Fakta Keraton Agung Sejagat dan Kehidupan Sang Raja di Pinggir Rel KRL Stasiun Kampung Bandan

Kompas.com - 16/01/2020, 16:20 WIB
Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara, yang juga Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, menyampaikan sikap terkait Deklarasi Keraton Agung Sejagat, di Keraton Kasepuhan Cirebon, Rabu (15/2/2020). MUHAMAD SYAHRI ROMDHONPangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara, yang juga Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, menyampaikan sikap terkait Deklarasi Keraton Agung Sejagat, di Keraton Kasepuhan Cirebon, Rabu (15/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pekan ini, media sosial diramaikan dengan kemunculan Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Jawa Tengah.

Apa itu Keraton Agung Sejagat?

Keraton Agung Sejagat diketahui dipimpin oleh seorang raja yang dipanggil Sinuwun Toto Santoso Hadiningrat.

Sang Raja juga memiliki seorang istri yang dipanggil Kanjeng Ratu Dyah Gitarja. Padahal, Sang Ratu memiliki nama asli, Fanni Aminadia.

Sang Raja bahkan berani menyebut Keraton Agung Sejagat adalah induk dari seluruh negara di dunia.

Bahkan, kekuasaannya tidak terbatas hanya di daerah Purworejo. Sang Raja berani mengatakan bahwa kekuasaan Keraton Agung Sejagat tersebar hingga ke seluruh penjuru dunia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sang Raja juga mengakui telah memiliki 450 pengikut dan diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Toto juga menyebut Keraton Agung Sejagat adalah wadah terkait konflik yang terjadi di dunia saat ini.

Baca juga: Viral Keraton Agung Sejagat, Sejarawan Bantah Klaim Penerus Majapahit

Tak hanya itu, Toto juga mengaku sebagai Rangkai Mataram Agung yang bertugas sebagai juru damai di dunia.

Keraton Agung Sejagat juga mempunyai prasasti dan sebuah kolam yang disakralkan oleh pengikutnya. Kolam itu berada di dekat istana kerajaan di daerah Purworejo, Jawa Tengah.

Salah satu punggawa kerajaan saat menjaga batu besar yang dianggap sebagai prasasti Kerajaan Keraton Agung Sejagat, pada Senin (13/1/2020). 
TRIBUNJATENG/Permata Putra Sejati Salah satu punggawa kerajaan saat menjaga batu besar yang dianggap sebagai prasasti Kerajaan Keraton Agung Sejagat, pada Senin (13/1/2020).

Adapun, batu prasasti Keraton Agung Sejagat bertuliskan huruf Jawa yang disebut Prasasti Bumi Mataram. Pada bagian kiri prasasti terdapat tanda dua telapak kaki, sedangkan pada bagian kanan terdapat sebuah simbol.

Baca juga: Batu Prasasti di Keraton Agung Sejagat, Diukir Gambar Cakra, Telapak Kaki, dan Trisula oleh Empu Wijoyo

Acara Wilujengan dan Kirab Budaya Keraton Agung Sejagat yang digelar pada Jumat (10/1/2020) hingga Minggu (12/1/2020) juga sempat ramai diperbincangkan publik.

Ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka

Setelah ramai diperbincangkan publik, polisi pun turun tangan untuk mengklarifikasi keberadaan keraton tersebut.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga angkat bicara terkait Keraton Agung Sejagat. Dia menilai perlu dilakukan pengujian secara ilmiah terkait keberadaan kerajaan tersebut.

"Syukur-syukur ada perguruan tinggi yang mendampingi. Baik juga untuk didiskusikan," kata Ganjar, Senin (13/1/2020).

Baca juga: Ditangkap, Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat di Purworejo Dibawa ke Mapolda Jateng

Tak butuh lama, polisi langsung menangkap raja dan ratu Keraton Agung Sejagat. Keduanya pun telah ditetapkan sebagai tersangka.

Kapolda Jateng Irjen Rycko Amelza Dahniel mengatakan, polisi menggandeng tiga guru besar dari Universitas Dipenogoro (Undip) untuk membantu penyelidikan Keraton Agung Sejagat.

Pasalnya, keberadaan keraton itu meresahkan masyarakat.

Polisi mendalami keberadaan keraton itu dari sejumlah aspek, yakni aspek yuridis, filosofis, nilai kebangsaan, ideologis, hingga historis. Tiga guru besar Undip akan membantu penelusuran kasus tersebut dari sisi kesejarahan dan hukum pidana.

Aspek sosiologis akan dilihat dari pandangan masyarakat sekitar apakah mereka terganggu dengan keberadaan Keraton Agung Sejagat tersebut.

