Warga Abai, Pemkot Setengah Hati, Pandemi Covid-19 di Depok bagai Bom Waktu?

Kompas.com - 14/08/2020, 06:59 WIB

Lonjakan ini disebut oleh Idris sebagai akibat dari semakin bebasnya mobilitas warga Depok. Klaster-klaster Covid-19 berupa rumah tangga/keluarga mulai bermunculan.

Namun, Pemerintah Kota Depok melalui Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dadang Wihana, pekan lalu justru mengaku “tak bisa membatasi aktivitas warga bekerja”. Padahal, Depok masih berstatus wilayah PSBB Proporsional.

Baca juga: Pemkot: Klaster Covid-19 Rumah Tangga Bermunculan di Depok

Alih-alih memperketat kembali pembatasan sosial berskala besar yang dilonggarkan pada 5 Juni 2020 lalu, Wali Kota Idris pilih menerbitkan edaran berupa 11 panduan bagi warga Depok guna mencegah penularan virus corona di rumah.

Isi edaran yang terbit 8 Agustus 2020 itu berisi sederet protokol, seperti jangan menyentuh benda apa pun sepulang ke rumah, segera membersihkan ponsel, mencuci pakaian, dan mandi sebelum berhubungan dengan keluarga. Idris berharap, seluruh warga akan patuh pada edaran itu.

Sisanya, Idris mengaku akan mengoptimalkan kembali Pembatasan Sosial Kampung Siaga (PSKS) Covid-19 berbasis RW di Depok. Masing-masing dari total 924 RW di Depok akan diguyur dana Rp 2 juta.

Itu artinya, kas daerah tersedot sekitar Rp 1,8 miliar untuk mengoptimalkan kembali program ini. Masalahnya, tak jelas sejauh mana efektivitas program PSKS Covid-19 berbasis RW dalam mengerem pertumbuhan kasus Covid-19. Idris maupun jajaran tak pernah mengumumkan soal itu.

Menanti ledakan bom waktu?

Dengan keadaan ini, otomatis Pemerintah Kota Depok memiliki satu PR besar yang harus dikerjakan selekas mungkin, yakni menggencarkan tes PCR yang sudah dikritik Tito.

Masalahnya, dengan jumlah tes PCR yang sedikit seperti saat ini saja, kasus aktif (pasien sedang terjangkit Covid-19) di Kota Depok kini konstan di atas 300 pasien menyusul lonjakan selama 2 pekan terakhir.

Di sisi lain, jumlah ketersediaan tempat tidur untuk pasien Covid-19 di Depok hanya 244 ranjang, berdasarkan data Pusat Informasi Covid-19 Kota Depok (Picodep), Rabu (12/8/2020).

Angka itu pun sudah termasuk jumlah tempat tidur di rumah sakit khusus isolasi. Rumah sakit jenis ini ditujukan untuk mengisolasi para pasien tanpa gejala yang keadaan rumahnya tak memungkinkan untuk karantina mandiri.

Baca juga: [UPDATE] Daftar 22 Kelurahan Zona Merah Covid-19 di Depok Saat Ini

Novarita menyebutkan, jumlah pasien Covid-19 yang melebihi ketersediaan tempat tidur di Depok masih belum begitu membahayakan.

Kata dia, rumah sakit yang ada masih bisa menampung pasien Covid-19, karena tak seluruh pasien positif dirawat di rumah sakit –ada yang dikarantina mandiri lantaran tanpa gejala.

“Yang tak bergejala isolasi di rumah, yang bergejala ringan cukup dipantau, bergejala ‘sedang’ dirujuk ke rumah sakit isolasi, yang bergejala berat ke rumah sakit rujukan,” kata dia.

Akan tetapi, Novarita tak menampik, bila upaya-upaya pencegahan tak dilakukan, maka Kota Depok tengah menyulut bom waktu. Suatu hari, rumah sakit bisa kedodoran karena melonjaknya jumlah pasien Covid-19 yang mesti dirawat.

Peluang itu bukannya mustahil, ujar Novarita, semisal rumah sakit mengalami overkapasitas dan tenaga kesehatan yang ada tak cukup untuk melayani banjirnya pasien Covid-19 yang berdatangan ke rumah sakit.

