Greenpeace Sebut Kualitas Udara di Jakarta Belum Membaik Selama PSBB

Kompas.com - 30/04/2020, 19:47 WIB
Langit biru terlihat dari kawasan Kota Tua Jakarta, Rabu (8/4/2020). Sepinya aktivitas warga Ibu Kota karena pembatasan sosial membuat langit Jakarta  cerah dengan tingkat polusi yang rendah. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOLangit biru terlihat dari kawasan Kota Tua Jakarta, Rabu (8/4/2020). Sepinya aktivitas warga Ibu Kota karena pembatasan sosial membuat langit Jakarta cerah dengan tingkat polusi yang rendah.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kualitas udara di DKI Jakarta diklaim mulai mengalami perbaikan karena langit yang terlihat cerah dan biru beberapa waktu belakangan, terutama saat pandemi Covid-19.

Salah satu faktornya adalah bekurangnya polusi dari sumber bergerak, yakni kendaraan selama pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB).

Menanggapi hal itu, Juru Bicara Bidang Iklim dan Energi Greenpeace Bondan Andriyanu mengatakan, penerapan PSBB dan langit cerah di Ibu Kota beberapa waktu belakangan bukan berarti kualitas udara sudah sepenuhnya membaik dan bebas dari polusi.

Baca juga: Begini Kualitas Udara Jakarta Saat Hari Bumi di Tengah Pandemi Covid-19

“Dikatakan ada langit terlihat bagus, Gunung Salak dan Gunung Pangrango terlihat dari Jakarta dalam waktu yang bersamaan. Itu kalau diperhatikan lebih dalam lagi ternyata hanya bisa terlihat dalam beberapa jam tertentu, tapi selanjutnya dia (polusi) meningkat lagi,” ujar Bondan dalam diskusi online, Kamis (30/4/2020).

Menurut dia, untuk mengetahui bahwa polusi di Ibu Kota masih berada di level yang aman harus dilihat dari data stasiun pemantauan kualitas udara.

Namun, data kualitas udara dari alat pemantauan yang dimilik pemerintah sulit untuk diakses oleh masyarakat.

Baca juga: Melihat Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah yang Menerapkan PSBB, Seperti Apa Kondisinya?

“Sekarang lagi Covid-19 nih, katanya berjemur itu bagus untuk kesehatan. Tapi alih-alih berjemur untuk menghilangkan Covid-19, bagaimana kita kalau ternyata kita menghirup polutan,” ungkapnya.

Bondan menyebutkan bahwa kualitas udara selama April 2020 ternyata berada di level yang kurang baik dengan rata-rata konsentrasi polutan PM2.5 per harinya berada pada angka 15-20.

Data tersebut didapatkan dari dua stasiun pemantauan kualitas udara milik US Embassy yang berlokasi di Monas, Jakarta Pusat dan Blok M, Jakarta Selatan.

Pemberlakuan PSBB, lanjut dia, memang berhasil mengurangi polusi udara di Jakarta yang dihasilkan oleh emisi kendaraan.

Kendati demikian, banyak sumbangan polutan PM2.5 dari sumber tidak bergerak yang berada di luar Jakarta membuat kualitas udara di Ibu Kota tidak sepenuhnya membaik.

“Jakarta katakanlah transportasi sudah berkurang signifikan. Tapi kalau transportasi sebenarnya secara polutan kalau tidak salah itu signifikan mengurangi NO2-nya, tapi PM2.5-nya masih tinggi,” ujarnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Prakiraan Cuaca BMKG: Bogor, Bekasi, dan Depok Hujan Nanti Malam

Prakiraan Cuaca BMKG: Bogor, Bekasi, dan Depok Hujan Nanti Malam

Megapolitan
Begini Cara MRT Jakarta Relokasi Pohon di Monas dan Thamrin yang Terkena Proyek

Begini Cara MRT Jakarta Relokasi Pohon di Monas dan Thamrin yang Terkena Proyek

Megapolitan
Gumpalan Minyak di Perairan Pulau Pari Diduga Berasal dari Kapal yang Melintas

Gumpalan Minyak di Perairan Pulau Pari Diduga Berasal dari Kapal yang Melintas

Megapolitan
Dirut Sebut Pengerjaan MRT Fase 2A Bagian dari Pemulihan Ekonomi

Dirut Sebut Pengerjaan MRT Fase 2A Bagian dari Pemulihan Ekonomi

Megapolitan
Perairan Pulau Pari Dibersihkan dari Limbah Gumpalan Minyak, Terkumpul 380 Karung

Perairan Pulau Pari Dibersihkan dari Limbah Gumpalan Minyak, Terkumpul 380 Karung

Megapolitan
Dituduh Culik Anak hingga Fotonya Disebar, Pria di Bogor Lapor Polisi

Dituduh Culik Anak hingga Fotonya Disebar, Pria di Bogor Lapor Polisi

Megapolitan
40 Truk Keliling Tangerang Semprot Disinfektan, Wakil Walkot Sebut untuk Ingatkan Pandemi Belum Usai

40 Truk Keliling Tangerang Semprot Disinfektan, Wakil Walkot Sebut untuk Ingatkan Pandemi Belum Usai

Megapolitan
UPDATE 10 Agustus: 17 RW di 15 Kelurahan Kota Bekasi Masuk Zona Merah

UPDATE 10 Agustus: 17 RW di 15 Kelurahan Kota Bekasi Masuk Zona Merah

Megapolitan
UPDATE 11 Agustus: Bertambah 10, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini Ada 647

UPDATE 11 Agustus: Bertambah 10, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini Ada 647

Megapolitan
Dituding Lecehkan Anak-anak secara Seksual, Pria di Citayam Nyaris Diamuk Warga

Dituding Lecehkan Anak-anak secara Seksual, Pria di Citayam Nyaris Diamuk Warga

Megapolitan
Perairan Pulau Pari Tercemar Gumpalan Minyak Berwarna Hitam

Perairan Pulau Pari Tercemar Gumpalan Minyak Berwarna Hitam

Megapolitan
Zona Merah Covid-19 di Kota Tangerang Kembali Bertambah

Zona Merah Covid-19 di Kota Tangerang Kembali Bertambah

Megapolitan
Hujan Deras dan Saluran Air Tersumbat, Kawasan Lenteng Agung Sempat Terendam

Hujan Deras dan Saluran Air Tersumbat, Kawasan Lenteng Agung Sempat Terendam

Megapolitan
Setelah Anji, Polisi Panggil Hadi Pranoto Terkait Video Temuan Obat Covid-19

Setelah Anji, Polisi Panggil Hadi Pranoto Terkait Video Temuan Obat Covid-19

Megapolitan
Tak Ada Dana, Insentif Tukang Gali Kubur dan Sopir Ambulans Khusus Covid-19 di Jakarta Tertunda

Tak Ada Dana, Insentif Tukang Gali Kubur dan Sopir Ambulans Khusus Covid-19 di Jakarta Tertunda

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X