"Ternyata ada laporan yang dipimpin Kades Pogung, adanya keresahan masyarakat pada tanggal 13 Januari. Karena ada kegiatan yang tidak biasanya dan tidak sesuai norma yang berlaku di desa. Seperti nyanyi-nyanyi sampai malam, bakar kemenyan. Ini mengganggu warga," ujar Rycko di Mapolda Jawa Tengah, Rabu (15/1/2020).

Selain itu, polisi akan menilai aspek psikologis kedua tersangka. Berdasarkan pemeriksaan sementara, Toto dan Fanni juga diketahui bukan sepasang suami istri. Rycko mengatakan, keduanya hanya berstatus sebagai teman.

Baca juga: Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Bukan Suami Istri, Polisi: Hanya Teman Wanita

"Sementara Fanni Aminadia yang diakui sebagai permaisuri ternyata bukan istrinya, tetapi hanya teman wanitanya," kata Rycko.

Adapun, penetapan tersangka kepada raja dan ratu Keraton Agung Sejagat itu berdasarkan bukti permulaan adanya motif penarikan dana dari masyarakat.

Mereka menarik dana dengan cara tipu melalui penggunaan simbol-simbol kerajaan palsu.

Toto Santoso dan Fanni Aminadia dijerat Pasal 14 UU RI Nomor 1 tahun 1946 tentang menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran. Keduanya juga diancam Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

Pendanaan dan kehidupan sang raja

Keraton Agung SejagatKOMPAS.com/istimewa Keraton Agung Sejagat

Sebagai Raja, Toto mewajibkan pengikutnya untuk membayar iuran hingga puluhan juta rupiah. Alasannya, pengikutnya akan mendapatkan malapetaka jika tidak mengikuti aturan keraton.

"Berbekal penyebaran keyakinan dan paham apabila bergabung dengan kerajaan akan bebas dari malapetaka dan perubahan nasib ke arah yang lebih baik. Jika tidak bergabung, akan berlaku sebaliknya," ujar Rycko.

Baca juga: Raja Keraton Agung Sejagat Wajibkan Pengikutnya Bayar Iuran hingga Puluhan Juta Rupiah

Toto juga diketahui pernah tinggal di sebuah rumah kontrakan di Kecamatan Godean, Sleman, Yogyakarta. Polisi pun telah menggeledah barang-barang milik Totok di rumah kontrakan itu.

Pada tahun 2016, Toto diketahui pernah menjadi pemimpin sebuah organisasi di bidang kemasyarakatan dan kemanusiaan bernama Jogjakarta Development Committe (Jogja dec).

Toto yang saat itu menjabat sebagai Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia Wilayah Nusantara Jogja DEC pernah menjanjikan dana sebesar 100-200 dollar Amerika yang akan diberikan setiap bulan kepada anggota yang telah memiliki NIK.

Uang tersebut diperoleh dari lembaga keuangan tunggal dunia bernama Esa Monetary Fund yang berpusat di Swiss.

Baca juga: Raja Keraton Agung Sejagat Pernah Dirikan Jogja Dec, Janjikan 200 Dollar dan Pengikut Bayar Seragam Rp 3 Juta

"Kami akan berikan uang pada anggota yang sudah terdaftar sebesar 100-200 dollar per bulan dalam bentuk dana kemanusiaan melalui koperasi yang akan kami bentuk. Namun semua program tadi akan kami mulai tahun 2017 nanti karena sekarang masih dalam proses perizinan," ujar Toto di Ndalem Pujokusuman Keparakan Mergangsan, Yogyakarta, Jumat (11/3/2016).

Salah satu anggota Jogja Dec, Sri Utami bahkan mengaku sempat membayar iuran sebesar Rp 15.000 untuk kartu tanda anggota (KTA). Dia juga membayar uang sebesar Rp 3.000.000 untuk mendapatkan seragam.

Sri Utami kemudian memutuskan keluar dari Jogja Dec karena ketidakjelasan kegiatan.

"Selain iuran KTA suruh bayar seragam juga senilai Rp 3.000.000. Seragamnya itu dulu seperti army atau militer loreng-loreng," kata Sri Utami, Selasa (14/1/2020).

Statusnya sebagai Raja Keraton Agung Sejagat dan pimpinan Jogja Dec berbanding terbalik dengan kehidupannya di Jakarta. Berdasarkan alamat KTP, Toto merupakan warga Ancol, Jakarta Utara.

Baca juga: Raja Keraton Agung Sejagat 6 Tahun Tinggal di Rumah Bedeng Ilegal di Pinggir Rel Ancol

Dia pernah tinggal di Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara. Dia tinggal di bedeng kayu berukuran 2x3 meter di pinggir kereta Stasiun Kampung Bandan.

"Dia tinggal di bedeng kayu semi permanen ukuran 2x3 di bantaran rel," kata Lurah Ancol Rusmin di Kampung Bandan, Ancol, Rabu (15/1/2020) malam.

