Ganjil Genap Diterapkan, Pekerja di Jakarta Pilih Naik Taksi Online, Pengeluaran Membengkak

Kompas.com - 04/08/2020, 11:01 WIB
Kendaraan bermotor melambat akibat terjebak kemacetan di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (8/8/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk memperluas sistem pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan nomor polisi ganjil dan genap. Sosialisasi perluasan ganjil genap dimulai dari 7 Agustus hingga 8 September 2019. Kemudian, uji coba di ruas jalan tambahan dimulai pada 12 Agustus sampai 6 September 2019. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGKendaraan bermotor melambat akibat terjebak kemacetan di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (8/8/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk memperluas sistem pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan nomor polisi ganjil dan genap. Sosialisasi perluasan ganjil genap dimulai dari 7 Agustus hingga 8 September 2019. Kemudian, uji coba di ruas jalan tambahan dimulai pada 12 Agustus sampai 6 September 2019.
Penulis Cynthia Lova
|

BEKASI, KOMPAS.com - Pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan nomor polisi ganjil dan genap di sejumlah jalan di Jakarta mulai diterapkan sejak Senin kemarin.

Sistem ganjil genap kembali diterapkan sebagai langkah Pemprov DKI mengurangi pergerakan warga di Jakarta pada masa pandemi Covid-19 ini.

Kepolisian masih melakukan sosialisasi aturan ganjil genap hingga Rabu besok. Pelanggar hanya diberi sanksi teguran.

Mulai Kamis lusa, penindakan berupa penilangan akan dilakukan bagi pengendara mobil yang melanggar.

Penerapan aturan itu mendapat berbagai respons dari masyarakat.

Baca juga: Ganjil Genap di Jakarta Dikritik: Tak Bisa Batasi Pergerakan Warga hingga Khawatir Klaster Baru

Mita Diah (24), warga Bintara yang bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta Timur mengaku aturan itu membuatnya harus naik taksi online ke kantor ketika mobilnya tidak bisa melintasi area yang menerapkan ganjil genap.

Dengan taksi online, ia harus mengeluarkan Rp 150.000 sekali perjalanan.

“Kemarin pelat mobil tak sesuai. Saya naik taksi online Rp 150.000 pergi doang. Nah pulangnya saya nebeng mobil teman,” kata Mita kepada Kompas.com, Selasa (4/8/2020).

Ia berhitung, pengeluaran bulannya bakal membengkak jika cara seperti itu terus dilakukannya.

“Bayangkan saja, saya harus keluarin uang Rp 150.000 dikali 15 hari naik taksi online. Padahal kalau saya naik mobil setiap hari cuma habis buat E-toll aja Rp 1 jutaan,” ujar dia.

Mita mengaku memilih beralih naik taksi online pada hari-hari tertentu lantaran masih khawatir naik kendaraan umum di tengah pandemi Covid-19.

Baca juga: Ganjil Genap di Jakarta Mulai Diterapkan, Simak Fakta Lengkapnya

Ia juga khawatir telat ke kantor jika naik transportasi umum. Pasalnya, antrean relatif panjang jika hendak menggunakan KRL karena pembatasan jumlah penumpang.

Padahal, Mita setiap harus sampai ke kantor pukul 08.00 WIB.

“Sedih banget sih uang minim tetapi terpaksa naik taksi online. Naik ojek online masih takut saya. Naik kendaraan umum kan ramai, pakai kendaraan pribadi makanya supaya tidak terpapar. Eh ini malah ganjil genap, boros banget jadinya,” ucap Mita.

Mita meminta Pemerintah untuk mencari solusi untuk para pekerja di Jakarta. Sebab dari kantornya tidak menyiapkan bus antar jemput.

“Ya saya mau ada solusi seperti setiap kantor harusnya punya antar jemput. Kalau kitanya takut naik angkutan umum atau naik KRL masa harus naik taksi online terus,” kata dia.

Senada disampaikan Leoni (27). Warga Cipinang yang bekerja di Sudirman ini mempertanyakan tujuan ganjil genap diterapkan pada masa pandemi Covid-19.

Ia menduga, jika warga yang sebelumnya menggunakan mobil pribadi lalu beralih ke transportasi umum, maka bisa saja memunculkan klaster baru di transportasi umum.

Sebab, bagi pekerja yang tidak bisa bekerja dari rumah, maka bisa beralih ke transportasi umum.

“Sekarang sih lebih menanyakan aja tujuan dari diterapkannya ganjil genap saat ini itu apa? Ini malah menambah penumpukan di transportasi umum. Khawatir malah nambahin kasus Covid-19,” kata Leoni.

