Ketika Harga Bahan Jamu di Depok Ikut Meroket Susul Masker

Kompas.com - 05/03/2020, 06:29 WIB
Seorang pedagang bahan-bahan jamu tengah melayani pembeli di Pasar Kemiri Muka, Depok, Jawa Barat, Rabu (4/3/2020). Permintaan bahan-bahan jamu terus merangkak naik setelah temuan kasus positif virus corona yang dialami warga Depok. KOMPAS.COM/VITORIO MANTALEANSeorang pedagang bahan-bahan jamu tengah melayani pembeli di Pasar Kemiri Muka, Depok, Jawa Barat, Rabu (4/3/2020). Permintaan bahan-bahan jamu terus merangkak naik setelah temuan kasus positif virus corona yang dialami warga Depok.

DEPOK, KOMPAS.com - Harga bahan-bahan jamu terus merangkak naik sejak dua hari belakangan, berkait temuan kasus positif virus corona yang dialami warga Depok, Senin (2/3/2020).

Keadaan ini juga tampak di beberapa wilayah lain di Indonesia, seperti Bekasi, Jawa Barat dan Salatiga, Jawa Tengah.

Di Salatiga yang jauh dari Ibu Kota saja, bahan-bahan jamu atau empon-empon sampai membuat para pedagangnya kejatuhan durian runtuh.

Baca juga: Imbas Corona, Penjual Jamu Keluhkan Meroketnya Harga Bahan Baku

Pemilik Kios Jamu Bu Harti di Salatiga, Hari Setianto mengatakan kenaikan angka penjualan tersebut setelah ada info, empon-empon bisa menangkal virus corona.

"Setelah ada kabar di media itu jika empon-empon baik untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh secara herbal, penjualan meningkat," jelas dia di kios Pasar Raya II Salatiga, Rabu.

"Omzet naik sekitar 200 persen dua hari ini, kalau keadaan normal per hari dapatnya kisaran Rp 800.000," ungkap Hari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kenaikan harga di Depok

Harga bahan-bahan jamu di Pasar Kemiri Muka, Depok, Jawa Barat tak pelak juga meroket, karena pasien positif virus corona memang warga kota ini.

Sejumlah bahan jamu yang mendadak jadi incaran pembeli di Pasar Kemiri Muka ialah jahe merah dan temulawak.

Baca juga: Harga Bahan Jamu Melonjak di Pasar Kemiri Muka Depok

"Kalau lonjakan ada, itu harga temulawak tinggi banget, dari Rp 10.000 jadi Rp 50.000 sejak dua hari ini, sejak korona masuk depok," kata Suyadi, salah satu pedagang ketika ditemui pada Rabu siang.

"Jahe tinggi juga, dari Rp 20.000 jadi Rp 40.000. Serai enggak begitu, dari Rp 4.000 jadi Rp 10.000. Kalau kunyit dari kisaran Rp 5.000-6.000 jadi Rp 12.000," ia menjelaskan.

Temulawak jadi primadona

Adam (52) juga pedagang bahan-bahan jamu di Pasar Kemiri Muka.

Ia yang sudah 32 tahun berdagang bahan jamu di Pasar Kemiri Muka mengaku tak pernah mengalami peristiwa ini sebelumnya.

Menurut dia, bahan-bahan jamu seperti jahe, jahe merah, dan temulawak mendadak diborong banyak orang, meskipun harganya melangit.

Para pembeli terdiri dari ibu-ibu hingga pedagang jamu. Mereka kompak membeli bahan-bahan jamu dalam jumlah besar. Temulawak jadi salah satu bahan jamu yang membuat Adam ketiban pulung.

"Jahe merah biasa Rp 60.000 jadi Rp 70.000. Jahe biasa juga lumayan, dari Rp 35.000 jadi Rp 50.000," ujar Adam.

"Kemarin ada yang beli temulawak 3-4 kg, ada juga pedagang yang beli langsung 10 kg. Biasanya boro-boro ada yang beli," ia menambahkan.

Baca juga: Temulawak Laku Keras di Depok Pascakasus Corona, Pedagang: Dulu Boro-boro Ada yang Beli

Adam mengaku, temulawak biasa ia jual Rp 10.000 saja. Kemarin, Selasa (3/3/2020), harga temulawak melonjak hingga Rp 50.000.

Meski begitu, harga yang melambung tak sampai menyurutkan niat para pembeli memborong temulawak.

"Kemarin sampai habis saya temulawak 1 kuintal," ujar Adam.

Pernyataan Adam diamini oleh Suyadi, pedagang lain bahan-bahan jamu di Pasar Kemiri Muka.

"Kalau lonjakan ada, itu harga temulawak tinggi banget, dari Rp 10.000 jadi Rp 50.000 sejak dua hari ini, sejak corona masuk Depok," ujar Suyadi.

Ikuti kenaikan harga di Pasar Induk?

Harga bahan-bahan jamu yang melambung di Pasar Kemiri Muka ditengarai mengikuti tren harga di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur.

"Kami belajar dari induk. Pasar Kemiri Muka saat ini masih ada stok jahe, serai, dan temulawak, masih ada tapi harga cukup tinggi. Kalau dari sana harganya agak mahal, ya ikutin saja," ungkap Suyadi.

Suyadi mengatakan, permintaan para pedagang bahan jamu di Pasar Kemiri Muka terhadap suplai dari Pasar Induk Kramatjati relatif konstan, meskipun animo pembeli bahan jamu kian merangkak naik sejak dua hari belakangan.

