Ada Jejak Prajurit Parahyangan di Balik Nama Kawasan Karawaci di Kota Tangerang

Kompas.com - 21/08/2020, 18:50 WIB
Sungai Cisadane membelah Kota Tangerang dilihat dari Jembatan Berendeng Kecamatan Tangerang Kota Tangerang, Jumat (6/3/2020) KOMPAS.com/SINGGIH WIRYONOSungai Cisadane membelah Kota Tangerang dilihat dari Jembatan Berendeng Kecamatan Tangerang Kota Tangerang, Jumat (6/3/2020)

TANGERANG, KOMPAS.com - Tidak banyak orang yang tahu asal muasal nama karawaci untuk kawasan yang kini menjadi sebuah kecamatan di sebelah barat Sungai Cisadane yang membelah Kota Tangerang.

Burhanuddin dalam buku Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang menulis, Kecamatan Karawaci dengan 16 kelurahan tersebut memiliki asal-usul nama yang sarat dengan perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Menurut dia, Karawaci berasal dari dua kata, yaitu kurawa yang berarti prajurit atau tentara, dan kata ci atau cai yang berart air.

"Dahulu daerah Karawaci adalah pertahanan prajurit Parahyang dalam melawan kolonial Belanda. Jika Belanda benteng(-nya) berada di Benteng Makassar pada bagian timur, maka kaum pribumi membut benteng di bagian barat dengan pagar ending (gerendeng)," tulis Burhanuddin.

Baca juga: Fakta Tabrakan Maut di Karawaci, Pelaku Mabuk hingga Aniaya Istri Korban

Sejarah nama Karawaci sendiri tertulis di dalam kitab sejarah Sunda berjudul Tina Layang Parahiyang yang artinya catatan dari Parahyangan.

Burhanuddin menulis, keberadaan Karawaci erat kaitannya dengan terbentuknya kampung Teluk Naga di bagian utara pesisir Cisadane.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sekitar tahun 1407, wilayah Tangerang masih dikuasai Kerajaan Parahyangan dengan kepala pemerintahan Sanghyang Anggalarang.

Saat itu tiba rombongan orang-orang Tionghoa di daerah itu. Mereka diberi tanah di bagian pesisir yang kini disebut dengan kampung Teluk Naga.

Tahun 1740, gelombang kedua pengungsian orang-orang etnis Tionghoa ke Tangerang kembali terjadi. Pengungsian itu terkait dengan pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia oleh Belanda.

Mereka yang selamat dari pembantaian tinggal di daerah Kali Pasir, hidup berdampingan dengan orang-orang Makassar yang dikirim untuk menjaga benteng Belanda di sisi barat sungai Cisadane.

Cisadane menjadi saksi bagaimana kokohnya lini pertahanan kurawa cai dalam mempertahankan wilayah Kerajaan Parahyangan sehingga Batavia tidak pernah melewati batas kekuasaannya, yaitu Sungai Cisadane.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ganjil Genap Berlaku di Margonda, Kemacetan Terjadi Mulai dari ITC Depok

Ganjil Genap Berlaku di Margonda, Kemacetan Terjadi Mulai dari ITC Depok

Megapolitan
Hendak Kirim 254 Kilogram Ganja ke Jawa, 5 Orang Ditangkap di Trans Sumatera

Hendak Kirim 254 Kilogram Ganja ke Jawa, 5 Orang Ditangkap di Trans Sumatera

Megapolitan
Ganjil Genap di Margonda Kembali Diberlakukan Hari Ini

Ganjil Genap di Margonda Kembali Diberlakukan Hari Ini

Megapolitan
Ketakutan Penumpang Setelah Rentetan Kecelakaan Menimpa Transjakarta

Ketakutan Penumpang Setelah Rentetan Kecelakaan Menimpa Transjakarta

Megapolitan
Diduga Korsleting Listrik, Motor Bak Terbuka Terbakar di Pondok Indah

Diduga Korsleting Listrik, Motor Bak Terbuka Terbakar di Pondok Indah

Megapolitan
Saat Terduga Pelaku Penganiayaan Nicholas Sean Bebas dari Jerat Hukum, tapi Korban Terancam

Saat Terduga Pelaku Penganiayaan Nicholas Sean Bebas dari Jerat Hukum, tapi Korban Terancam

Megapolitan
Kecelakaan Berulang Transjakarta Berujung Penghentian Sementara 2 Operator Bus

Kecelakaan Berulang Transjakarta Berujung Penghentian Sementara 2 Operator Bus

Megapolitan
UPDATE 4 Desember: 2 Kasus Baru Covid-19 di Tangsel, 39 Pasien Masih Dirawat

UPDATE 4 Desember: 2 Kasus Baru Covid-19 di Tangsel, 39 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
UPDATE 4 Desember: Tambah 2 Kasus di Kota Tangerang, 17 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE 4 Desember: Tambah 2 Kasus di Kota Tangerang, 17 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
Uji Coba Ganjil Genap di Depok, Enam Titik Pemeriksaan Disiapkan

Uji Coba Ganjil Genap di Depok, Enam Titik Pemeriksaan Disiapkan

Megapolitan
Saat Uji Coba Sistem Ganjil Genap di Depok Timbulkan Kemacetan Panjang

Saat Uji Coba Sistem Ganjil Genap di Depok Timbulkan Kemacetan Panjang

Megapolitan
Dinkes Tangsel Andalkan Kader Jumantik buat Tekan Kasus DBD

Dinkes Tangsel Andalkan Kader Jumantik buat Tekan Kasus DBD

Megapolitan
Besok, Ganjil Genap di Margonda Depok Kembali Berlaku

Besok, Ganjil Genap di Margonda Depok Kembali Berlaku

Megapolitan
Polisi Hentikan Kasus Dugaan Penganiayaan Selebgram Ayu Thalia oleh Nicholas Sean

Polisi Hentikan Kasus Dugaan Penganiayaan Selebgram Ayu Thalia oleh Nicholas Sean

Megapolitan
Seorang Remaja Tewas Saat Berenang di Pelabuhan Sunda Kelapa Saat Banjir Rob

Seorang Remaja Tewas Saat Berenang di Pelabuhan Sunda Kelapa Saat Banjir Rob

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.