Kompas.com - 09/10/2020, 15:21 WIB
Suasana bentrok antara Pelajar dan Polisi di Kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2020) KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana bentrok antara Pelajar dan Polisi di Kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2020)

JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga orang pers mahasiswa Gema PNJ (Politeknik Negeri Jakarta) yang hilang pada Kamis (8/10/2020) kemarin, saat meliput demonstrasi tolak Undang-Undang Cipta Kerja di Istana Merdeka, rupanya ditangkap polisi tanpa dasar hukum.

Saat ini, mereka bertiga masih ditahan di Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya bersama empat jurnalis lain yang juga ditangkap sepihak, kendati mereka berstatus sebagai pers dan telah ditahan lebih dari 24 jam.

"Mereka ditangkap itu saat baru akan melakukan liputan. Terakhir mereka cuma sempat melakukan live report saja (soal) suasana Istana Merdeka yang masih sepi dari massa. Setelah itu kita langsung kehilangan kontak mereka," ujar Redaktur Pelaksana Gema PNJ Indah Sholihati kepada Kompas.com, Jumat (9/10/2020) siang.

"Mereka ditahan tanpa adanya surat penangkapan yang jelas. Cuma ditanya, 'Kamu pers ya? Kamu mahasiswa ya?'. Jadi, cuma karena status mereka mahasiswa, mereka dikira demonstran, bagian dari aksi," jelasnya.

Baca juga: Hilang Saat Liput Demo, 3 Mahasiswa Wartawan Gema PNJ Ternyata Ditangkap Polisi

Saat ditangkap, ketiga mahasiswa wartawan itu sudah menjelaskan bahwa mereka pers, dengan menunjukkan kartu identitas pers. Mereka juga mengenakan seragam media mereka kala itu.

Namun, polisi tetap menahan mereka tanpa dasar hukum, kemudian mengumpulkan mereka dengan demonstran lain yang juga ditahan polisi.

"Mereka dikumpulkan di lapangan parkir Monas terlebih dahulu, lalu mereka mengabarkan kalau mereka dibawa ke Polda Metro Jaya. Dikumpulkan di satu unit tahanan yang sama dengan para demonstran," ujar Indah.

Baca juga: Liput Demo Omnibus Law, 3 Mahasiswa Wartawan GEMA PNJ Hilang Sejak Siang

Kuasa hukum tiga orang bersangkutan, Kumalasari dari LBH Pers, mengaku masih berupaya membebaskan tiga pers mahasiswa tersebut dari tahanan.

Selain cacat secara prosedur karena sudah ditahan lebih dari 24 jam dan tanpa dasar hukum, penahanan ketiganya juga melanggar Undang-Undang, sebab mereka adalah pers yang sedang melakukan pekerjaan jurnalistik.

Polisi disebut ingin mendata mereka terlebih dulu sebelum dilepaskan.

"Bukan soal pendataan. Untuk didata dan ditahan pun harus ada dasar, apa dasarnya? Kan tidak bisa orang main ditahan begitu toh? Mereka tetap bilang tidak bisa (dibebaskan)," ujarnya ketika dihubungi Kompas.com, Jumat.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadwal Buka Puasa dan Shalat Maghrib di Jakarta Hari Ini, 14 April 2021

Jadwal Buka Puasa dan Shalat Maghrib di Jakarta Hari Ini, 14 April 2021

Megapolitan
Aturan Buka Puasa di KRL Selama Ramadhan 2021

Aturan Buka Puasa di KRL Selama Ramadhan 2021

Megapolitan
Pemprov DKI Jakarta Kejar Target Vaksinasi Lansia, Jemput Bola hingga Pendamping Juga Disuntik Vaksin

Pemprov DKI Jakarta Kejar Target Vaksinasi Lansia, Jemput Bola hingga Pendamping Juga Disuntik Vaksin

Megapolitan
Kubu Rizieq Shihab Akan Hadirkan Saksi untuk Klarifikasi Ganti Rugi Kerusakan Fasilitas di Bandara Soekarno-Hatta

Kubu Rizieq Shihab Akan Hadirkan Saksi untuk Klarifikasi Ganti Rugi Kerusakan Fasilitas di Bandara Soekarno-Hatta

Megapolitan
Babak Baru Rencana Revitalisasi Tugu Pamulang: Desain Segera Dibahas hingga Penutupan

Babak Baru Rencana Revitalisasi Tugu Pamulang: Desain Segera Dibahas hingga Penutupan

Megapolitan
Kisah Pedagang Blok C Pasar Minggu, 400 Ayam Dagangan Mati Terbakar

Kisah Pedagang Blok C Pasar Minggu, 400 Ayam Dagangan Mati Terbakar

Megapolitan
Kebakaran Blok C Pasar Minggu, 1.000 Unggas Milik Pedagang Diperkirakan Mati

Kebakaran Blok C Pasar Minggu, 1.000 Unggas Milik Pedagang Diperkirakan Mati

Megapolitan
Nasib Sandi, Protes Dugaan Korupsi Dinas Damkar Depok Berujung Diancam Pemecatan

Nasib Sandi, Protes Dugaan Korupsi Dinas Damkar Depok Berujung Diancam Pemecatan

Megapolitan
Polres Depok Didesak Serius Usut Kasus Biarawan yang Diduga Cabuli Anak-anak Panti

Polres Depok Didesak Serius Usut Kasus Biarawan yang Diduga Cabuli Anak-anak Panti

Megapolitan
UPDATE 13 April: 222 Pasien Covid-19 di Kota Tangerang Masih Dirawat

UPDATE 13 April: 222 Pasien Covid-19 di Kota Tangerang Masih Dirawat

Megapolitan
Gratis, Buku Nikah Hilang atau Rusak Bisa Diurus di KUA

Gratis, Buku Nikah Hilang atau Rusak Bisa Diurus di KUA

Megapolitan
Polres Depok Lanjutkan Kasus Bruder Angelo, Biarawan yang Diduga Cabuli Anak-anak Panti

Polres Depok Lanjutkan Kasus Bruder Angelo, Biarawan yang Diduga Cabuli Anak-anak Panti

Megapolitan
UPDATE 13 April: Kota Bekasi Catat 304 Kasus Baru Covid-19, 4 Pasien Wafat

UPDATE 13 April: Kota Bekasi Catat 304 Kasus Baru Covid-19, 4 Pasien Wafat

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Rizieq Shihab Aktif Cecar Saksi Jaksa | Menengok Rumah Menlu Pertama RI Achmad Soebardjo

[POPULER JABODETABEK] Rizieq Shihab Aktif Cecar Saksi Jaksa | Menengok Rumah Menlu Pertama RI Achmad Soebardjo

Megapolitan
UPDATE 13 April: Depok Catat 198 Kasus Baru Covid-19

UPDATE 13 April: Depok Catat 198 Kasus Baru Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X