Sementara itu, Ketua RT 012/RW 005 Kelurahan Ancol Abdul Manaf mengatakan, Toto tinggal di sana sejak 2011.

Kepada Abdul, Toto mengaku berprofesi sebagai wirausahawan di kawasan Angke, Jakarta Barat. Selama menjadi warga Kampung Bandan, Totok tak begitu menyita perhatian warga sekitar.

Dia hanya bertegur sapa dengan warga sekitar. Toto kemudian pindah dari daerah Kampung Bandan setelah rumah yang ditinggalinya terbakar pada tahun 2016.

"Namun, demikian yang bersangkutan hanya singgah sebentar biar mempunyai KTP Kelurahan Ancol. Dia termasuk numpang alamat doang," ujar Abdul.

Baca juga: Raja Keraton Agung Sejagat Tak Pernah Sebarkan Pengaruh Selama Tinggal di Ancol

Saat ini, rumah Toto telah rata dengan tanah karena rumah itu berdiri ilegal di pinggiran rel kereta api.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Di Balik Patung Jakob Oetama yang Sederhana, Pena Berharga  dan Penyertaan Tuhan

Di Balik Patung Jakob Oetama yang Sederhana, Pena Berharga dan Penyertaan Tuhan

Megapolitan
Ada Temuan Pelanggaran Prokes, SDN 05 Jagakarsa Belum Gelar PTM hingga Saat Ini

Ada Temuan Pelanggaran Prokes, SDN 05 Jagakarsa Belum Gelar PTM hingga Saat Ini

Megapolitan
UPDATE 27 September: Bertambah 7 Kasus Covid-19 dan 25 Pasien Sembuh di Tangsel

UPDATE 27 September: Bertambah 7 Kasus Covid-19 dan 25 Pasien Sembuh di Tangsel

Megapolitan
Ketua DPRD DKI Sebut Rapat Bamus Interpelasi Disetujui Tujuh Fraksi

Ketua DPRD DKI Sebut Rapat Bamus Interpelasi Disetujui Tujuh Fraksi

Megapolitan
Vaksinasi Covid-19 Dosis 1 di Depok Capai 1 Juta Penduduk, Masih Kurang 600.000 dari Target

Vaksinasi Covid-19 Dosis 1 di Depok Capai 1 Juta Penduduk, Masih Kurang 600.000 dari Target

Megapolitan
Anggota DPRD DKI Viani Limardi Bantah Gelembungkan Dana Reses yang Dituduhkan PSI

Anggota DPRD DKI Viani Limardi Bantah Gelembungkan Dana Reses yang Dituduhkan PSI

Megapolitan
Januari-September, DLH Temukan 7 TPS Ilegal di Kota Tangerang

Januari-September, DLH Temukan 7 TPS Ilegal di Kota Tangerang

Megapolitan
Seorang Tukang Bangunan Tewas Tersengat Listrik di Duren Sawit

Seorang Tukang Bangunan Tewas Tersengat Listrik di Duren Sawit

Megapolitan
Korban Pelecehan KPI Minta Perlindungan LPSK agar Tak Dilaporkan Balik

Korban Pelecehan KPI Minta Perlindungan LPSK agar Tak Dilaporkan Balik

Megapolitan
Demo di Depan Gedung KPK Berakhir, Polisi dan Mahasiswa Punguti Sampah

Demo di Depan Gedung KPK Berakhir, Polisi dan Mahasiswa Punguti Sampah

Megapolitan
Anggota DPRD DKI Viani Limardi Mengaku Belum Terima Surat Pemecatannya sebagai Kader PSI

Anggota DPRD DKI Viani Limardi Mengaku Belum Terima Surat Pemecatannya sebagai Kader PSI

Megapolitan
Kasus Dugaan Pungli 16 Sekuriti di Kembangan, Pihak Penyedia Jasa Keamanan Turut Diperiksa

Kasus Dugaan Pungli 16 Sekuriti di Kembangan, Pihak Penyedia Jasa Keamanan Turut Diperiksa

Megapolitan
Dipanggil terkait Kasus Dugaan Pungli 16 Sekuriti, Ketua RW di Kembangan Tak Hadir

Dipanggil terkait Kasus Dugaan Pungli 16 Sekuriti, Ketua RW di Kembangan Tak Hadir

Megapolitan
Awasi Aktivitas di 6 TPS Liar yang Disegel, DLH Kota Tangerang Gandeng Satpol PP

Awasi Aktivitas di 6 TPS Liar yang Disegel, DLH Kota Tangerang Gandeng Satpol PP

Megapolitan
Kasus Bayi Dijadikan Manusia Silver di Tangsel, Polisi Diminta Ikut Aktif Cegah Eksploitasi Anak

Kasus Bayi Dijadikan Manusia Silver di Tangsel, Polisi Diminta Ikut Aktif Cegah Eksploitasi Anak

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.