"Ima Mahdiah Juga Ungkap Anggaran Bermasalah DKI, Kenapa PSI yang Terus Disalahkan?"

Kompas.com - 06/12/2019, 16:18 WIB
Komisi C DPRD DKI Jakarta menggelar konferensi pers terkait anggaran pengadaan satu unit komputer dan perangkatnya senilai Rp 128,9 miliar di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jumat (6/12/2019). KOMPAS.com/NURSITA SARIKomisi C DPRD DKI Jakarta menggelar konferensi pers terkait anggaran pengadaan satu unit komputer dan perangkatnya senilai Rp 128,9 miliar di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jumat (6/12/2019).


JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menganggap aneh langkah politikus PDI-P Cinta Mega melarang politikus PSI Anthony Winza menyebarkan pembahasan rapat.

Sebelumnya, Cinta dan Anthony cekcok saat Komisi C rapat soal RAPBD 2020 DKI, Kamis (5/12/2019) malam. Belakangan ditengarai, materi rapat yang dimaksud Cinta ialah anggaran pengadaan komputer sebesar Rp 128 miliar.

"Aneh. Ada Ima Mahdiah yang juga bagian dari PDI-P dan suka mengungkap anggaran DKI yang juga dianggap masalah. Tapi kenapa Cinta Mega mempermasalahkan kader PSI yang dianggap memyebarluaskan informasi?" ucap Lucius ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (6/12/2019).

Sebagai informasi, Ima Mahdiah merupakan anggota Komisi E dari Fraksi PDI-P yang juga eks staf Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta periode 2014-2017.

Baca juga: Temuan Ima Mahdiah dan Bantahan Sudin Pendidikan Jakpus soal Anggaran Pasir Rp 52 M

Ketika politikus PSI William Aditya mengumbar anggaran lem Aibon Rp 82 miliar akhir Oktober 2019 lalu, Ima juga menyoroti anggaran 2020 yang diusulkan Pemprov DKI Jakarta, seperti pengadaan cat sampai tipe-eks yang nominalnya fantastis.

Teranyar, Rabu (5/12/2019), Ima mempertanyakan anggaran membangun SMK Pariwisata dengan pengadaan laboratorium kimia dan fisika, serta ongkos pembangunan pos satpam yang lebih besar dari biaya pembangunan sekolah.

William Aditya dinyatakan bersalah oleh Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta, sedangkan Ima yang juga buka suara pada media massa soal temuan anggaran gendut aman-aman saja.

"Saya kira ada faktor fraksinya, sehingga ada perlakuan berbeda untuk PSI. Tidak ada yang kemudian marah dan melaporkannya (Ima Mahdiah) ke Badan Kehormatan," ujar Lucius.

Lucius juga menduga, partai-partai "tua" di Kebon Sirih juga merasa terancam karena panggungnya direbut oleh PSI.

Baca juga: Tuding Politikus PSI Anthony Bocorkan Materi Rapat, Ini Penjelasan Cinta Mega Kader PDI-P

Langkah Ima Mahdiah mengungkap anggaran gendut DKI, menurut Lucius, tak mendongkrak citra PDI-P di mata publik. Berbeda ketika politikus PSI melakukannya.

Berbekal "panggung" di DKI ini, PSI bisa mengancam elektabilitas partai-partai tua di masa depan.

"Bahkan untuk sesuatu yang mereka tidak lakukan, akhirnya mereka yang dianggap melakukannya. Yang dituding adalah PSI atas tersebarnya informasi tersebut, walau itu kan rapat terbuka dan dia mengomentarinya di sana juga," Lucius menjelaskan.

Politikus PSI Anthony Winza membantah bahwa ia menyebarkan materi rapat kepada wartawan seperti yang dituduhkan politikus PDI-P Cinta Mega, meski menyebarkannya pun tak melanggar tata tertib karena rapat bersifat terbuka.

"Statement itu saya utarakan dalam rapat," kata Anthony, Jumat.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wali Kota Jakpus dan Kadis LH Dicopot karena Pinjamkan Toilet Portable untuk Acara Rizieq

Wali Kota Jakpus dan Kadis LH Dicopot karena Pinjamkan Toilet Portable untuk Acara Rizieq

Megapolitan
Update 28 November: Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 1.370

Update 28 November: Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 1.370

Megapolitan
Wali Kota Bogor Tegur Keras RS Ummi Soal Kasus Tes Swab Rizieq Shihab

Wali Kota Bogor Tegur Keras RS Ummi Soal Kasus Tes Swab Rizieq Shihab

Megapolitan
KPAI: Faktor Ibu Kurang Teredukasi dan Kesulitan Ekonomi Berperan pada Kasus Bayi Meninggal Saat Dibawa Mengemis

KPAI: Faktor Ibu Kurang Teredukasi dan Kesulitan Ekonomi Berperan pada Kasus Bayi Meninggal Saat Dibawa Mengemis

Megapolitan
Fasilitasi Kerumunan Rizieq Shihab,  Wali Kota Jakpus Dicopot Anies, Kini Jadi Anggota TGUPP

Fasilitasi Kerumunan Rizieq Shihab, Wali Kota Jakpus Dicopot Anies, Kini Jadi Anggota TGUPP

Megapolitan
UPDATE 28 November: Tambah 38, Total Kasus Covid-19 di Kota Tangerang 2.836

UPDATE 28 November: Tambah 38, Total Kasus Covid-19 di Kota Tangerang 2.836

Megapolitan
Stadion Persija Ditargetkan Rampung pada 2021

Stadion Persija Ditargetkan Rampung pada 2021

Megapolitan
KPAI Sebut Ibu yang Ajak Anak Mengemis hingga Meninggal Berpotensi Dipidana

KPAI Sebut Ibu yang Ajak Anak Mengemis hingga Meninggal Berpotensi Dipidana

Megapolitan
Gubernur Anies Copot Wali Kota Jakpus dan Kadis Lingkungan Hidup Terkait Kerumunan Rizieq Shihab

Gubernur Anies Copot Wali Kota Jakpus dan Kadis Lingkungan Hidup Terkait Kerumunan Rizieq Shihab

Megapolitan
Balita Meninggal Saat Diajak Mengemis, KPAI Minta Polisi Perjelas Status Sang Ibu

Balita Meninggal Saat Diajak Mengemis, KPAI Minta Polisi Perjelas Status Sang Ibu

Megapolitan
UPDATE 28 November: Total Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Tangsel Kini 2.624

UPDATE 28 November: Total Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Tangsel Kini 2.624

Megapolitan
Pemprov DKI Raih Dua Penghargaan Bhumandala Award 2020

Pemprov DKI Raih Dua Penghargaan Bhumandala Award 2020

Megapolitan
Cengkareng Timur Jadi Pilot Project Kampung Tangguh Covid-19

Cengkareng Timur Jadi Pilot Project Kampung Tangguh Covid-19

Megapolitan
Fraksi PAN: Jangan Cabut Perda PPIJ

Fraksi PAN: Jangan Cabut Perda PPIJ

Megapolitan
Rahayu Saraswati Tak Terima Dikaitkan dengan Kasus Edhy Prabowo

Rahayu Saraswati Tak Terima Dikaitkan dengan Kasus Edhy Prabowo

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X