Pengakuan Dosen IPB dan Kisah 4 Tamu Pembuat Bom

Kompas.com - 08/10/2019, 14:59 WIB
Kediaman rumah Abdul Basith di Perumahan Pakuan Regency, Cluster Linggabuana, Dramaga, Bogor, Jawa Barat, nampak sepi, Senin (30/9/2019). Basith ditangkap Densus 88 atas dugaan menginisiasi dan menggerakkan pembuatan bom molotov untuk aksi Mujahid 212 KOMPAS.COM/RAMDHAN TRIYADI BEMPAHKediaman rumah Abdul Basith di Perumahan Pakuan Regency, Cluster Linggabuana, Dramaga, Bogor, Jawa Barat, nampak sepi, Senin (30/9/2019). Basith ditangkap Densus 88 atas dugaan menginisiasi dan menggerakkan pembuatan bom molotov untuk aksi Mujahid 212

JAKARTA, KOMPAS.com - Polisi membongkar upaya membuat kerusuhan di tengah aksi demonstrasi Mujahid 212 untuk menentang UU KPK dan RUU KUHP beberapa waktu lalu. 

Sejumlah orang ditangkap terkait rencana itu. Salah satunya adalah AB (44), seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kini dinonaktifkan. 

Sosok santun dan berpendidikan tinggi seperti AB tiba-tiba ditangkap polisi di Tangerang, Jumat (27/9/2019).

AB diduga terlibat merencanakan kerusuhan di tengah demonstrasi. Sebanyak 29 bom ikan berdaya ledak tinggi yang dibuat dan disimpan di rumah AB di Bogor siap diledakan tanggal 28 September.

Bom itu ternyata milik empat tamunya yang tiba-tiba datang dan menginap di rumah. Hal itu disampaikan AB dalam wawancara dengan Kompas pada Sabtu (5/10/2019) siang.

Baca juga: Dosen IPB Abdul Basith Disebut Polisi Jadi Donatur terkait Rencana Rusuh di Aksi Mujahid 212

AB mengutarakan, kesalahannya adalah menampung empat pembuat bom ikan dan seorang pengundangnya, yaitu S, di rumahnya.

Empat pria berprofesi nelayan itu didatangkan dari Papua dan Maluku ke Jakarta untuk membuat bom ikan yang akan diledakan pada 28 September. Mereka tiba di Jakarta tanggal 24 September.

”Saya ngaku salah menerima mereka nginap di saya. Itu saja. Itu blunder buat saya, kenapa besoknya tidak langsung saya usir. Saya tidak biasa menolak tamu,” ujar dia.

AB menceritakan asal muasal rencana meledakkan bom ikan itu. Dalam pertemuan di rumah seorang tokoh di Ciputat, Tangerang Selatan, disimpulkan bahwa keadaan negara ini sudah runyam.

Baca juga: 5 Fakta Penangkapan Dosen IPB Abdul Basith yang Simpan 28 Bom Molotov untuk Aksi Mujahid 212

Maka, mereka pun menyiapkan sejumlah opsi untuk memberikan shock therapy kepada para pembuat runyam negara ini.

Rencana mengusik bisnis mereka pilih dengan meledakkan bom ikan di pusat bisnis, pertokoan, dan pergudangan. Bom direncanakan diledakan pada 24 September. Namun, karena pada tanggal itu para peracik bom belum siap, diundur pada 28 September.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

APBD Defisit, Mengapa Pembebasan Tanah untuk Normalisasi Ciliwung Dikorbankan?

APBD Defisit, Mengapa Pembebasan Tanah untuk Normalisasi Ciliwung Dikorbankan?

Megapolitan
Bangunan SD yang Roboh di Tangerang Pernah Dua Kali Direnovasi

Bangunan SD yang Roboh di Tangerang Pernah Dua Kali Direnovasi

Megapolitan
4 Tips Berburu Baju Bekas di Pasar Baru

4 Tips Berburu Baju Bekas di Pasar Baru

Megapolitan
Rezeki Nomplok Tukang Foto Copy Gara-gara Tingginya Permohonan SKCK

Rezeki Nomplok Tukang Foto Copy Gara-gara Tingginya Permohonan SKCK

Megapolitan
Lantai JPO GBK yang Patah Gara-gara GrabWheels Telah Diperbaiki

Lantai JPO GBK yang Patah Gara-gara GrabWheels Telah Diperbaiki

Megapolitan
Disdik Duga Bangunan SDN Malangnengah II Tangerang Ambruk Karena Pancaroba

Disdik Duga Bangunan SDN Malangnengah II Tangerang Ambruk Karena Pancaroba

Megapolitan
Tertipu Arisan Online Tanpa Riba, Warga Bekasi  Dijanjikan Uang Tanpa Kocok

Tertipu Arisan Online Tanpa Riba, Warga Bekasi Dijanjikan Uang Tanpa Kocok

Megapolitan
Bima Arya Anggap Pilkada Langsung yang Terbaik, Cukup Perbaiki Sistemnya

Bima Arya Anggap Pilkada Langsung yang Terbaik, Cukup Perbaiki Sistemnya

Megapolitan
Polisi Tangkap 5 Tersangka Pencuri Truk di Jakarta

Polisi Tangkap 5 Tersangka Pencuri Truk di Jakarta

Megapolitan
Desember 2019, Pemprov DKI Rampungkan Regulasi Jalur Skuter Listrik

Desember 2019, Pemprov DKI Rampungkan Regulasi Jalur Skuter Listrik

Megapolitan
Pesepeda yang Masuk Lajur Jalan Biasa Tak Akan Dikenai Sanksi

Pesepeda yang Masuk Lajur Jalan Biasa Tak Akan Dikenai Sanksi

Megapolitan
Anggaran Konsultan Penataan 76 RW Kumuh Dipangkas Lebih dari Setengah

Anggaran Konsultan Penataan 76 RW Kumuh Dipangkas Lebih dari Setengah

Megapolitan
Dishub DKI Larang GrabWheels Melintas di JPO, Trotoar, dan Saat CFD

Dishub DKI Larang GrabWheels Melintas di JPO, Trotoar, dan Saat CFD

Megapolitan
Kisah Elin Si Pedagang Baju Bekas, Bangkit Pasca Kebakaran hingga Dapat Pelanggan Artis

Kisah Elin Si Pedagang Baju Bekas, Bangkit Pasca Kebakaran hingga Dapat Pelanggan Artis

Megapolitan
William PSI Terancam Sanksi Teguran Tertulis karena Buka Anggaran Janggal ke Publik

William PSI Terancam Sanksi Teguran Tertulis karena Buka Anggaran Janggal ke Publik

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X