Besok Kota Bogor Masuki Fase Pra-Adaptasi Kebiasaan Baru

Kompas.com - 02/07/2020, 20:42 WIB
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar Ridwan Kamil meninjau kesiapan AKB Pondok Pesantren Hamalatul Quran Al Falakiyah di Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jumat (26/6/2020). 
Pemprov JabarKetua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar Ridwan Kamil meninjau kesiapan AKB Pondok Pesantren Hamalatul Quran Al Falakiyah di Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jumat (26/6/2020).

BOGOR, KOMPAS.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan menerapkan masa pra-adaptasi kebiasaan baru (AKB) selama 14 hari ke depan, terhitung mulai Jumat (3/7/2020) hingga Jumat (16/7/2020).

Keputusan itu diambil setelah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menyampaikan sejumlah catatan evaluasi terhadap pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) proposional di Kota Bogor.

Dalam catatan evaluasi tersebut, Kota Bogor dinilai mampu menekan penyebaran Covid-19 dengan angka reproduksi efektif (Rt) sebesar 0,33 atau paling rendah se-wilayah Bodebek.

Baca juga: Kota Bogor Catat Angka Penularan Covid-19 Terendah Se-Bodebek

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengungkapkan, selama masa penerapan pra-AKB ini, beberapa bidang usaha diizinkan untuk beroperasi kembali, salah satunya ojek online dan ojek pangkalan diperbolehkan mengangkut penumpang.

Selain itu, konfigurasi jumlah penumpang dalam angkutan umum juga akan ditambah menjadi 60 persen. Selain itu, pengoperasian terminal juga akan diaktifkan kembali dengan membatasi jam operasional.

"Beberapa hari ke depan kita akan koordinasikan secara teknis seperti apa. Misalnya, mengizinkan ojol untuk beroperasi mengangkut penumpang dengan protokol kesehatan, dan lain-lain," ucap Bima, Kamis (2/7/2020).

"Kerangkanya masih dalam kerangka PSBB proporsional tetapi dipersilakan untuk memulai pra-adaptasi kebiasaan baru di bidang tertentu,” sambungnya.

Baca juga: Kota Bogor Bersiap Masuki Pra-adaptasi Kebiasaan Baru, Aturan Pembatasan Akan Dilonggarkan

Bima menambahkan, Pemkot Bogor juga akan terus menggencarkan tes usap atau swab tes selama pra adaptasi kebiasaan baru diterapkan.

Hal itu, kata Bima, dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, termasuk memaksimalkan peran tim Detektif Covid yang sebelumnya telah dibentuk.

Ia menargetkan 8.000 warga Kota Bogor dilakukan tes usap. Pelaksanaan swab tes itu akan dilakukan di sejumlah titik yang disinyalir menjadi pusat penyebaran virus corona, seperti pasar dan stasiun.

"Swab kita sekarang sudah sekitar 4.000 lebih. Target kita 8.000. Kita akan kejar terus. Akan digencarkan ini. Semakin masif tes swab di Kota Bogor ini. Untuk masyarakat agar tetap gunakan masker, jaga jarak dan cuci tangan,” sebutnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wagub DKI: Tanpa Warga Luar Jakarta, Okupansi RS di Jakarta Hanya 60 Persen

Wagub DKI: Tanpa Warga Luar Jakarta, Okupansi RS di Jakarta Hanya 60 Persen

Megapolitan
Pemprov DKI Diminta Libatkan Tokoh Agama Cegah Penyebaran Covid-19

Pemprov DKI Diminta Libatkan Tokoh Agama Cegah Penyebaran Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 2.314, Angka Kematian Kembali Tertinggi

Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 2.314, Angka Kematian Kembali Tertinggi

Megapolitan
UPDATE 26 Januari: Ada 46 Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang, 69 Orang Sembuh

UPDATE 26 Januari: Ada 46 Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang, 69 Orang Sembuh

Megapolitan
UPDATE 26 Januari: Bertambah 39 Kasus Covid-19 di Tangsel, 3 Pasien Meninggal

UPDATE 26 Januari: Bertambah 39 Kasus Covid-19 di Tangsel, 3 Pasien Meninggal

Megapolitan
Polisi Masih Lengkapi Berkas Perkara Kasus Video Syur Gisel dan Michael Yukinobu

Polisi Masih Lengkapi Berkas Perkara Kasus Video Syur Gisel dan Michael Yukinobu

Megapolitan
Ditanya Alasan Beraksi Mesum di Halte Senen, MA: Emang Kenapa?

Ditanya Alasan Beraksi Mesum di Halte Senen, MA: Emang Kenapa?

Megapolitan
Seberangi Kali Pesanggrahan, Seorang Pria Terpeleset dan Hanyut

Seberangi Kali Pesanggrahan, Seorang Pria Terpeleset dan Hanyut

Megapolitan
Pembegal Perwira Marinir Sudah 11 Kali Beraksi di Jakarta

Pembegal Perwira Marinir Sudah 11 Kali Beraksi di Jakarta

Megapolitan
Dua Pekan PSBB, Satpol PP Jakbar Kumpulkan Denda Rp 47,6 Juta dari Warga Tak Pakai Masker

Dua Pekan PSBB, Satpol PP Jakbar Kumpulkan Denda Rp 47,6 Juta dari Warga Tak Pakai Masker

Megapolitan
Soal Penggunaan GeNose di Stasiun, Epidemiolog: Terburu-buru, Semuanya Ingin Jokowi Senang

Soal Penggunaan GeNose di Stasiun, Epidemiolog: Terburu-buru, Semuanya Ingin Jokowi Senang

Megapolitan
Wagub DKI: 50 Persen Kapasitas RS Bisa Digunakan untuk Pasien Covid-19

Wagub DKI: 50 Persen Kapasitas RS Bisa Digunakan untuk Pasien Covid-19

Megapolitan
Epidemiolog Sebut Izin Edar GeNose C19 Seharusnya Diterbitkan untuk Riset

Epidemiolog Sebut Izin Edar GeNose C19 Seharusnya Diterbitkan untuk Riset

Megapolitan
Beraksi Kurang dari 1 Menit, Komplotan Maling Rusak 2 Gembok Pintu Rumah, lalu Gasak Motor

Beraksi Kurang dari 1 Menit, Komplotan Maling Rusak 2 Gembok Pintu Rumah, lalu Gasak Motor

Megapolitan
Epidemiolog Sebut GeNose C19 Belum Bisa Gantikan Tes Covid-19

Epidemiolog Sebut GeNose C19 Belum Bisa Gantikan Tes Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X