Baca juga: Mahalnya Bahan Jamu di Depok Diduga Mengikuti Harga di Pasar Induk

Akibatnya, stok-stok bahan jamu semakin cepat ludes dalam sehari. Ia pun menduga bahwa stok bahan jamu di Pasar Induk Kramatjati perlahan menipis, terbukti dari tren harga yang terus merangkak naik.

"Rata-rata pedagang kecil paling permintaannya 20-30 kg sehari. Permintaan tetap dikirim, tapi harganya yang melonjak. Seton (1 ton) mah habis kalau masuk Depok. Sekarang sudah mulai kurang," jelas Suyadi.

"Barang apa pun kalau kosong pasti mahal, dimana pun pasarnya. Baru kali ini saya jual jahe, temulawak mahal begini," ujar dia yang mengaku telah 15 tahun berdagang bahan jamu di Pasar Kemiri Muka.

Adam turut mengamini. Ia berujar, harga bahan-bahan jamu secara konstan makin mahal dari hari ke hari disebabkan harga yang juga kian mahal dari Pasar Induk.

"Kemarin temulawak beli masih Rp 35.000, katanya hari ini sudah Rp 50.000 di Induk. Saya sih masih ada stok," tutur Adam.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hippindo: Kalau Sertifikasi CHSE Gratis Tanpa biaya, Kami Tak Masalah

Hippindo: Kalau Sertifikasi CHSE Gratis Tanpa biaya, Kami Tak Masalah

Megapolitan
Sidang Hoaks Babi Ngepet di Depok, Saksi Mulanya Tak Tahu Barang yang Diambilnya Babi

Sidang Hoaks Babi Ngepet di Depok, Saksi Mulanya Tak Tahu Barang yang Diambilnya Babi

Megapolitan
ART di Kebon Jeruk Curi Brankas Majikannya Saat Ditinggal ke Luar Negeri

ART di Kebon Jeruk Curi Brankas Majikannya Saat Ditinggal ke Luar Negeri

Megapolitan
UPDATE 28 September: Tambah 15 Kasus Covid-19 dan 10 Pasien Sembuh di Tangsel

UPDATE 28 September: Tambah 15 Kasus Covid-19 dan 10 Pasien Sembuh di Tangsel

Megapolitan
Pengakuan Pencuri Motor di Bekasi: Gaji Rp 2 Juta Kurang buat Kebutuhan Sehari-hari

Pengakuan Pencuri Motor di Bekasi: Gaji Rp 2 Juta Kurang buat Kebutuhan Sehari-hari

Megapolitan
Merasa Aman Beraktivitas di Tangsel, Manusia Silver Hanya Ditahan 2 Hari jika Terjaring Razia

Merasa Aman Beraktivitas di Tangsel, Manusia Silver Hanya Ditahan 2 Hari jika Terjaring Razia

Megapolitan
Keluarga Napi Tewas akibat Kebakaran Lapas Tangerang Akan Gugat Pemerintah ke PTUN

Keluarga Napi Tewas akibat Kebakaran Lapas Tangerang Akan Gugat Pemerintah ke PTUN

Megapolitan
Revitalisasi Blok I dan II Pasar Senen Hampir Rampung, 60 Persen Kios Sudah Terjual

Revitalisasi Blok I dan II Pasar Senen Hampir Rampung, 60 Persen Kios Sudah Terjual

Megapolitan
Kebakaran Landa 2 Rumah di 2 Lokasi Berbeda Wilayah Jaktim Hari Ini

Kebakaran Landa 2 Rumah di 2 Lokasi Berbeda Wilayah Jaktim Hari Ini

Megapolitan
6 Keluarga Napi Tewas di Lapas Tangerang Tuntut 2 Hal Ini ke Pemerintah Pusat

6 Keluarga Napi Tewas di Lapas Tangerang Tuntut 2 Hal Ini ke Pemerintah Pusat

Megapolitan
Pasutri yang Ajak Bayi Jadi Manusia Silver di Pamulang Belum Diketahui Keberadaannya

Pasutri yang Ajak Bayi Jadi Manusia Silver di Pamulang Belum Diketahui Keberadaannya

Megapolitan
Sejumlah Pejabat DKI Tinjau Stasiun Tebet Sebelum Besok Diresmikan

Sejumlah Pejabat DKI Tinjau Stasiun Tebet Sebelum Besok Diresmikan

Megapolitan
GPS Kendaraan Curian Aktif, Pencuri 25 Sepeda Motor Terlacak dan Diringkus Polisi

GPS Kendaraan Curian Aktif, Pencuri 25 Sepeda Motor Terlacak dan Diringkus Polisi

Megapolitan
Wali Kota Tangerang Harap Pemerintah Pusat Beri Akses Pemkot Kelola Aplikasi PeduliLindungi

Wali Kota Tangerang Harap Pemerintah Pusat Beri Akses Pemkot Kelola Aplikasi PeduliLindungi

Megapolitan
7 Fraksi Tak Hadiri Rapat Paripurna Interpelasi Formula E, Ketua DPRD DKI: Bukti Tak Berpihak ke Warga

7 Fraksi Tak Hadiri Rapat Paripurna Interpelasi Formula E, Ketua DPRD DKI: Bukti Tak Berpihak ke Warga

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.