Cerita Pensiunan Pos Indonesia Tak Bisa Cairkan Simpanan Rp 80 Juta di Koperasi...

Kompas.com - 21/10/2019, 16:57 WIB
Dody Hidayat (42) (kiri) dan Solihin (65) (kanan), dua dari 311 pegawai Pos Indonesia UPT Bekasi yang mengaku dana simpanannya di koperasi pegawai digelapkan sejak 2014. KOMPAS.COM/VITORIO MANTALEANDody Hidayat (42) (kiri) dan Solihin (65) (kanan), dua dari 311 pegawai Pos Indonesia UPT Bekasi yang mengaku dana simpanannya di koperasi pegawai digelapkan sejak 2014.


BEKASI, KOMPAS.com - Solihin (65) hanya bisa berharap-harap cemas. Uang simpanannya di koperasi pegawai Merpati Pos Bekasi sebesar Rp 89 juta, kata dia, tak bisa dicairkan. Padahal, mestinya uang simpanan itu dapat diambil oleh anggota koperasi kapan pun.

Apalagi sejak 2010 Solihin sudah memasuki masa pensiun, sehingga tak lagi memperoleh penghasilan.

"Sejak saya masuk di (PT Pos Indonesia cabang) Bekasi, (gaji) dipotong Rp 100.000 per bulan untuk simpanan wajib koperasi," ujar Solihin kepada awak media di bilangan Margahayu, Bekasi Timur, Senin (21/10/2019).

Solihin mengklaim, dananya yang beku di kas koperasi berupa tabungan deposito Rp 80 juta dan simpanan wajib Rp 9,1 juta.

Baca juga: Pegawai Pos Indonesia di Bekasi Mengaku Jadi Korban Penggelapan Uang Simpanan di Koperasi

Dana tersebut diduga digelapkan oleh pengurus koperasi sejak 2014, sehingga salah satu pegawai memberanikan diri melaporkan kasus itu ke polisi pada Mei 2019 lalu.

Solihin bercerita, kondisi keuangannya mulai cekak pada Februari 2014. Karena itu Solihin lantas berencana menarik dana simpanannya.

Namun, tak dinyana kala Solihin akan menarik dana simpanannya itu, ia mengaku terkejut karena koperasi disebut tidak punya dana.

Padahal, kala itu pria yang mengaku sudah 35 tahun bekerja di Pos Indonesia sedang butuh uang buat biaya kuliah anak serta pemugaran rumah.

Beruntung, ia masih punya sejumlah uang untuk menalangi keperluan tersebut.

"Saya menyimpan uang itu ya untuk anak kuliah atau membangun rumah. Ternyata saya butuh sekali waktu itu, nelpon ternyata sudah kolaps dan tidak ada tanggung jawab dari pengurus yang dimaksud, pengawas juga tidak mendeteksi uangnya ke mana," ungkap Solihin.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tak Laku Dijual karena Mahal, Daging Sapi Dibuang hingga Dikonsumsi Pedagangnya

Tak Laku Dijual karena Mahal, Daging Sapi Dibuang hingga Dikonsumsi Pedagangnya

Megapolitan
Pusat Diminta Pimpin Penanganan Covid-19 di Jabodetabek, DPRD DKI: Wajar Anies Angkat Tangan

Pusat Diminta Pimpin Penanganan Covid-19 di Jabodetabek, DPRD DKI: Wajar Anies Angkat Tangan

Megapolitan
Hoaks Seputar Sriwijaya Air SJ 182, Mulai dari Bayi Selamat hingga Tanda SOS di Pulau Laki

Hoaks Seputar Sriwijaya Air SJ 182, Mulai dari Bayi Selamat hingga Tanda SOS di Pulau Laki

Megapolitan
Kronologi Kasus Pasien dan Perawat Mesum di RSD Wisma Atlet, Berawal dari Aplikasi Kencan hingga Penetapan Tersangka

Kronologi Kasus Pasien dan Perawat Mesum di RSD Wisma Atlet, Berawal dari Aplikasi Kencan hingga Penetapan Tersangka

Megapolitan
Pedagang Daging Sapi Mogok, Tukang Bakso di Pasar Koja Baru Tak Bisa Berjualan

Pedagang Daging Sapi Mogok, Tukang Bakso di Pasar Koja Baru Tak Bisa Berjualan

Megapolitan
Langgar Hak Cipta Tugu Selamat Datang, Grand Indonesia Dihukum Bayar Ganti Rugi Rp 1 Miliar

Langgar Hak Cipta Tugu Selamat Datang, Grand Indonesia Dihukum Bayar Ganti Rugi Rp 1 Miliar

Megapolitan
Besok, Polisi Beberkan Hasil Gelar Perkara Kasus Pesta Raffi Ahmad di Rumah Ricardo Gelael

Besok, Polisi Beberkan Hasil Gelar Perkara Kasus Pesta Raffi Ahmad di Rumah Ricardo Gelael

Megapolitan
Jual Impas Daging Rp 120.000 Per Kg, Pedagang: Pembeli Enggak Kuat Harga Segitu

Jual Impas Daging Rp 120.000 Per Kg, Pedagang: Pembeli Enggak Kuat Harga Segitu

Megapolitan
Wakil Ketua DPRD DKI Nilai Wajar Anies Minta Pusat Koordinasi Penanganan Covid-19 di Jabodetabek

Wakil Ketua DPRD DKI Nilai Wajar Anies Minta Pusat Koordinasi Penanganan Covid-19 di Jabodetabek

Megapolitan
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pelecehan Seksual terhadap Istri Isa Bajaj

Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pelecehan Seksual terhadap Istri Isa Bajaj

Megapolitan
Selama PPKM, Terminal Bus Kalideres Buka Posko Rapid Test Antigen Gratis

Selama PPKM, Terminal Bus Kalideres Buka Posko Rapid Test Antigen Gratis

Megapolitan
LaporCovid-19: Kenapa Data BOR DKI Masih 80 Persen Sementara Kenyataannya Sudah 100 Persen?

LaporCovid-19: Kenapa Data BOR DKI Masih 80 Persen Sementara Kenyataannya Sudah 100 Persen?

Megapolitan
Pedagang: Jual Daging Sapi Mahal Enggak Laku, Kalau Murah Kami Rugi

Pedagang: Jual Daging Sapi Mahal Enggak Laku, Kalau Murah Kami Rugi

Megapolitan
Alat PCR Rusak, Sampel Swab Pasien Covid-19 di Tangsel Dikirim ke Laboratorium Lain

Alat PCR Rusak, Sampel Swab Pasien Covid-19 di Tangsel Dikirim ke Laboratorium Lain

Megapolitan
Alat PCR Rusak, Labkesda Tangsel Tak Terima Sampel Terkait Covid-19 Mulai Hari Ini

Alat PCR Rusak, Labkesda Tangsel Tak Terima Sampel Terkait Covid-19 Mulai Hari Ini

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X