Potret Pasar Senen Tempo Dulu, dari Kerajaan Toko hingga Siasat Menaklukkan Belanda

Kompas.com - 20/06/2020, 21:07 WIB
Pasar Senen diabadikan pada tahun 1976 KOMPAS/JB SURATNOPasar Senen diabadikan pada tahun 1976

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Tren bersepeda hari ini menggeliat lagi di Ibu Kota. Selaras dengan upaya Pemprov DKI Jakarta melirik sepeda sebagai moda transportasi alternatif, bersepeda kembali digandrungi.

Tren bersepeda keliling kota terdengar modern. Namun, jika kita melampaui waktu jauh ke masa silam hingga awal tahun 1900-an, penduduk Jakarta – saat itu Batavia – rupanya sudah akrab dengan dunia gowes.

“Kala itu sepeda merupakan kendaraan yang paling banyak digunakan masyarakat, mulai dari murid, sekolah, pegawai, hingga pedagang,” begitu tulis jurnalis senior Alwi Shahab dalam bukunya Batavia Kota Banjir (2009).

Zaman kolonial hingga awal kemerdekaan, bersepeda juga mengandung nilai prestise. Pemerintah bahkan secara khusus memungut pajak bagi para pesepeda.

Baca juga: Lapangan Monas dari Masa ke Masa, Pernah Jadi Pacuan Kuda

Kepemilikan sepeda harus legal, seperti halnya kepemilikan kendaraan bermotor hari ini. Jika hari ini kita mengenal BPKB sebagai bukti kepemilikan kendaraan bermotor, zaman itu para pesepeda mesti melengkapi tunggangannya dengan “peneng”.

Peneng ini berwujud lempengan besi/emblem yang dipasang di sepeda, sebagai penanda bahwa sepeda tersebut sudah terdaftar sebagai objek pajak. Tanpa peneng, pesepeda bakal kena denda jika terjaring razia waktu itu.

Seiring prestise yang melekat pada bersepeda, beberapa merek akhirnya menjadi primadona para pesepeda di Batavia era itu, sebut saja Humber, Raleigh, Royal & Fill, Fongers, dan Hercules.

Lantas, di mana orang-orang mencari sepeda-sepeda merek tenar beserta seperangkat aksesorinya waktu itu?

Jawabannya adalah Pasar Senen.

Baca juga: Cikal Bakal Menteng, Ambisi Belanda Punya Kota Taman di Batavia

Simpul ekonomi

Pengantar mengenai tren bersepeda di pengujung era kolonial tadi adalah permulaan untuk memperkenalkan bahwa Pasar Senen di pusat Batavia sudah berdenyut sejak lama.

Jauh sebelum hari ini, Pasar Senen yang dibangun pada 1733-1735 silam itu boleh dibilang telah mengemban peran sebagai salah satu jantung ekonomi Batavia selain Pasar Tanah Abang.

"Di depan pasar, tempat kini berdiri (Plaza) Atrium Senen, dulu terdapat Apotek Rathkamp yang setelah Kemerdekaan menjadi Kimia Farma. Dulu, daerah ini disebut Gang Kenanga,” kata Alwi dalam buku yang sama.

“Di sini terdapat toko sepeda terkenal, Tjong & Co,” lanjut dia.

Pemerintah Hindia Belanda juga tampaknya memang mendesain Pasar Senen sebagai salah satu simpul penting aktivitas ekonomi di Batavia.

Baca juga: Sejarah Pasar Senen, Bekas Tempat Tuan Tanah Belanda hingga PKL Era Ali Sadikin

Mulanya, pasar ini buka cuma hari Senin, sehingga dijuluki Pasar Senen. Akan tetapi, jurnalis senior Windoro Adi mencatat, secara bertahap Pasar Senen dibuka sepekan penuh mulai tahun 1766 (Batavia, 1740: menyisir jejak Betawi).

