Cerita Kekecewaan WNI dari Luar Negeri yang Dikarantina di Asrama Haji, Kotor hingga Tak Ramah Anak

Kompas.com - 20/05/2020, 12:18 WIB
Penumpang saat tiba di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/5/2020). PT Angkasa Pura II mengeluarkan tujuh prosedur baru bagi penumpang penerbangan rute domestik selama masa dilarang mudik Idul Fitri 1441 H di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPenumpang saat tiba di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/5/2020). PT Angkasa Pura II mengeluarkan tujuh prosedur baru bagi penumpang penerbangan rute domestik selama masa dilarang mudik Idul Fitri 1441 H di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Penulis Cynthia Lova
|

BEKASI, KOMPAS.com - Soraya, salah seorang warga negara Indonesia (WNI) menceritakan kekecewaannya ketika baru tiba di Tanah Air.

Ia menilai, kondisi tempat karantina yang disiapkan Pemerintah kurang memadai.

Salah satunya, Asrama Haji Bekasi yang disiapkan Pemerintah sebagai lokasi isolasi WNI yang baru kembali dari luar negeri.

Soraya saat itu dikarantina selama enam hari bersama dua anaknya yang masih kecil dan suaminya setelah kembali dari Hongkong.

Soraya menilai, kondisi fasilitas di Asrama Haji Bekasi kurang dipersiapkan.

“Apalagi di awal datang (saya kecewa). Seperti kelihatannya kurang persiapan,” kata Soraya kepada Kompas.com, Rabu (20/5/2020).

Baca juga: Saling Lempar, Anggaran Formula E Belum Bisa Ditarik untuk Covid-19

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia bercerita, ketika sampai di Asrama Haji dari Bandara Soetta pada 14 Mei 2020, ia kaget melihat kamar tampak sangat kotor seperti tidak pernah dibersihkan.

Meja, lantai, hingga kasur penuh dengan debu.

Akhirnya, ia harus membersihkan kamar tersebut agar layak ditempati oleh keluarganya.

Menurut dia, aturan protokol kesehatan yang harus keluarganya lewati selama lima jam di Bandara Soetta sudah sangat melelahkan.

Sayangnya, ketika sampai di tempat karantina, ia belum bisa langsung berisitirahat.

“Kondisi baru landing dengan dua anak ditambah lima jam ikuti semua protokol kesehatan hingga sampai di Asrama Haji, itu sangat melelahkan sekali. Kami harus mengepel seluruh lantai dan mengelap meja yang memang sangat kotor,” kata Soraya.

Baca juga: Perjalanan Bertambahnya Zona Hijau Bebas Covid-19 di Kota Bekasi, dari 6 Menjadi 38 Kelurahan...

Usai membersihkan seluruh kamar, ia melihat AC atau pendingin ruangan di kamarnya mati. Bahkan air wastafel di kamar tidak berfungsi.

Wanita 31 tahun ini sempat mengeluhkan fasilitas yang didapatkannya di Asrama Haji. Namun para petugas tak bisa berbuat banyak.

Pasalnya, petugas baru ditugaskan ke Asmara Haji satu hari sebelum para WNI datang.

“Mereka bilang hanya fasilitas itu yang dapat mereka sediakan, selebihnya tidak bisa. Kalau mau fasilitas lebih, kami dipersilahkan bawa AC (portable) sendiri,” ujar Soraya.

Kondisi hari pertama di Asrama Haji membuat dua anaknya tidak bisa tidur bahkan terus menangis.

Baca juga: Hingga 19 Mei, 168 Jenazah Dimakamkan dengan Protap Covid-19 di Kota Bekasi

Namun, keesokan harinya, Soraya meminta keluarganya untuk mengirimkan kipas ke Asrama Haji.

“Rumah saya tidak jauh dari Asrama Haji. Saya langsung minta keluarga bawa barang-barang yang dibutuhkan (kipas dan perlengkapan lainnya). Sejak saat ini anak saya tidak nangis lagi,” kata dia.

Soraya menambahkan, setiap WNI yang tinggal di asrama diberi makan, meski terkadang ada beberapa yang tidak kedapatan makan.

Untuk kebutuhan pribadi di kamar, kata Soraya, baru disiapkan setelah lima hari mereka dikarantina.

“Sehari sebelum pulang kami baru dapat family hygiene kit yang isinya handuk, selimut, sabun, shampoo, sikat gigi, odol pembalut, diaper, dan cutton bud,” ucap dia.

Tempat karantina tidak ramah bayi

Soraya menilai, tempat karantina di Asrama Haji tidak ramah bagi anak.

Padahal dalam protokol Gugus Tugas Covid-19 tentang “Pengasuhan anak tanpa gejala, anak dalam pemantauan, anak dalam pengawasan, kasus konfirmasi” Nomor: B-2 yang dikeluarkan tanggal 30 April 2020, anak diperbolehkan untuk isolasi mandiri.

Saat dikarantina di Asrama Haji, Soraya mengaku khawatir anaknya terpapar Covid-19.

Pasalnya, anaknya dikarantina bersama dengan ratusan orang dalam pemantauan (ODP).

Menurut ceritanya, banyak masyarakat yang dikarantina tak menggunakan masker. Bahkan para pekerja migran Indonesia (PMI) dilihatnya tidak jaga jarak.

