Pencabulan Anak oleh Pejabat Gereja di Depok: Cerita Orangtua Depresi, Minta Ikut Direhablitasi

Kompas.com - 15/07/2020, 07:17 WIB
Ilustrasi Pencabulan KOMPAS.COM/HANDOUTIlustrasi Pencabulan

Selama tiga bulan, anaknya mengalami macam kekerasan seksual. Pertama, kemaluannya dipegang-pegang. Tak berhenti sampai di sana, SPM bertindak sangat jauh.

Ia melakukan seks oral dan anal terhadap anak itu. Kemudian, ia menempelkan kemaluannya ke kemaluan korban, bahkan sampai klimaks.

“Di tengah malam, ketika saya mengirim barang dan saya teringat kelakuan dia terhadap anak saya, saya teriak di jalan. Itu sampai hari ini. Sampai saat ini saya masih mengalami kejadian dan momen seperti itu,” ungkap Guntur.

“Saya manusia. Ketika saya tidak kuat, di luar rumah, ya terjadi lah hal-hal seperti itu,” tambahnya dengan nada lirih.

Baca juga: Cerita Ayah Korban Pencabulan Pengurus Gereja di Depok, Tersangka Tak Minta Maaf, Malah Mau Ajak Damai

Guntur menganggap dirinya ada di posisi yang pelik. Ia bertindak sebagai kepala keluarga. Dalam keluarganya, ia menganggap dirinya sebagai pilar bagi istri dan anaknya yang kini dirundung trauma.

Tanggung jawab itu selalu coba dipikul dengan baik oleh Guntur. Kendati kondisi mentalnya juga limbung atas apa yang menimpa anaknya, namun Guntur harus menguatkan anaknya.

Ia rajin menyampaikan pesan bernada semangat buat si bocah, terlebih setiap kali habis diperiksa polisi. Anaknya pasti mengalami trauma karena harus menceritakan ulang insiden kelam itu.

“Saya sampaikan ke anak saya, hal ini akan akan terus terjadi sampai selesai di pengadilan. Kamu harus kuat, sampai saya bilang, kamu belum waktunya untuk melupakan kejadian ini, karena keterangan dari kamu sangat dibutuhkan untuk memberatkan hukuman pelaku,” ungkap Guntur.

Baca juga: Sulitnya Mencari Bukti Pencabulan Anak di Gereja Depok dan Pentingnya RUU PKS Disahkan

“Kalau kamu sampai lemah kasihan teman-teman kamu yang menjadi korban, nanti pelaku tidak dihukum berat. Sekarang ini kamu belum bisa lupakan. Kamu harus kuat agar pelaku terhukum berat,” ia menirukan pesan yang ia sampaikan ke anaknya.

Guntur mengaku, ia juga mesti terlihat tenang di hadapan istrinya. Bagaimana pun, istrinya adalah orangtua yang paling dekat dengan si anak. Istrinya pula yang berbincang empat mata saat pertama kali meminta pengakuan dari anaknya soal insiden kelam itu.

“Tidak mungkin kan, di depan anak saya, saya teriak-teriak seperti itu. Di depan keluarga kan saya harus kuat karena saya tiangnya mereka,” kata dia.

Berharap ikut direhabilitasi

Kasus ini sekarang sudah diproses oleh kepolisian. Anak Guntur mulai sering memperoleh rehabilitasi psikis dari berbagai lembaga, mulai dari polisi hingga psikolog yang didatangkan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sidang Kasus Tes Usap Rizieq Shihab Hari Ini, Kuasa Hukum Hadirkan 6 Ahli

Sidang Kasus Tes Usap Rizieq Shihab Hari Ini, Kuasa Hukum Hadirkan 6 Ahli

Megapolitan
Kronologi Petugas Dishub Bekasi Dikeroyok Anggota Ormas Saat Bertugas

Kronologi Petugas Dishub Bekasi Dikeroyok Anggota Ormas Saat Bertugas

Megapolitan
Bantah TGUPP Jadi Alasan Ratusan PNS DKI Ogah Naik Jabatan, Wagub DKI: Semua Sama-sama Kerja

Bantah TGUPP Jadi Alasan Ratusan PNS DKI Ogah Naik Jabatan, Wagub DKI: Semua Sama-sama Kerja

Megapolitan
Fakta ART Aniaya Majikan Lansia: Pelaku Stres Beban Kerja hingga Ditangkap

Fakta ART Aniaya Majikan Lansia: Pelaku Stres Beban Kerja hingga Ditangkap

Megapolitan
3 Pemudik di Ciledug Diminta Jalani Karantina Mandiri Usai Dinyatakan Positif Covid-19

3 Pemudik di Ciledug Diminta Jalani Karantina Mandiri Usai Dinyatakan Positif Covid-19

Megapolitan
John Kei Membela Diri: Mengaku Sudah Bertobat hingga Merasa Dizalimi

John Kei Membela Diri: Mengaku Sudah Bertobat hingga Merasa Dizalimi

Megapolitan
Antisipasi Jakarta Hadapi Lonjakan Covid-19 Setelah Libur Panjang Lebaran

Antisipasi Jakarta Hadapi Lonjakan Covid-19 Setelah Libur Panjang Lebaran

Megapolitan
Belasan Kios di Terminal Senen Terbakar

Belasan Kios di Terminal Senen Terbakar

Megapolitan
UPDATE: Tambah 11 Kasus di Tangsel, 120 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 11 Kasus di Tangsel, 120 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
UPDATE: Tambah 19 Kasus di Kota Tangerang, 195 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 19 Kasus di Kota Tangerang, 195 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
Fakta Pelajar Menjambret di Jagakarsa, Cari Korban untuk Bayar Utang

Fakta Pelajar Menjambret di Jagakarsa, Cari Korban untuk Bayar Utang

Megapolitan
Kronologi Klaster Covid-19 di Perum Griya Melati Bogor, 25 Orang Terinfeksi

Kronologi Klaster Covid-19 di Perum Griya Melati Bogor, 25 Orang Terinfeksi

Megapolitan
Lambatnya Polisi Usut Pemerkosaan dan Perdagangan Remaja yang Menjerat Anak Anggota DPRD Bekasi

Lambatnya Polisi Usut Pemerkosaan dan Perdagangan Remaja yang Menjerat Anak Anggota DPRD Bekasi

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Permintaan Maaf Wagub DKI soal Video Paduan Suara di Masjid Istiqlal | Permintaan Maaf JYC yang Gelar Paduan Suara di Masjid Istiqlal

[POPULER JABODETABEK] Permintaan Maaf Wagub DKI soal Video Paduan Suara di Masjid Istiqlal | Permintaan Maaf JYC yang Gelar Paduan Suara di Masjid Istiqlal

Megapolitan
Usai Mudik, Satu Keluarga di Ciledug Kota Tangerang Positif Covid-19

Usai Mudik, Satu Keluarga di Ciledug Kota Tangerang Positif Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X