Cikal Bakal Menteng, Ambisi Belanda Punya Kota Taman di Batavia

Kompas.com - 20/06/2020, 19:34 WIB
Taman Menteng, Jakarta Pusat, dilihat dari udara, Jumat (6/2/2015). Ruang terbuka hijau menjadi salah satu penyeimbang dan oasis di tengah belantara gedung kota. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESTaman Menteng, Jakarta Pusat, dilihat dari udara, Jumat (6/2/2015). Ruang terbuka hijau menjadi salah satu penyeimbang dan oasis di tengah belantara gedung kota.
Penulis Cynthia Lova
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecamatan Menteng di Jakarta Pusat merupakan salah satu permukiman elite di Jakarta. Sejak zaman penjajahan, Belanda sudah berencana menjadikan area itu menjadi kota taman pertama di Indonesia.

Adalah perusahaan de Bouwploeg yang mulanya membangun Menteng menjadi kota taman seperti Minerva (laan) di Belanda. Hal ini diceritakan dalam buku berjudul "Batavia Kota Banjir" oleh Alwi Shahab. 

Bouwpleng merupakan nama perusahaan real estate yang didirikan arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen pada tahun 1879. Pada tahun 1920 sampai 1940-an, arsitek inilah yang membangun kawasan Menteng sebagai pemukiman modern pertama di Jakarta.

Nama perusahaaan de Bouwploeg oleh lidah Betawi dahulu disebut Boplo.

Baca juga: Lapangan Monas dari Masa ke Masa, Pernah Jadi Pacuan Kuda

Perusahaan real estate pertama di Indonesia itu memiliki kantor yang dibangun di sebidang lahan di tengah dua jalur jalan yang kini bernama Jalan Cut Meutia. Namun, kini gedung Boplo tersebut menjadi Masjid Cut Mutia, Jakarta Pusat.

NV De Bouwploeg yang kala itu dipimpin oleh Pieter Adriaan Jacobus Moojen membangun Menteng. Berkat tangan Moojen, Menteng kala itu menjadi taman kota pertama meniru daerah Minerva (laan) di Amsterdam.

Ketika Menteng dibangun, perusahaan-perusahaan Belanda terutama yang bergerak di bidang perkebunan kala itu sedang menghadapi kejayaan. Bahkan pemilik modal dari Belanda dan Eropa pun banyak ke daerah Menteng. Untuk menampung pemilik modal dari Belanda dan Eropa maka dibangunlah Menteng yang sampai ini menjadi kawasan elite di Jakarta.

Seorang tokoh arsitek nomor satu Belanda ketika berkunjung ke Jakarta sebelum Perang Dunia II menyebut Menteng sebagai Europese burt (Kawasan Eropa) dan Minerva sebagai lingkungan yang chic (kelas tinggi).

Baca juga: Ini Daftar Acara Virtual Sambut HUT ke-493 DKI Jakarta

Sesudah tahun 1918, bersamaan dengan meninggalnya si perancang, Bouwploeg atau Boplo dinyatakan bangkrut.

Gedung kantor perusahaan ini lalu digunakan sebagai kantor pos pembantu, kemudian menjadai tempat AL Jepang pada saat Perang Dunia II.

Sesudahnya dimanfaatkan oleh Staatspoorweg (jawatan Kereta Api masa Hindia Belanda). Setelah kemerdekaan pada tahun 1954, Bouwploeg ini digunakan sebagai perumahan kemudian sekertariat DPRGR dan MPR pada tahun 1964 dan Kantor Urusan Agama (KUA) yang sekaligus berfungsi sebagai masjid hingga saat ini.

Bahkan, Kawasan Menteng pada tahun 1970 dibanggakan sebbagai tempat tinggal diplomat, Menteri, dan presiden.