Tak hanya itu, lintasan trem yang membelah Batavia dari Meester Cornelis (Jatinegara) ke Pasar Ikan, juga dibangun melewati wilayah Pasar Senen selain Pasar Baru dan Glodok.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE: Total 298 Kantong Berisi Bagian Tubuh Korban Sriwijaya Air Diserahkan ke DVI Polri

UPDATE: Total 298 Kantong Berisi Bagian Tubuh Korban Sriwijaya Air Diserahkan ke DVI Polri

Megapolitan
UPDATE 16 Januari: Ada 4.275 Kasus Covid-19 di Tangsel, Tambah 37

UPDATE 16 Januari: Ada 4.275 Kasus Covid-19 di Tangsel, Tambah 37

Megapolitan
UPDATE: Tim SAR Pencarian Sriwijaya Air SJ 182 Terima 9 Kantong Temuan dari Bakamla dan KRI Kurau

UPDATE: Tim SAR Pencarian Sriwijaya Air SJ 182 Terima 9 Kantong Temuan dari Bakamla dan KRI Kurau

Megapolitan
Diduga Korsleting, Mobil Terbakar di Jalan Tol Layang Wiyoto Wiyono

Diduga Korsleting, Mobil Terbakar di Jalan Tol Layang Wiyoto Wiyono

Megapolitan
UPDATE Sabtu Sore: Basarnas Terima 17 Kantong Jenazah Potongan Tubuh dan Sekantong Barang Pribadi Korban Sriwijaya Air

UPDATE Sabtu Sore: Basarnas Terima 17 Kantong Jenazah Potongan Tubuh dan Sekantong Barang Pribadi Korban Sriwijaya Air

Megapolitan
3.536 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, Tertinggi Selama Pandemi

3.536 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta, Tertinggi Selama Pandemi

Megapolitan
KPAI Minta Pelaku Pencabulan Anak Tiri di Jakarta Barat Dihukum Berat

KPAI Minta Pelaku Pencabulan Anak Tiri di Jakarta Barat Dihukum Berat

Megapolitan
Pramugari Korban Sriwijaya Air Dikenang Rekannya sebagai Sosok yang Mengayomi dan Humoris

Pramugari Korban Sriwijaya Air Dikenang Rekannya sebagai Sosok yang Mengayomi dan Humoris

Megapolitan
Positif Covid-19, 79 Penghuni Panti Yayasan Tri Asih di Kebon Jeruk Jalani Isolasi Mandiri

Positif Covid-19, 79 Penghuni Panti Yayasan Tri Asih di Kebon Jeruk Jalani Isolasi Mandiri

Megapolitan
Ajakan Terbang Bareng yang Tak Pernah Terwujud...

Ajakan Terbang Bareng yang Tak Pernah Terwujud...

Megapolitan
Tangis Haru dan Kumandang Salawat Sambut Jenazah Pramugari Korban Sriwijaya Air

Tangis Haru dan Kumandang Salawat Sambut Jenazah Pramugari Korban Sriwijaya Air

Megapolitan
Kisah Perjuangan Pedagang Tanaman Hias di Depok hingga Dapat Barter Rumah Rp 500 Juta

Kisah Perjuangan Pedagang Tanaman Hias di Depok hingga Dapat Barter Rumah Rp 500 Juta

Megapolitan
Masuk Hari Ke-8, Tim SAR Fokus Cari 3 Obyek Pencarian Sriwijaya Air 182

Masuk Hari Ke-8, Tim SAR Fokus Cari 3 Obyek Pencarian Sriwijaya Air 182

Megapolitan
Tangis Keluarga Pramugari Korban Sriwijaya Air, Sang Ayah Terus Pandangi Peti Jenazah Putrinya

Tangis Keluarga Pramugari Korban Sriwijaya Air, Sang Ayah Terus Pandangi Peti Jenazah Putrinya

Megapolitan
5.563 KK di Kepulauan Seribu Akan Terima BST Rp 300.000 Mulai 25 Januari

5.563 KK di Kepulauan Seribu Akan Terima BST Rp 300.000 Mulai 25 Januari

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X