Kala yang Muda Harus Mengalah pada yang Tua karena Persoalan Sistem PPDB...

Kompas.com - 26/06/2020, 10:08 WIB
Sejumlah orang tua murid terdampak PPDB DKI Jakarta melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Balaikota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2020). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.Sejumlah orang tua murid terdampak PPDB DKI Jakarta melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Balaikota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2020).
Penulis Nursita Sari
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2020/2021 melalui jalur zonasi di DKI Jakarta menuai kritik.

Mekanisme PPDB jalur zonasi tersebut dianggap mementingan calon siswa yang berusia lebih tua.

Pada saat pendaftaran jalur zonasi dibuka, Kamis (25/6/2020), ada calon siswa berusia muda yang tersingkir oleh calon siswa yang berusia lebih tua.

Kisah calon siswa yang tersingkir

Savira Maulidia (22), warga Kelurahan Paseban, Jakarta Pusat, bercerita, ia mendaftarkan adiknya ke jenjang SMA melalui jalur zonasi pada Kamis kemarin, setelah sang adik tidak lolos di jalur afirmasi.

Namun, sang adik terlempar dari daftar calon siswa dan tidak lolos karena usianya lebih muda dari calon siswa yang lain.

"Pilih sekolah yang masih satu kelurahan, tapi tetap kalah sama yang umurnya tua. Bertahan cuma sampai siang, mental lagi di semua sekolah. Umur adik saya 15 tahun 4 bulan, tetapi sekarang zonasi umur terendahnya 15 tahun 7 bulan," kata Savira, kemarin.

Baca juga: Cerita Wali Murid yang Anaknya Tak Lolos Jalur Afirmasi dan Zonasi PPDB Jakarta

Savira berpendapat, sistem PPDB yang mengedepankan siswa berusia lebih tua tidak tepat.

Kondisi serupa dikeluhkan Astuti (33), warga Kelurahan Srengseng Sawah.

Dia mendaftarkan anaknya yang baru lulus SD ke tiga SMP negeri melalui jalur zonasi.

Namun, Astuti harus menerima hasil yang mengecewakan karena sang anak langsung tergeser dari daftar penerima calon siswa baru di sekolah yang dipilih.

Baca juga: Wali Murid Ungkap Kesedihan Anak Tidak Lolos PPDB Jakarta karena Usia Lebih Muda

Anaknya yang baru berumur 12 tahun lebih enam bulan harus tergeser oleh calon peserta didik lain yang berusia lebih tua.

Menurut dia, pendaftar jalur zonasi di sekolah-sekolah yang dipilih untuk anaknya berusia di atas 12 tahun 10 bulan hingga 13 tahun ke atas.

"Sudah pilih tiga sekolah hasilnya mengecewakan. Karena anak saya kan lumayan baguslah nilainya, tetapi langsung terlempar namanya," kata Astuti.

Kesedihan calon siswa

Astuti bercerita, anaknya merasa kecewa karena tersingkir dari sekolah yang telah dipilih. Padahal, sang anak sudah belajar maksimal agar lolos di sekolah yang dipilih.

"Namanya anak-anak maunya di situ dan hasil belajarnya sudah bagus, tapi enggak masuk ya kecewa," ujar dia.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tak Kapok Ngebut di Kawasan Istana, Pemotor Dihukum Push Up hingga Dilumpuhkan Paspampres

Tak Kapok Ngebut di Kawasan Istana, Pemotor Dihukum Push Up hingga Dilumpuhkan Paspampres

Megapolitan
Kabel-kabel Menjuntai di Jalan Barito 1 dan Membahayakan Pengendara

Kabel-kabel Menjuntai di Jalan Barito 1 dan Membahayakan Pengendara

Megapolitan
Cara Pengelola Kafe Lokasi Penembakan oleh Bripda CS Kelabui Satpol PP soal Jam Operasional

Cara Pengelola Kafe Lokasi Penembakan oleh Bripda CS Kelabui Satpol PP soal Jam Operasional

Megapolitan
Pemerintah Terbitkan Aturan Vaksinasi Mandiri, Pengusaha DKI Harap Harganya Terjangkau

Pemerintah Terbitkan Aturan Vaksinasi Mandiri, Pengusaha DKI Harap Harganya Terjangkau

Megapolitan
Pengusaha DKI Sambut Baik Vaksinasi Covid-19 Mandiri

Pengusaha DKI Sambut Baik Vaksinasi Covid-19 Mandiri

Megapolitan
Puluhan Rumah Warga Cilincing Rusak Diterpa Angin Kencang

Puluhan Rumah Warga Cilincing Rusak Diterpa Angin Kencang

Megapolitan
Ibu dari 2 Balita yang Tertabarak Truk di Pondok Cabe Meninggal di RS

Ibu dari 2 Balita yang Tertabarak Truk di Pondok Cabe Meninggal di RS

Megapolitan
Tanggapi Wacana Interpelasi F-PSI soal Banjir Jakarta, Wagub DKI: Kami Persilakan

Tanggapi Wacana Interpelasi F-PSI soal Banjir Jakarta, Wagub DKI: Kami Persilakan

Megapolitan
Paspampres Sebut Sunmori Moge yang Terobos Ring 1 Bisa Ditembak Karena Membahayakan

Paspampres Sebut Sunmori Moge yang Terobos Ring 1 Bisa Ditembak Karena Membahayakan

Megapolitan
Pengendara Moge Ditendang Saat Terobos Ring 1, Paspampres: Itu Masih Manusiawi, Sebenarnya Bisa Ditembak

Pengendara Moge Ditendang Saat Terobos Ring 1, Paspampres: Itu Masih Manusiawi, Sebenarnya Bisa Ditembak

Megapolitan
Bandara Soekarno Hatta Siapkan Layanan Taksi Terbang untuk Antar Masyarakat

Bandara Soekarno Hatta Siapkan Layanan Taksi Terbang untuk Antar Masyarakat

Megapolitan
Paspampres: Pengendara Moge Dilumpuhkan karena Menerobos Kawasan Ring 1

Paspampres: Pengendara Moge Dilumpuhkan karena Menerobos Kawasan Ring 1

Megapolitan
Kerap Langgar Prokes, Lokasi Penembakan oleh Bripda CS Sering Dikeluhkan Warga Setempat

Kerap Langgar Prokes, Lokasi Penembakan oleh Bripda CS Sering Dikeluhkan Warga Setempat

Megapolitan
Lokasi Penembakkan oleh Bripda CS Buka hingga Subuh, Pemprov DKI: Pengelola Kafe Kelabui Petugas

Lokasi Penembakkan oleh Bripda CS Buka hingga Subuh, Pemprov DKI: Pengelola Kafe Kelabui Petugas

Megapolitan
Usai Dilantik Jadi Wakil Wali Kota Depok, Imam Berencana Silaturahim hingga Terbitkan Buku

Usai Dilantik Jadi Wakil Wali Kota Depok, Imam Berencana Silaturahim hingga Terbitkan Buku

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X