RSUD Pasar Minggu Hanya Punya 4 Ruang Isolasi, Buka Ruang Baru Disebut Tak Mudah

Kompas.com - 18/03/2020, 08:39 WIB
Pemandangan RSUD Pasar Minggu di Jalan TB Simatupang, arah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kamis (26/1/2017) Kompas.com/Robertus BelarminusPemandangan RSUD Pasar Minggu di Jalan TB Simatupang, arah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kamis (26/1/2017)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasudin Kesehatan Kota Jakarta Selatan, Muhammad Helmi mengatakan, RSUD Pasar Minggu di Jakarta Selatan hanya miliki empat ruang isolasi untuk menampung pasien yang diduga mengidap covid-19.

Ruang isolasi direncanakan akan ditambah jumlahnya mengingat semakin banyaknya pasien yang datang.

"Kalau enggak salah ada empat ( ruangan). Kayaknya mau tambah lagi. Saya belum update lagi. Rasanya tambah terus kalau ada penambahan (pasien positif). Kalau teknisnya itu ada di direktur," kata Helmi, Selasa (17/3/2020) malam.

Baca juga: Satu Malam Berkerumun di Ruang Isolasi RSUD Pasar Minggu...

 

Namun, untuk menambah ruangan isolasi tidak semudah yang dibayangkan. Helmi mengatakan ada beberapa faktor yang harus dipenuhi sebelum membuat ruangan isolasi baru.

"Kalau kamar biasa langsung buka, seperti ruangan biasa. Tapi yang namanya kamar isolasi ada aturan-aturannya. Jadi tidak semudah kita membuka, mohon maaf, pengungsian gitu, langsung seadanya. Enggak bisa seperti itu," ujar dia.

Ada beberapa hal teknis yang harus disiapkan, yakni jalur evakuasi ruangan isolasi, fasilitas di ruangan tersebut, dan perlengkapan petugas yang melayani pasien di ruang isolasi itu.

Terlepas dari itu, dia yakin RSUD Pasar Minggu sudah melakukan persiapan yang terbaik untuk melayani pasien ODP (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan) maupun yang mengidap covid - 19.

"Kalau kesiapan secara teknis tentunya adanya pada direktur rumah sakit. Kalau dengan kami jalurnya koordinasi," kata dia.

Sebelumnya, IDI sempat menyoroti kurangnya fasilitas penunjang di rumah sakit yang ditunjuk pemerintah untuk menangani pasien covid - 19, salah satunya soal fasilitas ruang isolasi.

IDI menilai kurangnya fasilitas tersebut juga menjadi masalah pemerintah dalam menanggulangi penyebaran covid-19 yang disebabkan virus corona tipe 2.

"Nah problemnya memang dari awal kemampuan rumah sakit yang 131 untuk menampung perawatan covid-19 dengan ruangan yang standar itu berapa, kan belum ada," ujar Wakil Ketua Umum IDI, Muhammad Adib Khumaidi, Senin lalu.

Baca juga: 4 Pasien di RSUD Pasar Minggu Dalam Pengawasan Terkait Virus Corona

Menurut Adib, rumah sakit yang sudah ditunjuk harus memenuhi fasilitas, di antaranya ruang isolasi, ICU, ruang perawatan, perlengkapan, dan standar ukuran ventilasi.

Jika beberapa rumah sakit yang ditunjuk ternyata tidak memenuhi standar pelayanan pasien covid-19, hal tersebut juga akan berdampak pada pelayanan pasien.

"Sehingga terkesan menurut saya beban itu akhirnya dibebankan ke rumah sakit rujukan dengan kemampuan yang kita belum ada datanya," kata dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemilik Bangunan di Jaksel Diminta Tak Parkir Kendaraan di Trotoar

Pemilik Bangunan di Jaksel Diminta Tak Parkir Kendaraan di Trotoar

Megapolitan
Operasi Identifikasi Korban Sriwijaya Air SJ 182 Resmi Berakhir, 3 Orang Belum Teridentifikasi

Operasi Identifikasi Korban Sriwijaya Air SJ 182 Resmi Berakhir, 3 Orang Belum Teridentifikasi

Megapolitan
Setahun Covid-19, Kebijakan PSBB Dikenalkan Sebagai Solusi Tekan Penyebaran Kasus Tanpa Harus Lockdown

Setahun Covid-19, Kebijakan PSBB Dikenalkan Sebagai Solusi Tekan Penyebaran Kasus Tanpa Harus Lockdown

Megapolitan
Akui Lecehkan Dua Karyawati di Kantornya, Pelaku: Saya Sedang Mabuk

Akui Lecehkan Dua Karyawati di Kantornya, Pelaku: Saya Sedang Mabuk

Megapolitan
59 dari 62 Korban Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182 Telah Teridentifikasi

59 dari 62 Korban Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182 Telah Teridentifikasi

Megapolitan
Pengakuan Korban Pelecehan Seksual oleh Mantan Bosnya di Ancol, Pelaku Sering Bawa Keris

Pengakuan Korban Pelecehan Seksual oleh Mantan Bosnya di Ancol, Pelaku Sering Bawa Keris

Megapolitan
Setahun Covid-19, Jakarta Jadi Provinsi Pertama yang Tutup Sekolah dan WFH

Setahun Covid-19, Jakarta Jadi Provinsi Pertama yang Tutup Sekolah dan WFH

Megapolitan
2 Karyawati Korban Pelecehan Tak Berani Melawan karena Tersangka Punya Senjata Tajam

2 Karyawati Korban Pelecehan Tak Berani Melawan karena Tersangka Punya Senjata Tajam

Megapolitan
Setahun Pandemi Covid-19, Wagub DKI: Terpenting Kepatuhan Masyarakat

Setahun Pandemi Covid-19, Wagub DKI: Terpenting Kepatuhan Masyarakat

Megapolitan
Setahun Pandemi Covid-19, Orang Nomor 1 Jadi Pasien Pertama Covid-19 di Kota Bogor

Setahun Pandemi Covid-19, Orang Nomor 1 Jadi Pasien Pertama Covid-19 di Kota Bogor

Megapolitan
Setahun Pandemi Covid-19, Wali Kota Bekasi Bilang Capek Juga Biayanya

Setahun Pandemi Covid-19, Wali Kota Bekasi Bilang Capek Juga Biayanya

Megapolitan
Pelaku Pelecehan Seksual terhadap 2 Karyawati di Kawasan Ancol Bermodus Bisa Meramal

Pelaku Pelecehan Seksual terhadap 2 Karyawati di Kawasan Ancol Bermodus Bisa Meramal

Megapolitan
Vaksinasi Lansia di Depok Dibuka,  Bisa Daftar di Puskesmas atau Lewat Situs Ini

Vaksinasi Lansia di Depok Dibuka, Bisa Daftar di Puskesmas atau Lewat Situs Ini

Megapolitan
Kelapa Dua, Kelurahan dengan Kasus Covid-19 Terbanyak di Kebon Jeruk Jadi Lokasi Vaksinasi Dinamis

Kelapa Dua, Kelurahan dengan Kasus Covid-19 Terbanyak di Kebon Jeruk Jadi Lokasi Vaksinasi Dinamis

Megapolitan
Setahun Pandemi Covid-19: Sempat Terjadi Panic Buying karena Khawatir Lockdown

Setahun Pandemi Covid-19: Sempat Terjadi Panic Buying karena Khawatir Lockdown

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X