Cerita Agus, Pedagang Buku Kwitang Bertahan di Era Digital

Kompas.com - 04/09/2019, 09:42 WIB
Agus Darmanto, pedagang buku Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2019). KOMPAS.com/CYNTHIA LOVAAgus Darmanto, pedagang buku Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2019).
Penulis Cynthia Lova
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang laki-laki bertopi duduk di samping buku-buku bekas yang ditumpuk di depan rolling door ruko di kawasan Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.

Laki-laki itu ialah Agus Darmanto, penjual buku di Kwitang, Jakarta Pusat. Ia tampak santai menggunting kukunya sembari menunggu pelanggan.

Saat dihampiri pelanggan, ia menyambutnya dengan senyuman.

“Cari buku apa, bu? tanya Agus.


Ia tampak teliti mencari satu per satu buku yang dicari pelanggannya. Buku pelajaran matematika SMA yang diminta akhirnya ditemukan.

Buku bekas yang ia jual harganya antara Rp 5000 hingga Rp 150.000.

Agus bercerita, dirinya telah menggeluti jualan buku selama sepuluh tahun di Kwitang.

Sebelumnya, pria berusia 70 tahun ini bekerja menjadi sekuriti di kawasan Kwitang. Semenjak pensiun, ia kemudian beralih profesi menjadi pedagang buku bekas.

“Saya bosen di rumah dibanding saya sakit-sakitan. Mending saya jualan, makan tinggal bilang, minum tinggal bilang,” ucapnya.

Tak banyak modal yang dikeluarkannya kala itu. Ia hanya modal nekat dan berbekal pengetahuan tentang buku.

Saat menjadi satpam, ia sering datang ke toko buku di sekitar kantornya untuk membaca.

“Saya saat jadi satpam sering liat orang-orang beli buku, kayak apa aja yang sering dicari saya tahu. Terus sesekali kalau istirahat saya suka numpang baca buku. Nah karena tertarik makanya saya buka usaha buku,” ujar Agus.

Awalnya, Agus hanya menjual sejumlah buku yang ia bawa di dalam tas. Buku tersebut  kemudiam ia pajang di pinggir jalan.

Setelah berkembang, ia memiliki toko sendiri untuk menyimpan buku-bukunya.

“Jadi saya jual di pinggir jalan supaya banyak dilihat orang, tapi saya punya toko juga di dalam buat simpan buku,” ujar Agus.

Beli rumah dari jualan buku

Agus bercerita, dulu ia memiliki banyak pelanggan. Ia mengaku sampai tak memiliki waktu untuk bersantai setiap hari.

Dari pagi hingga sore, tokonya ramai didatangi pelanggan.

Warga Bojongede ini mengaku, dari penjualan buku ia dapat membeli rumah untuk keluarganya.

Sebelumnya, Agus dan keluarga tinggal di rumah kontrakan.

“Sekarang saya udah punya rumah, waktu itu saya beli Rp 160 juta. Sekarang Alhamdulilah udah ada kamarnya empat di rumah,” kata Agus.

Bahkan, ia juga bisa membiayai kuliah anak-anaknya dari hasil jualan buku. Dua anaknya telah menyelesaikan kuliah, sementara anak terakhirnya telah lulus SMK dan bekerja.

Tak jarang ia membawakan buku bagus atau novel ke rumah untuk dibaca anaknya.

“Misalnya buku ada yang bagus isinya pasti saya simpen buat anak saya baca sehingga anak saya gak perlu mahal beli buku,” katanya.

Persaingan online

Agus merasa, kini minat baca masyarakat jauh berbeda dibanding dulu. Ditambah lagi beredarnya buku versi digital dan penjualan lewat online.

Kini, lantaran sepi pembeli, ia masih sempat membaca dua buku dalam sehari selama menunggu dagangan.

Meski demikian, ia tetap bertahan menjual buku secara konvensial. Ia yakin masih ada orang yang memilih membeli buku secara langsung dengan berbagai pertimbangan.

“Saya pernah beli buku dari online, eh pas diterimanya bukunya kaya buku yang didaur ulang, jadi agak jelek ngelemnya. Kalau milih langsung kan enak bisa dilihat bagus enggaknya,” katanya.

Dia meyakini, meskipun saat ini sudah banyak buku elektronik yang didapat secara gratis dari internet, namun buku cetak tetap akan dibutuhkan.

