Kontras Desak Polisi Terbuka soal Penyebab Kematian Akbar Alamsyah

Kompas.com - 11/10/2019, 17:33 WIB
Keluarga dan kerabat menghadiri prosesi pemakaman korban demo ricuh Akbar Alamsyah di Taman Pemakaman Umum (TPU) kawasan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta, Jumat (11/10/2019). Korban demo ricuh di DPR Akbar Alamsyah meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto, Kamis (10/10/2019) sekitar pukul 17.00 karena mengalami retak pada tempurung kepala. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAKeluarga dan kerabat menghadiri prosesi pemakaman korban demo ricuh Akbar Alamsyah di Taman Pemakaman Umum (TPU) kawasan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta, Jumat (11/10/2019). Korban demo ricuh di DPR Akbar Alamsyah meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto, Kamis (10/10/2019) sekitar pukul 17.00 karena mengalami retak pada tempurung kepala.

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mendesak polisi untuk mengungkap penyebab kematian Akbar Alamsyah, korban demo pelajar di kawasan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, secara terbuka.

Akbar sempat tidak diketahui keberadaanya setelah demonstrasi pelajar yang berlangsung ricuh pada 25 September lalu. Ia kemudian ditemukan dalam keadaan koma di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

Ia lalu dirawat di RS Pelni, RS Polri dan terakhir RSPAD Gatot Subroto. Akbar meninggal Kamis (10/10/2019) kemarin.

“Penyebab kematian Akbar harus dijelaskan secara terbuka, transparan dan menyeluruh oleh Polri karena Polri adalah penanggungjawab keamanan dan pengaman saat aksi berlangsung,” ujar Koordinator KontraS, Yati Andriyani, Jumat.


Baca juga: Polisi: Akbar Alamsyah Ditemukan di Trotoar dalam Keadaan Terluka hingga Dirawat di RSPAD Gatot Soebroto

Ia mempertanyakan pengamanan demo beberapa waktu lalu yang memakan banyak korban luka-luka dan korban jiwa.

“Kepolisian harus menjelaskan mengapa pengamanan aksi sampai menyebabkan jatuhnya korban jiwa (termasuk di Kendari) , luka - luka, penangkapan dan penahanan secara sewenang wenang terhadap begitu banyak orang di berbagai tempat,” kata Yati.

Ia menilai informasi yang diberikan polisi tentang luka maupun penyebab meninggalnya Akbar hanya dijelaskan sepotong dan berubah-ubah.

Hal itu, menurut dia, mengesankan polisi tidak transparan menjelaskan secara detail penyebab Akbar meninggal.

“Sebelumnya Polri menyatakan karena dipukul massa, lalu disebutkan karena jatuh dari pagar. Pernyataan sepotong-sepotong dan berubah-ubah itu terkesan hanya pernyataan defensif yang jauh dari prinsip keterbukaan dan transparansi dan akuntabilitas,” kata Yati.

Ia mengatakan, pernyataan dari dokter yang menangani Akbar harusnya disampaikan terbuka. Dokter juga harusnya bisa mengungkap luka yang dialami Akbar kala itu karena jatuh atau karena kekerasan yang dialaminya.

“Dokter dapat menjelaskan mengapa Akbar mengalami luka luka dan koma, apa penyebabnya, tindakan tindakan medis apa yang sudah dilakukan adalah tim dokter di RS korban sejak di RS Pelni, RS Bhayangkara (RS Polri Kramat Jati) dan RSPAD,” ujar dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Istri Sopir Ambulans Jadi Otak Penggelapan Mobil Rental di Tangsel

Istri Sopir Ambulans Jadi Otak Penggelapan Mobil Rental di Tangsel

Megapolitan
Menunggak Iuran BPJS dan Terlilit Hutang, Alasan Pasutri Gelapkan Mobil Rental

Menunggak Iuran BPJS dan Terlilit Hutang, Alasan Pasutri Gelapkan Mobil Rental

Megapolitan
Ini Daftar Pimpinan dan Anggota Empat Badan di DPRD DKI

Ini Daftar Pimpinan dan Anggota Empat Badan di DPRD DKI

Megapolitan
Forum Mahasiswa Bersatu: Jokowi Hanya Umbar Janji Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM

Forum Mahasiswa Bersatu: Jokowi Hanya Umbar Janji Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM

Megapolitan
Grup Peluru Katapel Komunikasi melalui WhatsApp dengan Menggunakan Sandi Khusus

Grup Peluru Katapel Komunikasi melalui WhatsApp dengan Menggunakan Sandi Khusus

Megapolitan
Jokowi Bagi-bagi Kekuasaan, Mahasiswa: 5 Tahun ke Depan Tak Ada Parpol yang Kritik Pemerintah

Jokowi Bagi-bagi Kekuasaan, Mahasiswa: 5 Tahun ke Depan Tak Ada Parpol yang Kritik Pemerintah

Megapolitan
Jaksa Tuntut Jefri Nichol dengan Hukuman 10 Bulan Rehabilitasi

Jaksa Tuntut Jefri Nichol dengan Hukuman 10 Bulan Rehabilitasi

Megapolitan
Ini Penyebab Cuaca Jakarta Tembus 36,5 Derajat Celcius Siang Tadi

Ini Penyebab Cuaca Jakarta Tembus 36,5 Derajat Celcius Siang Tadi

Megapolitan
Ini Daftar Pimpinan dan Anggota Komisi di DPRD DKI Jakarta

Ini Daftar Pimpinan dan Anggota Komisi di DPRD DKI Jakarta

Megapolitan
Kelompok Peluru Katapel Juga Ingin Gagalkan Pelantikan Presiden dengan Melepas Monyet

Kelompok Peluru Katapel Juga Ingin Gagalkan Pelantikan Presiden dengan Melepas Monyet

Megapolitan
Polisi Ungkap Rencana Peledakan dengan Peluru Katapel Saat Pelantikan Jokowi-Ma'ruf

Polisi Ungkap Rencana Peledakan dengan Peluru Katapel Saat Pelantikan Jokowi-Ma'ruf

Megapolitan
Mahasiswa Peserta Unjuk Rasa di Patung Kuda Desak Bertemu Presiden Jokowi

Mahasiswa Peserta Unjuk Rasa di Patung Kuda Desak Bertemu Presiden Jokowi

Megapolitan
Pelaku Penggelapan Mobil Rental Berprofesi Sopir Ambulans

Pelaku Penggelapan Mobil Rental Berprofesi Sopir Ambulans

Megapolitan
Koperasi Sudah Tutup, Polisi Sulit Selidiki Penggelapan Dana Simpanan Pegawai Pos di Bekasi

Koperasi Sudah Tutup, Polisi Sulit Selidiki Penggelapan Dana Simpanan Pegawai Pos di Bekasi

Megapolitan
Pemkab Kepulauan Seribu Bangun Jembatan Panah Asmara di Pulau Tidung

Pemkab Kepulauan Seribu Bangun Jembatan Panah Asmara di Pulau Tidung

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X