Jokowi-Ma'ruf Dilantik, Ini Harapan Masyarakat dari Berbagai Lapisan

Kompas.com - 21/10/2019, 09:19 WIB
Joko Widodo mengucapkan sumpah saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Minggu (20/10/2019). Jokowi dan Maruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden masa jabatan 2019-2024. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOJoko Widodo mengucapkan sumpah saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Minggu (20/10/2019). Jokowi dan Maruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden masa jabatan 2019-2024.

JAKARTA, KOMPAS.com - Joko Widodo atau Jokowi dengan pasangannya Ma'ruf Amin telah dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024 pada hari Minggu (20/10/2019) kemarin.

Pelantikan Jokowi untuk kedua kalinya itu membubungkan harapan berbagai lapisan masyarakat akan kondisi yang lebih baik di Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IDI Daeng M Faqih misalnya berharap, pada masa pemerintahan Jokowi-Ma'ruf lima tahun ke depan sektor pelayanan kesehatan dapat lebih ditingkatkan.

"Mudah-mudahan diberikan kekuatan kepada beliau mengemban amanah yang kedua ini. Lebih semangat dan komit lagi. Terutama dalam bidang kesehatan," kata Faqih, usai menghadiri Hari Bakti Dokter Indonesia ke-111 di Bogor, Minggu.

Baca juga: 6 Hal Menarik di Acara Pelantikan Presiden 2019

Faqih mengatakan, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, soal perbaikan layanan kesehatan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang mengalami defisit.

Yang kedua, sambung dia, penanggulangan stunting (masalah kurang gizi kronis). Faqih mengatakan masalah stunting di Indonesia tiap tahun terus meningkat.

"Saya yakin bila dua hal itu teratasi, 50 persen masalah kesehatan di Indonesia bisa teratasi" ujar dia.

Harapan lainnya disampaikan seorang pengusaha sepatu bernama Erwin Aerlanto (30). Ia berharap pemerintah bisa melindungi posisinya sebagai pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Erwin menjelaskan, saat ini industri lokal tengah terdesak dengan keberadaan barang-barang impor dari luar negeri yang menawarkan harga jauh lebih murah.

"Kami kebanting dari barang China, mereka menawarkan harga murah, kualitas kurang bagus, tapi masyarakat tergiur dengan harga yang ditawarkan," kata Erwin.

Hal itu membuat Erwin kesulitan bersaing dengan barang-barang impor tersebut. Ia bahkan mencoba untuk menurunkan kualitas barang produksi tetapi tetap sulit bersaing.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X