Baca juga: Aturan Ganjil Genap Jakarta, Sopir Taksi Online Yakin Pendapatan Bakal Turun

Menurut dia, Pemerintah saat ini belum bisa menyiapkan transportasi umum yang memadai untuk jaga jarak fisik.

“Sebelum pandemi saja transportasi belum memadai. Ini kondisi saat ini kan harus jaga jarak, sementara transportasi kita kurang,” ucap Leoni.

Oleh karena itu, Leoni memilih mengajukan work from home (WFH) ketika mobilnya tidak bisa melintas area ganjil genap.

“Aku sih minta ke kantor untuk WFH. Kebetulan kantor aku bisa terapin sistem WFH buat karyawan yang berangkat ke kantornya dengan kendaraan umum,” kata Leoni.

Ia berharap Pemerintah mencabut kebijakan ganjil genap tersebut. Ia meyakini aturan itu tidak akan bisa menekan pergerakan warga di Jakarta.

“Mudah-mudahan kebijakannya tidak lama ini (ganjil genap). Karena tidak jadi solusi supaya masyarakat tidak keluar rumah juga. Toh malah naik kendaraan pribadi lebih safety,” tutur dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anies Singgung Penegakan Aturan PSBB di Daerah Pilkada Tak Seperti Jakarta, Wali Kota Tangsel: Nanti Kami Evaluasi

Anies Singgung Penegakan Aturan PSBB di Daerah Pilkada Tak Seperti Jakarta, Wali Kota Tangsel: Nanti Kami Evaluasi

Megapolitan
Antisipasi Musim Hujan, Satpol PP Turunkan 470 Spanduk dan Baliho Liar

Antisipasi Musim Hujan, Satpol PP Turunkan 470 Spanduk dan Baliho Liar

Megapolitan
Ledakan akibat Tabung Gas Bocor di Bekasi, Dapur hingga Rumah Tetangga Ikut Rusak

Ledakan akibat Tabung Gas Bocor di Bekasi, Dapur hingga Rumah Tetangga Ikut Rusak

Megapolitan
RSUI Depok Hampir Penuh meski Sudah Tambah Kapasitas, Pasien Covid-19 Terus Berdatangan

RSUI Depok Hampir Penuh meski Sudah Tambah Kapasitas, Pasien Covid-19 Terus Berdatangan

Megapolitan
Mulai 5 Desember, 4 Stasiun Ini Hanya Layani Transaksi KMT dan Kartu Uang Elektronik Setiap Hari

Mulai 5 Desember, 4 Stasiun Ini Hanya Layani Transaksi KMT dan Kartu Uang Elektronik Setiap Hari

Megapolitan
Menteri KKP Edhy Prabowo Ditangkap KPK, Wagub DKI: Kami Prihatin

Menteri KKP Edhy Prabowo Ditangkap KPK, Wagub DKI: Kami Prihatin

Megapolitan
Rute LRT Strategis Diserahkan ke Swasta, F-PDIP: Anies Kerja untuk Pemprov atau Swasta?

Rute LRT Strategis Diserahkan ke Swasta, F-PDIP: Anies Kerja untuk Pemprov atau Swasta?

Megapolitan
Waspada, November-Januari Masa Penetasan Telur Kobra

Waspada, November-Januari Masa Penetasan Telur Kobra

Megapolitan
Mayat Tanpa Identitas Ditemukan Mengambang di Kali Utan Kayu

Mayat Tanpa Identitas Ditemukan Mengambang di Kali Utan Kayu

Megapolitan
Begini Aturan Pemasangan Baliho yang Sah di DKI Jakarta

Begini Aturan Pemasangan Baliho yang Sah di DKI Jakarta

Megapolitan
Sekolah di Kota Bekasi Mulai Ajukan Diri Gelar KBM Tatap Muka

Sekolah di Kota Bekasi Mulai Ajukan Diri Gelar KBM Tatap Muka

Megapolitan
Akhirnya, Millen Cyrus Ditempatkan di Sel Khusus

Akhirnya, Millen Cyrus Ditempatkan di Sel Khusus

Megapolitan
Cegah Banjir, Pemancingan Liar di Waduk Munjul Dibongkar

Cegah Banjir, Pemancingan Liar di Waduk Munjul Dibongkar

Megapolitan
Kejar Target Persiapkan Pilkada 2020, KPU Tangsel Targetkan Lipat 1 Juta Surat Suara dalam 4 Hari

Kejar Target Persiapkan Pilkada 2020, KPU Tangsel Targetkan Lipat 1 Juta Surat Suara dalam 4 Hari

Megapolitan
Cerita Jacklyn Choppers Punya Akun YouTube, Pernah Bikin Warga 'Lupa' Sedang Marah ke Polisi

Cerita Jacklyn Choppers Punya Akun YouTube, Pernah Bikin Warga "Lupa" Sedang Marah ke Polisi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X