“Memang, memang (seperti bom waktu). Itu yang kadang sedih juga. Apalagi upaya yang harus dikerjakan? Menyiapkan tempat tidur di rumah sakit, sudah maksimal menurut saya. Tenaga kesehatannya juga sudah kerja maksimal banget, tapi warganya enggak (peduli),” ungkapnya.

“Mau menyiapkan berapa rumah sakit yang harus dibuka? Siapa juga (tenaga kesehatan) yang mau kerja nantinya kalau sebanyak itu?” tuntas Novarita.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria Ini Malah Curi Sepeda Motor Orang yang Tawari Dia Pekerjaan

Pria Ini Malah Curi Sepeda Motor Orang yang Tawari Dia Pekerjaan

Megapolitan
Pedagang Daging Sapi di Pasar Kranji Kembali Berjualan, Harga Dipatok Rp 125.000 Per Kg

Pedagang Daging Sapi di Pasar Kranji Kembali Berjualan, Harga Dipatok Rp 125.000 Per Kg

Megapolitan
Wagub DKI : Krisis Lahan Pemakaman Bukan Hanya Terjadi di Jakarta

Wagub DKI : Krisis Lahan Pemakaman Bukan Hanya Terjadi di Jakarta

Megapolitan
Bertambah 2, Ini Daftar 49 Korban Sriwijaya Air SJ 182 yang Sudah Teridentifikasi

Bertambah 2, Ini Daftar 49 Korban Sriwijaya Air SJ 182 yang Sudah Teridentifikasi

Megapolitan
Banyak Pasien Covid-19 Melapor Sulit Dapatkan RS

Banyak Pasien Covid-19 Melapor Sulit Dapatkan RS

Megapolitan
Ditlantas Polda Metro Jaya Akan Tambah 50 Kamera Tilang Elektronik di Jakarta

Ditlantas Polda Metro Jaya Akan Tambah 50 Kamera Tilang Elektronik di Jakarta

Megapolitan
[Update 22 Januari]: Kasus Baru Covid-19 di Tangsel Bertambah 117

[Update 22 Januari]: Kasus Baru Covid-19 di Tangsel Bertambah 117

Megapolitan
DPD APDI Jakarta Tak Akan Larang Pedagang Daging Sapi Berjualan

DPD APDI Jakarta Tak Akan Larang Pedagang Daging Sapi Berjualan

Megapolitan
70 Persen Pedagang Daging Sapi di Jakarta Disebut Masih Mogok Besok

70 Persen Pedagang Daging Sapi di Jakarta Disebut Masih Mogok Besok

Megapolitan
Sekda DKI Rangkap Jabatan, Wagub DKI Bilang Tentukan Pejabat Ada Mekanismenya

Sekda DKI Rangkap Jabatan, Wagub DKI Bilang Tentukan Pejabat Ada Mekanismenya

Megapolitan
Pemkot Bogor Masih Pertimbangkan Jenis Sanksi untuk RS Ummi

Pemkot Bogor Masih Pertimbangkan Jenis Sanksi untuk RS Ummi

Megapolitan
Tiga Rumah Hangus Terbakar di Kalibata

Tiga Rumah Hangus Terbakar di Kalibata

Megapolitan
Inspeksi ke Simpang Lima Senen, Anies Berfoto Bareng Ojol

Inspeksi ke Simpang Lima Senen, Anies Berfoto Bareng Ojol

Megapolitan
Bima Arya Bilang Belum Paham dengan Usulan Anies agar Pusat Ambil Alih Koordinasi Penanganan Covid-19 di Jabodetabek

Bima Arya Bilang Belum Paham dengan Usulan Anies agar Pusat Ambil Alih Koordinasi Penanganan Covid-19 di Jabodetabek

Megapolitan
Jakarta Catat Pertambahan Tertinggi Covid-19, Hari Ini Tambah 3.792 Kasus

Jakarta Catat Pertambahan Tertinggi Covid-19, Hari Ini Tambah 3.792 Kasus

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X