Kompas.com - 03/06/2020, 16:26 WIB
Petugas medis melakukan tes diagnostik cepat (rapid test) COVID-19 kepada sejumlah sampel darah dari calon penumpang KRL di Stasiun Citayam, Depok, Jawa Barat, Senin (18/5/2020). Tes diagnostik cepat yang dilakukan kepada 200 calon penumpang secara acak tersebut sebagai salah satu metode untuk mendeteksi dan mencegah penyebaran COVID-19 di transportasi umum. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/wsj. ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHAPetugas medis melakukan tes diagnostik cepat (rapid test) COVID-19 kepada sejumlah sampel darah dari calon penumpang KRL di Stasiun Citayam, Depok, Jawa Barat, Senin (18/5/2020). Tes diagnostik cepat yang dilakukan kepada 200 calon penumpang secara acak tersebut sebagai salah satu metode untuk mendeteksi dan mencegah penyebaran COVID-19 di transportasi umum. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/wsj.

DEPOK, KOMPAS.com - Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita, mengklaim bahwa pihaknya masih bisa melakukan banyak pemeriksaan Covid-19 dalam beberapa waktu ke depan.

"Masih banyaklah pokoknya. Tiga ribuan ada kok (di RS Universitas Indonesia dan RS Brimob)," kata Novarita ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (3/6/2020).

Ia menambahkan, dua rumah sakit itu masing-masing sanggup memeriksa sekitar 100 sampel sehari dengan metode PCR.

Jika jumlah pemeriksaan Covid-19 di dua tempat itu diklaim masih ada 3.000 slot, maka di atas kertas Kota Depok masih mampu melakukan pemeriksaan hingga 30 hari ke depan dengan 100 tes per hari.

Baca juga: Pemkot Depok Dinilai Tak Transparan soal Jumlah Tes Covid-19 Jelang PSBB Usai

Novarita juga mengklaim bahwa pihaknya tidak mengalami kendala pasokan bahan-bahan untuk tes Covid-19 seperti alat swab, reagen, dan VTM (virus transport medium).

Sebagai informasi, tanpa bahan-bahan di atas, secanggih apa pun laboratorium dan sebanyak apa pun mesin PCR akan sia-sia karena tetap tak dapat melakukan tes.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Cukuplah pokoknya (bahan-bahan tes). Aman," ujar dia singkat.

Sebelumnya, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Depok, Alif Noeriyanto, menilai Pemerintah Kota Depok tidak punya keterbukaan dalam melaporkan jumlah pemeriksaan Covid-19 saban hari.

Menurut dia, jumlah tes Covid-19 di Depok masih jauh dari ideal.

"Kita punya kuota, sehingga tidak semua dites. Kita dikuota 1.356 pemeriksaan untuk Depok. Jadi dicicil per harinya, sekitar puluhan sampai seratus. Kalau sudah habis, ya sudah, tinggal mau ditambah atau tidak kuotanya," ujar Alif ketika dihubungi, Rabu.

Padahal, jumlah pemeriksaan sangat penting guna memperoleh gambaran akurat mengenai situasi sebaran virus corona di lapangan.

Jika tes kian minim, temuan kasus Covid-19 juga akan semakin sedikit. Namun tak mencerminkan keadaan sesungguhnya.

Baca juga: Depok Siap-siap PSBB Lokal, Identifikasi 31 RW Zona Merah

Karena itu, menurut dia, melambatnya kasus Covid-19 di Depok selama beberapa hari terakhir yang dilaporkan pemerintah belum tentu betul-betul karena penularan telah ditekan. Bisa jadi itu karena tes yang dilakukan sedikit.

"Kita tidak tahu yang sudah dilakukan pemeriksaan berapa? Apakah (tes Covid-19 di Depok sedikit) memang karena kita bersiap untuk (pemeriksaan) jangka panjang atau memang dananya sudah habis? Ini tidak ada keterbukaan," ujar Alif.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Kereta MRT Disebut Ratangga? Ternyata Ini Sejarah di Baliknya...

Kenapa Kereta MRT Disebut Ratangga? Ternyata Ini Sejarah di Baliknya...

Megapolitan
Vaksinasi Warga 18 Tahun ke Atas di Depok Dimulai, Daftar Lewat Hotline Berikut Ini

Vaksinasi Warga 18 Tahun ke Atas di Depok Dimulai, Daftar Lewat Hotline Berikut Ini

Megapolitan
Pasien Covid-19 Kabupaten Bekasi Kini 1.609 Orang

Pasien Covid-19 Kabupaten Bekasi Kini 1.609 Orang

Megapolitan
Langgar Ganjil Genap, Petugas Putar Balik 2.000 Kendaraan di Kota Bogor

Langgar Ganjil Genap, Petugas Putar Balik 2.000 Kendaraan di Kota Bogor

Megapolitan
Ada Nobar Euro 2020 di Pamulang, Wali Kota Tangsel Kerahkan Anggota untuk Razia

Ada Nobar Euro 2020 di Pamulang, Wali Kota Tangsel Kerahkan Anggota untuk Razia

Megapolitan
Depok Buka Vaksinasi Covid-19 untuk Warga Usia 18 Tahun ke Atas

Depok Buka Vaksinasi Covid-19 untuk Warga Usia 18 Tahun ke Atas

Megapolitan
37 Balita Positif Covid-19 di Depok Hari Ini, Sama dengan Lansia

37 Balita Positif Covid-19 di Depok Hari Ini, Sama dengan Lansia

Megapolitan
Depok Catat 543 Kasus Baru Covid-19, Terbanyak Kedua Sepanjang Sejarah

Depok Catat 543 Kasus Baru Covid-19, Terbanyak Kedua Sepanjang Sejarah

Megapolitan
Rekor Lagi, 4.895 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Hari Ini

Rekor Lagi, 4.895 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Hari Ini

Megapolitan
Covid-19 di Bekasi Naik Hampir 90 Persen, Wali Kota: Bukan Meningkat, tapi Melonjak Vertikal!

Covid-19 di Bekasi Naik Hampir 90 Persen, Wali Kota: Bukan Meningkat, tapi Melonjak Vertikal!

Megapolitan
Palak Pedagang Dimsum, 2 Pria yang Mengaku Jawara di Serpong Ditangkap

Palak Pedagang Dimsum, 2 Pria yang Mengaku Jawara di Serpong Ditangkap

Megapolitan
Masih Banyak Warga yang Enggan Disuntik Vaksin Covid-19, Apa Alasan Mereka?

Masih Banyak Warga yang Enggan Disuntik Vaksin Covid-19, Apa Alasan Mereka?

Megapolitan
138 Pasien Covid-19 Jalani Isolasi di Graha Wisata Ragunan, Kapasitas Ruangan Tersedia Tinggal 6 Kamar

138 Pasien Covid-19 Jalani Isolasi di Graha Wisata Ragunan, Kapasitas Ruangan Tersedia Tinggal 6 Kamar

Megapolitan
Warga Ber-KTP Non DKI Terpapar Covid-19 di Jakarta, Ini Cara untuk Mendapatkan Perawatan

Warga Ber-KTP Non DKI Terpapar Covid-19 di Jakarta, Ini Cara untuk Mendapatkan Perawatan

Megapolitan
13 Tahun MRT Jakarta: Transformasi dan Kolaborasi

13 Tahun MRT Jakarta: Transformasi dan Kolaborasi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X