Video Viral Prank Sampah dan Lelang Keperawanan, Penyintas Covid-19: Saya Marah, Itu Bukan Masyarakat Cerdas

Kompas.com - 23/05/2020, 05:50 WIB
YouTuber Ferdian Paleka kini jadi buronan polisi terkait kasus prank sembako berisi batu dan taoge busuk. Dok. Instagram @ferdianpalekaaYouTuber Ferdian Paleka kini jadi buronan polisi terkait kasus prank sembako berisi batu dan taoge busuk.
Penulis Cynthia Lova
|

BEKASI, KOMPAS.com - Belakangan ini, kasus Covid-19 kerap dijadikan bahan lelucon demi menarik perhatian orang di media sosial.

Awalnya, muncul dari seorang YouTuber bernama Ferdian Paleka yang membuat konten prank dengan memberikan kardus sembako berisi batu dan sampah kepada kaum waria atau transpuan di Bandung, Jawa Barat.

Aksinya itu pun lantas langsung dikecam masyarakat. Korban yang merasa dirugikan kemudian melaporkan Ferdian Paleka dan teman-temannya ke polisi.

Ferdian pun dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik dan terancam UU ITE. Kemudian, ia akhirnya ditangkap polisi pada Jumat (8/5/2020).

Baca juga: Video Viral Selebgram Lelang Keperawanan untuk Lawan Covid-19, Perawat: Di Mana Adabnya?

Selain itu, selebgram Sarah Keihl pun kini tengah menjadi sorotan karena mengunggah video dirinya yang menyatakan ingin melelang keperawanannya untuk membantu melawan Covid-19.

Usai videonya viral di media sosial dan mendapat berbagai tanggapan dari masyarakat, selebgram dengan akun Instagram @sarahkeihl itu menghapus konten videonya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia kemudian mengklarifikasi unggahan videonya dan meminta maaf kepada publik.

Sarah mengaku bahwa konten video yang dibuatnya tersebut bertujuan menyindir masyarakat yang tidak patuh terhadap protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Sarah meminta maaf atas konten video yang dibuatnya dan menyatakan bahwa konten tersebut hanya candaan.

Baca juga: Saat Pembawa Virus Corona Tak Tunjukkan Gejala, Tularkan Covid-19 ke 24 Perawat di Depok

"Konten yang saya berikan di Instagram memang bentuknya sarkasme dan bercanda, aku harap teman-teman mengerti tujuanku walaupun caranya salah," bunyi potongan pernyataan Sarah dalam akun Instagram-nya.

Penyintas Covid-19 prihatin

Menggapi berbagai candaan itu, Arief Rahman, penyintas pertama Covid-19 di Kota Bekasi ini mengaku prihatin.

Seharusnya, kata Arief, masyarakat prihatin dengan adanya pandemi Covid-19 dan bisa menggunakan media sosial dengan bijak.

"Saya prihatin sekali melihat keadaan sekarang. Saya sampaikan masyarakat yang begitu menjadikan Covid jadi bahan lelucon bukan masyarakat yang cerdas. Kalau saya boleh marah, saya marah,” kata Arief saat dihubungi, Jumat (22/5/2020).

Menurut Arief, mereka yang bercanda bahkan menganggap remeh kasus Covid-19 dan tak menghargai kerja keras tenaga medis saat ini.

Baca juga: Bertambah Tiga, Ada 41 Kelurahan di Bekasi yang Masuk Zona Hijau Covid-19

Meskipun tenaga medis memang bertugas untuk melayani dan merawat masyarakat yang terkena Covid-19, seharusnya masyarakat bisa simpatik dengan pengorbanan mereka selama ini.

Pasalnya, tenaga medis berjuang untuk menyembuhkan satu per satu anggota masyarakat yang mulai berjatuhan terkena Covid-19.

"Punya rasa empati gitu, jangan malah menyepelekan. Saya bingung pemahaman masyarakat tentang kondisi saat ini, ini masyarakatnya yang gagal paham atau pesan pemerintahnya kurang tersampaikan ya," kata dia.

Menjadi pasien positif Covid-19, menurut dia, adalah satu kejadian yang sempat membuatnya terpuruk.

Ia harus melewati masa pemulihan selama satu setengah bulan untuk bisa kembali sehat.

Namun, nyatanya kondisi masyarakat saat ini malah mendekatkan diri menuju Covid-19 dan bahkan menjadikannya bahan lelucon semata.

Baca juga: Reproduction Number Penularan Covid-19 di Kota Bekasi Disebut 0,71

“Coba bayangin jadi pasien positif Covid-19, diisolasi tanpa bisa bertemu keluarga. Harus berjuang juga melawan penyakit itu, itu butuh waktu lama,” kata dia.