“Saya khawatir saat di asrama, kebanyakan teman-teman PMI ini tidak melakukan social distancing. Mereka setiap hari berkumpul untuk ngopi pagi atau sekedar ngobrol di ruang tamu lantai atau di lobi bawah. Ada yang pakai masker, ada yang enggak. Ini sangat berisiko,” kata dia.

Oleh karena itu, menurut dia, anak sebaiknya diberikan fasilitas karantina sendiri yang layak atau diperbolehkan isolasi mandiri di rumah.

Adapun saat karantina, ia membawa anaknya yang berusia sembilan bulan dan 6 tahun.

“Saya khawatir kesehatan anak-anak saya. Dari awal kedatangan saya mempertanyakan soal kewajiban karantina untuk anak dan bayi. Bagaimana mungkin saya bisa tenang ketika anak saya harus karantina di gedung yang sama dengan 200 ODP dewasa lainnya yang jelas-jelas berisiko,”  ujarnya.

“Bukankah lebih baik anak-anak saya karantina mandiri di rumah bersama keluarga? Saya sampai ajukan opsi ke petugas di asrama biar saya dan suami saja yang dikarantina, anak-anak bisa dijemput keluarga, tapi enggak bisa,” tambah dia.

Namun, kekhawatirannya lega setelah melihat hasil tes swab PCR (polymerase chain reaction) ia dan keluarganya negatif Covid-19.

Menurut dia, seluruh yang dikarantina di Asrama Haji saat itu hasil tes swabnya negatif.

Setelah hasil swab PCR dinyatakan negatif, mereka diperbolehkan pulang.

“Pas melihat hasil swabnya negatif, saya cukup lega hingga sampai rumah,” kata dia.

Ia berharap Pemerintah bisa mempersiapkan lebih matang fasilitas karantina layak untuk para WNI saat kembali ke tanah air, khususnya buat anak-anak.

“Semoga ini bisa menjadi evaluasi dari Pemerintah untuk meningkatkan fasilitas. Apalagi untuk anak dan bayi. Jika ternyata anak dan bayi harus ikut dikarantina bersama ODP dewasa lainnya, buatlah semua proses itu ramah bayi,” tutur dia.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Korban Penembakan di Taman Sari Masih Dirawat di Rumah Sakit

Korban Penembakan di Taman Sari Masih Dirawat di Rumah Sakit

Megapolitan
Produksi Tembakau Sintetis, Perempuan Ini Ditangkap Polisi

Produksi Tembakau Sintetis, Perempuan Ini Ditangkap Polisi

Megapolitan
Kurir Sabu-sabu Ditangkap Polisi di Karawaci Tangerang

Kurir Sabu-sabu Ditangkap Polisi di Karawaci Tangerang

Megapolitan
Diduga Intimidasi Jurnalis, Kadispora Tangsel Mengaku Emosi

Diduga Intimidasi Jurnalis, Kadispora Tangsel Mengaku Emosi

Megapolitan
Setuju Tarif Parkir Naik, Pengamat: Indonesia Sudah Lama Jadi Surga Parkir

Setuju Tarif Parkir Naik, Pengamat: Indonesia Sudah Lama Jadi Surga Parkir

Megapolitan
Pemkot Bekasi Ungkap Penyebab Meninpisnya BOR di RSUD

Pemkot Bekasi Ungkap Penyebab Meninpisnya BOR di RSUD

Megapolitan
Update 23 Juni: 35.705 Pasien Covid-19 di Jakarta Dirawat, 4.693 Kasus Baru

Update 23 Juni: 35.705 Pasien Covid-19 di Jakarta Dirawat, 4.693 Kasus Baru

Megapolitan
Hasil Asesmen, Anji Segera Keluar Tahanan untuk Rehabilitasi

Hasil Asesmen, Anji Segera Keluar Tahanan untuk Rehabilitasi

Megapolitan
Amankan Pria Positif Covid-19 yang Mengamuk di RSUD Pasar Minggu, 2 Satpam Tertular

Amankan Pria Positif Covid-19 yang Mengamuk di RSUD Pasar Minggu, 2 Satpam Tertular

Megapolitan
Pemkot Tangerang Minta Perkantoran Patuhi Skema WFH dan WFO

Pemkot Tangerang Minta Perkantoran Patuhi Skema WFH dan WFO

Megapolitan
Sasar 25.000 Warga, Vaksinasi Massal di Stadion Patriot Bekasi Dilanjutkan Juli 2021

Sasar 25.000 Warga, Vaksinasi Massal di Stadion Patriot Bekasi Dilanjutkan Juli 2021

Megapolitan
Video Pria Positif Covid-19 Mengamuk Minta Dirawat di RSUD Pasar Minggu Viral di Medsos

Video Pria Positif Covid-19 Mengamuk Minta Dirawat di RSUD Pasar Minggu Viral di Medsos

Megapolitan
Tempat Tidur ICU untuk Pasien Covid-19 di Tangsel Tersisa 4 Unit

Tempat Tidur ICU untuk Pasien Covid-19 di Tangsel Tersisa 4 Unit

Megapolitan
Kepala Dinas Pertamanan DKI Bantah Jenazah Pasien Covid-19 Mulai Diangkut Pakai Truk

Kepala Dinas Pertamanan DKI Bantah Jenazah Pasien Covid-19 Mulai Diangkut Pakai Truk

Megapolitan
Alarm dari RS Wisma Atlet, Pasien Positif Dipulangkan hingga 'Teror' Sirine

Alarm dari RS Wisma Atlet, Pasien Positif Dipulangkan hingga 'Teror' Sirine

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X