Agus juga berpesan kepada generasi muda agar tidak bosan-bosan membaca buku. Karena buku merupakan sumber ilmu.

“Ya, kalau belum ada pembeli, saya sambil lalu membaca buku-buku ini, karena bagi saya buku itu gizi, gizinya otak,” tuturnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mobil Satpol PP Jakbar Lawan Arus dan Bikin Macet, Kasatpol Sebut Sedang Bawa Copet

Mobil Satpol PP Jakbar Lawan Arus dan Bikin Macet, Kasatpol Sebut Sedang Bawa Copet

Megapolitan
Gara-gara Mobil Satpol PP Lawan Arus, Jalan Puri Kembangan Macet Panjang Sore Tadi

Gara-gara Mobil Satpol PP Lawan Arus, Jalan Puri Kembangan Macet Panjang Sore Tadi

Megapolitan
Lutfi Alfian, Pemuda yang Sempat Viral Fotonya Saat Demo DPR Didakwa 3 Pasal Alternatif

Lutfi Alfian, Pemuda yang Sempat Viral Fotonya Saat Demo DPR Didakwa 3 Pasal Alternatif

Megapolitan
Masih Direvitalisasi, Tak Ada Pagar Pembatas Antara Kali dan Trotoar di Dekat Kantor Wali Kota Jakbar

Masih Direvitalisasi, Tak Ada Pagar Pembatas Antara Kali dan Trotoar di Dekat Kantor Wali Kota Jakbar

Megapolitan
Kasus Persekusi Anggota Banser Bermula dari Senggolan Sepeda Motor

Kasus Persekusi Anggota Banser Bermula dari Senggolan Sepeda Motor

Megapolitan
Anggaran Belum Cair, Portal Pembatas di Dekat Halte Transjakarta Grogol Masih Rusak

Anggaran Belum Cair, Portal Pembatas di Dekat Halte Transjakarta Grogol Masih Rusak

Megapolitan
Jaksa Sebut Lutfi Alfian Bukan Pelajar, Kenakan Seragam Hanya untuk Buat Onar

Jaksa Sebut Lutfi Alfian Bukan Pelajar, Kenakan Seragam Hanya untuk Buat Onar

Megapolitan
Mobil Lexus hingga Fortuner Terjaring Razia Pajak Kendaraan di Parkiran Mal

Mobil Lexus hingga Fortuner Terjaring Razia Pajak Kendaraan di Parkiran Mal

Megapolitan
Laporan VP Garuda Indonesia soal Tudingan Germo Berlanjut ke Pemeriksaan Saksi

Laporan VP Garuda Indonesia soal Tudingan Germo Berlanjut ke Pemeriksaan Saksi

Megapolitan
Didakwa Buat Onar Saat Demo di DPR, Lutfi Alfian Tak Ajukan Eksepsi

Didakwa Buat Onar Saat Demo di DPR, Lutfi Alfian Tak Ajukan Eksepsi

Megapolitan
Ikut Pemilihan RW di Jatiasih Harus Bayar Rp 15 Juta, DPRD: Tak Melanggar tapi Tidak Masuk Akal

Ikut Pemilihan RW di Jatiasih Harus Bayar Rp 15 Juta, DPRD: Tak Melanggar tapi Tidak Masuk Akal

Megapolitan
Tanggapi Janji Ari Askhara Beri Koper Tumi ke Awak Kabin, Karyawan Garuda: Itu Perlengkapan Kerja

Tanggapi Janji Ari Askhara Beri Koper Tumi ke Awak Kabin, Karyawan Garuda: Itu Perlengkapan Kerja

Megapolitan
Warga Jakarta Utara, Kini Bikin SKCK, Tes Urin, hingga Bayar Pajak Bisa di Mall

Warga Jakarta Utara, Kini Bikin SKCK, Tes Urin, hingga Bayar Pajak Bisa di Mall

Megapolitan
Petugas Damkar Kesulitan Cari Sarang Kobra di Jakasampurna, Bekasi

Petugas Damkar Kesulitan Cari Sarang Kobra di Jakasampurna, Bekasi

Megapolitan
Alasan Masih Muda, Lutfi Alfian Ajukan Penangguhan Penahanan

Alasan Masih Muda, Lutfi Alfian Ajukan Penangguhan Penahanan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X