Arief mengatakan, seharusnya masyarakat, khususnya anak muda, mulai sadar bahwa Covid-19 ini harus dilawan bersama.

Melawan Covid-19 bisa dengan menggunakan media sosial sebaik mungkin, yaitu memotivasi masyarakat untuk bangkit, menyebarkan protokol pencegahan, serta memberi semangat untuk pasien positif Covid-19 dan tenaga medis.

Ia juga meminta masyarakat bersikap cerdas untuk menekan angka kasus Covid-19, sehingga situasi Indonesia normal kembali tanpa Covid-19.

“Kita menyadari kita harus kerja sama ikuti protokolnya. Apakah enggak ada waktu lain untuk nongkrong? Kalau memikirkan keinginan, semua juga ingin, kalau enggak butuh enggak usah, jadi masyarakat yang cerdas,” tutup dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tersangka Pembunuhan Anggota TNI di Depok Didakwa dengan Pasal Berlapis

Tersangka Pembunuhan Anggota TNI di Depok Didakwa dengan Pasal Berlapis

Megapolitan
Saat Reklamasi hingga Eksploitasi Pesisir Jakarta Berujung Pada Tangisan Warga Terdampak Banjir Rob

Saat Reklamasi hingga Eksploitasi Pesisir Jakarta Berujung Pada Tangisan Warga Terdampak Banjir Rob

Megapolitan
Warga Pasang Tali Pegangan di Jalan Lodan agar Tak Terseret Arus Banjir Rob Saat Berjalan

Warga Pasang Tali Pegangan di Jalan Lodan agar Tak Terseret Arus Banjir Rob Saat Berjalan

Megapolitan
Tembak 2 Orang di Exit Tol Bintaro, Ipda OS Ditetapkan Jadi Tersangka

Tembak 2 Orang di Exit Tol Bintaro, Ipda OS Ditetapkan Jadi Tersangka

Megapolitan
Banjir Rob Kembali Meluap, Warga Kampung Kerapu Ancol: Kulkas Rusak, Tembok Rumah Hancur...

Banjir Rob Kembali Meluap, Warga Kampung Kerapu Ancol: Kulkas Rusak, Tembok Rumah Hancur...

Megapolitan
Kronologi Sejumlah Pria Berpakaian Wanita Joget di Kafe Wow Pancoran yang Digeruduk Warga

Kronologi Sejumlah Pria Berpakaian Wanita Joget di Kafe Wow Pancoran yang Digeruduk Warga

Megapolitan
Polisi Tetapkan Satu Tersangka dalam Kasus Tewasnya Anggota FBR Joglo

Polisi Tetapkan Satu Tersangka dalam Kasus Tewasnya Anggota FBR Joglo

Megapolitan
Sopir Bus Transjakarta yang Tabrak Pos Polisi Simpang PGC Jadi Tersangka

Sopir Bus Transjakarta yang Tabrak Pos Polisi Simpang PGC Jadi Tersangka

Megapolitan
3 Bus Transjakarta Kecelakaan dalam Sehari, 1 Orang Tewas

3 Bus Transjakarta Kecelakaan dalam Sehari, 1 Orang Tewas

Megapolitan
Waduk Rambutan 3 Seluas Dua Hektar Dibangun di Kelurahan Rambutan

Waduk Rambutan 3 Seluas Dua Hektar Dibangun di Kelurahan Rambutan

Megapolitan
Lalin di Jalan Lodan Raya Terputus akibat Banjir Rob, Pengendara Diarahkan ke Jalur Alternatif

Lalin di Jalan Lodan Raya Terputus akibat Banjir Rob, Pengendara Diarahkan ke Jalur Alternatif

Megapolitan
Data BPBD Jumat Siang, 39 RT di Jakarta Terendam Banjir Rob hingga 80 Sentimeter

Data BPBD Jumat Siang, 39 RT di Jakarta Terendam Banjir Rob hingga 80 Sentimeter

Megapolitan
Anggota Babinsa Gendong Lansia Korban Banjir Rob di Ancol

Anggota Babinsa Gendong Lansia Korban Banjir Rob di Ancol

Megapolitan
Kronologi Bus Transjakarta Tabrak Pejalan Kaki hingga Tewas di Jatipadang

Kronologi Bus Transjakarta Tabrak Pejalan Kaki hingga Tewas di Jatipadang

Megapolitan
PPKM Level 3 Batal Diterapkan Saat Nataru, Ini Syarat Naik Pesawat yang Berlaku

PPKM Level 3 Batal Diterapkan Saat Nataru, Ini Syarat Naik Pesawat yang Berlaku

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.