Yang Tersisa dari Rusuh di Palmerah, Kisah Para Pedagang yang Merugi

Kompas.com - 02/10/2019, 15:50 WIB
Pelajar melakukan Aksi Tolak RUKHP di Belakang Gedung DPR/MPR, Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (25/9/2019). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPelajar melakukan Aksi Tolak RUKHP di Belakang Gedung DPR/MPR, Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (25/9/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi unjuk rasa yang berujung rusuh terjadi sejak pekan lalu. Hingga Senin (30/9/2019), kawasan sekitar Stasiun Palmerah masih menjadi salah satu titik terjadinya kericuhan.

Pedagang sekitar Stasiun Palmerah menjadi pihak yang paling terdampak dengan adanya kerusuhan tersebut. Hal ini diakui oleh Hamina (48), salah seorang pedagang minuman yang telah mangkal sejak satu tahun lalu.

Menurut Hamina, ketika kerusuhan terjadi, ia menyaksikan secara langsung pelemparan batu dari para demonstran. Melihat itu, ia memilih untuk bergegas pulang dan berhenti berjualan.

"Saya itu enggak bisa jalan. Ada bakar-bakar jadi saya mundur dulu. Pas Maghrib pada sholat, saya pulang," tutur Hamina saat ditemui Rabu (2/10/2019).

Baca juga: Cerita Warga Menolong Mahasiswa yang Lari ke Permukiman Usai Kena Gas Air Mata

Meski ingin pulang, perjalanan Hamina tidak mulus. Di pertigaan menuju Slipi, kerusuhan juga terjadi. Polisi melarangnya dan sejumlah pedagang lainnya untuk lewat.

Hamina (48), salah seorang pedagang di sekitar Stasiun Palmerah yang turut merasakan dampak dari kericuhan yang terjadi sejak pekan lalu.KOMPAS.com/HILEL HODAWYA Hamina (48), salah seorang pedagang di sekitar Stasiun Palmerah yang turut merasakan dampak dari kericuhan yang terjadi sejak pekan lalu.

"Katanya (polisi) awas diganggu di jalan. Dari jam 4 kami sudah enggak bisa jalan, semuanya berhenti," tambah Hamina.

Selama kericuhan terjadi, Hamina mengaku mengalami kerugian. Pasalnya, ia biasa berjualan hingga larut malam. Namun, selama berhari-hari, ia terpaksa hanya berjualan hingga sore hari.

Baca juga: Kisah Polisi Bonardo Lepas Rindu dengan Opungnya di Tengah Kerusuhan...

Selain itu, sejumlah pembeli juga mengambil minuman yang ia jual tanpa membayar. Ada juga yang meminta minum gratis lalu ia berikan karena takut pada situasi saat itu.

"Ada yang minta di jalan, anak muda yang ribut-ribut. Mau enggak mau, (kalau) enggak boleh bagaimana? Saya takut diapa-apain," kata Hamina.

Selain Hamina, Ari (42), seorang pedagang es, juga mengaku merasakan hal yang sama. Bahkan, ketika terjadi penembakan gas air mata, ia pun turut menjadi korban.

Baca juga: Drama 7 Jam Rusuh Demonstran di Sekitar Gedung DPR...

"Kena (gas air mata), perih. Saya keluar air mata terus, panas. Ada yang bawa odol baru dikasih odol," katanya.

Untuk mengantisipasi demo yang berujung ricuh, dalam beberapa hari terakhir Ari memilih untuk pulang lebih cepat. Meski merugi, namun menurutnya lebih baik menjaga keselamatan lebih dulu.

"Kemarin (Senin), jam 3 sudah pulang. Jadi pas mulai ribut-ribut, saya sudah pulang," ucap  Ari.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anggaran Cekak, Pemkot Bekasi Sulit Bebaskan Lahan untuk Underpass Bulak Kapal

Anggaran Cekak, Pemkot Bekasi Sulit Bebaskan Lahan untuk Underpass Bulak Kapal

Megapolitan
Kebakaran Landa Sebuah Gudang Plastik di Kalideres

Kebakaran Landa Sebuah Gudang Plastik di Kalideres

Megapolitan
Sunter Agung Tak Seperti Kampung Akuarium, Taufik: Pilihan Terbaik Warga Dipindahkan ke Rusun

Sunter Agung Tak Seperti Kampung Akuarium, Taufik: Pilihan Terbaik Warga Dipindahkan ke Rusun

Megapolitan
Walau Mendesak, Bekasi Belum Prioritaskan Pembangunan Damkar Sektor Pondok Gede

Walau Mendesak, Bekasi Belum Prioritaskan Pembangunan Damkar Sektor Pondok Gede

Megapolitan
Tebing di Jalan DI Panjaitan Rawan Longsor karena Tak Ada Saluran Air

Tebing di Jalan DI Panjaitan Rawan Longsor karena Tak Ada Saluran Air

Megapolitan
Kabur Berhari-hari, Preman yang Pukuli Pria di Ceger Ditangkap Polisi

Kabur Berhari-hari, Preman yang Pukuli Pria di Ceger Ditangkap Polisi

Megapolitan
Fakta Seputar Kematian Pilot Wings Air yang Diduga Bunuh Diri di Kamar Indekos

Fakta Seputar Kematian Pilot Wings Air yang Diduga Bunuh Diri di Kamar Indekos

Megapolitan
Nunung Minta Dihukum Ringan karena Harus Urus 13 Anak Angkat

Nunung Minta Dihukum Ringan karena Harus Urus 13 Anak Angkat

Megapolitan
3 Lokasi di Jakarta Barat Jadi Proyek Awal Atasi Penurunan Tanah

3 Lokasi di Jakarta Barat Jadi Proyek Awal Atasi Penurunan Tanah

Megapolitan
Transjakarta Puji Pengemudi yang Tak Mengalah terhadap Pemotor yang Lawan Arah

Transjakarta Puji Pengemudi yang Tak Mengalah terhadap Pemotor yang Lawan Arah

Megapolitan
Babak Baru Polemik Ormas Kelola Parkir Minimarket di Bekasi

Babak Baru Polemik Ormas Kelola Parkir Minimarket di Bekasi

Megapolitan
Polisi Masih Selidiki Dugaan Korupsi pada Penerbitan Surat Tugas Ormas Kelola Parkir di Bekasi

Polisi Masih Selidiki Dugaan Korupsi pada Penerbitan Surat Tugas Ormas Kelola Parkir di Bekasi

Megapolitan
Rekan Ditabrak Petugas Sekuriti Saat Berdagang, Pedagang Bakso Gelar Aksi Teatrikal

Rekan Ditabrak Petugas Sekuriti Saat Berdagang, Pedagang Bakso Gelar Aksi Teatrikal

Megapolitan
Polisi Tangkap Spesialis Pencuri Motor yang Beraksi di Wilayah Tangsel

Polisi Tangkap Spesialis Pencuri Motor yang Beraksi di Wilayah Tangsel

Megapolitan
Kapolsek Kalideres Sebut Tidak Ada Indikasi Pilot Wings Air Dibunuh

Kapolsek Kalideres Sebut Tidak Ada Indikasi Pilot Wings Air Dibunuh

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X