Namun, berbanding terbalik pada saat ini kawasan Menteng yang sudah banyak dibongkar. Lalu lintasnya pada pagi hingga malam di Kawasan Menteng juga macet. Bangunannya pun sudah campur aduk, berbeda dengan ketika masih tertata baik dan diisi dengan bangunan bergaya selaras satu sama lain.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE: Total 298 Kantong Berisi Bagian Tubuh Korban Sriwijaya Air Diserahkan ke DVI Polri

UPDATE: Total 298 Kantong Berisi Bagian Tubuh Korban Sriwijaya Air Diserahkan ke DVI Polri

Megapolitan
UPDATE 16 Januari: Ada 4.275 Kasus Covid-19 di Tangsel, Tambah 37

UPDATE 16 Januari: Ada 4.275 Kasus Covid-19 di Tangsel, Tambah 37

Megapolitan
UPDATE: Tim SAR Pencarian Sriwijaya Air SJ 182 Terima 9 Kantong Temuan dari Bakamla dan KRI Kurau

UPDATE: Tim SAR Pencarian Sriwijaya Air SJ 182 Terima 9 Kantong Temuan dari Bakamla dan KRI Kurau

Megapolitan
Diduga Korsleting, Mobil Terbakar di Jalan Tol Layang Wiyoto Wiyono

Diduga Korsleting, Mobil Terbakar di Jalan Tol Layang Wiyoto Wiyono

Megapolitan
UPDATE Sabtu Sore: Basarnas Terima 17 Kantong Jenazah Potongan Tubuh dan Sekantong Barang Pribadi Korban Sriwijaya Air

UPDATE Sabtu Sore: Basarnas Terima 17 Kantong Jenazah Potongan Tubuh dan Sekantong Barang Pribadi Korban Sriwijaya Air

Megapolitan
3.536 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, Tertinggi Selama Pandemi

3.536 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, Tertinggi Selama Pandemi

Megapolitan
KPAI Minta Pelaku Pencabulan Anak Tiri di Jakarta Barat Dihukum Berat

KPAI Minta Pelaku Pencabulan Anak Tiri di Jakarta Barat Dihukum Berat

Megapolitan
Pramugari Korban Sriwijaya Air Dikenang Rekannya sebagai Sosok yang Mengayomi dan Humoris

Pramugari Korban Sriwijaya Air Dikenang Rekannya sebagai Sosok yang Mengayomi dan Humoris

Megapolitan
Positif Covid-19, 79 Penghuni Panti Yayasan Tri Asih di Kebon Jeruk Jalani Isolasi Mandiri

Positif Covid-19, 79 Penghuni Panti Yayasan Tri Asih di Kebon Jeruk Jalani Isolasi Mandiri

Megapolitan
Ajakan Terbang Bareng yang Tak Pernah Terwujud...

Ajakan Terbang Bareng yang Tak Pernah Terwujud...

Megapolitan
Tangis Haru dan Kumandang Salawat Sambut Jenazah Pramugari Korban Sriwijaya Air

Tangis Haru dan Kumandang Salawat Sambut Jenazah Pramugari Korban Sriwijaya Air

Megapolitan
Kisah Perjuangan Pedagang Tanaman Hias di Depok hingga Dapat Barter Rumah Rp 500 Juta

Kisah Perjuangan Pedagang Tanaman Hias di Depok hingga Dapat Barter Rumah Rp 500 Juta

Megapolitan
Masuk Hari Ke-8, Tim SAR Fokus Cari 3 Obyek Pencarian Sriwijaya Air 182

Masuk Hari Ke-8, Tim SAR Fokus Cari 3 Obyek Pencarian Sriwijaya Air 182

Megapolitan
Tangis Keluarga Pramugari Korban Sriwijaya Air, Sang Ayah Terus Pandangi Peti Jenazah Putrinya

Tangis Keluarga Pramugari Korban Sriwijaya Air, Sang Ayah Terus Pandangi Peti Jenazah Putrinya

Megapolitan
5.563 KK di Kepulauan Seribu Akan Terima BST Rp 300.000 Mulai 25 Januari

5.563 KK di Kepulauan Seribu Akan Terima BST Rp 300.000 Mulai 25 Januari

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X