di CFD yang Terekam Kamera Fotografer

Satpol PP DKI Klaim Sempat Kejar Jambret di CFD yang Terekam Kamera Fotografer

Megapolitan
Pria yang Tersambar Api akibat Gas Bocor di Bogor Meninggal Dunia

Pria yang Tersambar Api akibat Gas Bocor di Bogor Meninggal Dunia

Megapolitan
Wacana Duet Anies-Kaesang pada Pilkada Jakarta Dinilai Tak Akan Terwujud

Wacana Duet Anies-Kaesang pada Pilkada Jakarta Dinilai Tak Akan Terwujud

Megapolitan
Sambut HUT Jakarta 22 Juni, Monas Gratiskan Tiket Masuk sampai Cawan

Sambut HUT Jakarta 22 Juni, Monas Gratiskan Tiket Masuk sampai Cawan

Megapolitan
Viral Video Bocah Digigit Anjing Tetangga di Kebayoran Lama, Korban Alami Luka di Mata

Viral Video Bocah Digigit Anjing Tetangga di Kebayoran Lama, Korban Alami Luka di Mata

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com